Konektivitas internet dan literasi digital masyarakat Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif, dengan semakin banyak masyarakat yang cakap dan terbiasa memanfaatkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Data terkini yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia melalui Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 memberikan gambaran komprehensif tentang kemajuan ini. Meskipun masih terdapat tantangan, terutama dalam pemerataan akses dan literasi, tren menuju masyarakat digital yang lebih inklusif semakin menguat.
Perkembangan Koneksi Digital di Wilayah Timur Indonesia
Salah satu indikasi nyata dari perkembangan konektivitas adalah masuknya transaksi pembayaran digital berbasis QR Code Indonesia Standard (QRIS) ke wilayah Indonesia Timur, khususnya di Kota dan Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. QRIS yang dipopulerkan Bank Indonesia sudah digunakan tidak hanya di minimarket besar, tetapi juga oleh pedagang kaki lima dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Masyarakat lokal, terutama generasi muda dan pekerja, semakin memilih metode pembayaran digital karena kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan.
Menurut Desi Sentuf, seorang warga Kabupaten Sorong, jaringan internet di daerah tersebut sudah cukup memadai dengan cakupan jaringan 4G yang memungkinkan akses Zoom meeting, media sosial, dan browsing internet. Meski demikian, masih ada tantangan terkait kestabilan sinyal di beberapa daerah, sehingga tidak semua wilayah bisa mendapatkan akses internet yang optimal.
Di Nusa Tenggara Timur, kondisi serupa juga terjadi. Faustinus Nua, warga Bajawa, menyampaikan bahwa konektivitas internet di pusat-pusat kota relatif baik, namun di daerah perkampungan masih sering terjadi gangguan sinyal. Menariknya, penggunaan layanan internet satelit mulai banyak diminati, khususnya oleh kantor pemerintahan dan fasilitas publik, sebagai solusi untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses oleh infrastruktur seluler konvensional.
Hasil Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025
IMDI 2025 mencatat peningkatan skor rata-rata dari tahun sebelumnya, yakni mencapai 44,53 dari skala 100, naik 1,19 poin dari angka 43,34 pada 2024. Indeks ini mengukur empat pilar utama: infrastruktur dan ekosistem, literasi digital, pemberdayaan, dan pekerjaan digital. Pilar infrastruktur dan ekosistem menjadi yang tertinggi dengan nilai 53,06, menunjukkan bahwa akses jaringan sudah mulai merata dan mengarah pada kemudahan dalam pemanfaatan layanan digital.
Namun, nilai literasi digital mengalami penurunan menjadi 49,28, dari sebelumnya 58,25, mengindikasikan perlunya peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola teknologi digital secara aman dan efektif. Pilar pemberdayaan juga menunjukkan kenaikan signifikan dari 25,66 menjadi 34,33, mencerminkan percepatan dalam kemampuan masyarakat mengoptimalkan teknologi untuk aktivitas produktif dan ekonomi. Pilar pekerjaan digital juga meningkat dari 38,09 menjadi 42,91, menandakan bahwa penggunaan teknologi turut mendukung perubahan pola kerja dan peluang usaha.
Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, Meutya Hafid, data IMDI 2025 ini bukan sekadar statistik, melainkan alat utama dalam membentuk kebijakan berbasis bukti yang dapat mempercepat pencapaian visi digital pemerintah menuju 2045.
Tantangan dan Harapan di Lapangan
Meskipun pencapaian di level nasional dan regional cukup positif, praktik di lapangan masih menyisakan beberapa tantangan. Infrastruktur di beberapa daerah terutama di pelosok dan perkampungan belum merata, sehingga akses internet masih menjadi problem utama. Selain itu, literasi digital yang mencakup kewaspadaan terhadap hoaks dan keamanan data pribadi masih perlu digalakkan lebih masif.
Desi Sentuf mengungkapkan bahwa pendidikan literasi digital saat ini masih minim di daerahnya, Papua Barat Daya, sehingga pemerintah diharapkan dapat menyediakan lebih banyak pelatihan dan edukasi guna meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pemanfaatan teknologi digital secara benar dan aman.
Faustinus Nua menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi internet berbasis satelit dapat menjadi solusi strategis untuk mengatasi kendala geografis yang sulit dijangkau oleh infrastruktur seluler konvensional, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur. Dengan demikian, harapan terbesar adalah agar pemerataan konektivitas internet bisa lebih optimal, tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan dan daerah terpencil.
Peningkatan Literasi Digital untuk Mendorong Transformasi Digital
Fokus pemerintah dan berbagai pihak terkait selanjutnya adalah mengintegrasikan teknologi dengan inisiatif peningkatan literasi digital yang masif dan inklusif. Program pelatihan literasi digital di wilayah Indonesia Timur mulai diterapkan, namun perlu diperluas cakupannya agar menjangkau lebih banyak masyarakat dan mendorong produktivitas yang berbasis teknologi.
Data dari IMDI memperlihatkan bahwa peningkatan infrastruktur dan ekosistem harus diimbangi dengan usaha pemberdayaan dan pendidikan literasi agar pemanfaatan teknologi digital bisa memberikan dampak positif yang lebih signifikan pada masyarakat. Pendekatan ini juga sesuai dengan komitmen pemerintah untuk mendorong ekonomi digital agar tetap inklusif dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, perkembangan koneksi dan literasi digital yang berjalan paralel menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin cakap dalam menggunakan teknologi digital. Hal ini sekaligus membuka peluang lebih luas bagi perkembangan usaha, pendidikan, dan layanan publik berbasis digital di masa depan, seiring dengan misi transformasi digital nasional yang tengah digalakkan menuju Indonesia digital 2045.
Source: mediaindonesia.com






