Komdigi Akui Kualitas Internet Indonesia Kalah Jauh dari Malaysia, Ini Penyebabnya

Shopee Flash Sale

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, mengakui bahwa kualitas layanan internet di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia. Hal ini terlihat jelas dari cakupan jaringan 5G yang saat ini baru menjangkau kurang dari 10 persen wilayah Indonesia, sementara Malaysia telah mencapai cakupan hingga 80 persen.

Dalam acara Empowering Indonesia Report 2025 yang berlangsung di Kantor Indosat Ooredoo Hutchison pada Senin (27/10/2025), Nezar menyampaikan fakta tersebut secara terbuka. Ia menekankan bahwa meskipun perkembangan teknologi sudah ada, penetrasi dan kualitas internet di Indonesia masih harus ditingkatkan secara signifikan agar dapat bersaing dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.

Cakupan Jaringan 5G yang Masih Terbatas

Nezar menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki cakupan jaringan 5G kurang dari 10 persen dari keseluruhan wilayah negara. Sebaliknya, Malaysia sudah menyentuh angka cakupan 80 persen untuk jaringan 5G. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di tahap awal pengembangan infrastruktur generasi kelima teknologi telekomunikasi.

"Jika kita bandingkan dengan Malaysia, Malaysia sudah 80 persen, kita mungkin kurang dari 10 persen untuk jaringan 5G," ungkap Nezar. Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan penyedia layanan internet di Indonesia untuk mempercepat perluasan jaringan.

Kecepatan Internet yang Masih Perlu Ditingkatkan

Selain cakupan jaringan, kecepatan internet di Indonesia juga menjadi salah satu perhatian utama. Saat ini, kecepatan internet rata-rata di Indonesia hanya mencapai 39,7 Mbps, jauh di bawah ambang rata-rata global dan target percepatan teknologi digital yang diinginkan. Nezar mengakui bahwa angka tersebut masih jauh dari harapan untuk mendukung kebutuhan akses data yang semakin tinggi di era digital saat ini.

"Kecepatan internet masih harus terus ditingkatkan, memang masih belum sampai kepada 100 Mbps, masih sekitar 39,7 Mbps," ujarnya. Kecepatan ini perlu diperbaiki agar pengguna internet di Indonesia dapat mengakses layanan digital secara optimal dan bersaing di tingkat global maupun regional.

Penetrasi Internet dan Konektivitas di Indonesia

Meski demikian, pemerintah mengklaim telah membuat kemajuan signifikan dalam hal konektivitas jaringan di Indonesia. Menurut Nezar, jaringan internet sudah menjangkau sekitar 97 persen wilayah perumahan di Tanah Air. Penetrasi internet secara keseluruhan sudah mencapai 80 persen, meskipun masih ada sekitar 20 persen penduduk di daerah tertentu yang belum mendapatkan akses internet.

Hal ini menandakan upaya pemerintah dalam memperluas akses digital ke berbagai pelosok tanah air, meskipun tantangan geografis dan infrastruktur masih menjadi kendala utama.

Target Pemerintah untuk Perluasan Jaringan 5G

Untuk mengatasi ketertinggalan tersebut, pemerintah berencana untuk memperluas jaringan 5G agar bisa menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia dalam lima tahun ke depan. Menurut Nezar, target yang dicanangkan adalah agar cakupan jaringan 5G mencapai minimal 32 persen wilayah pada tahun 2030.

"Pemerintah mencanangkan 32 persen setidaknya jaringan 5G itu bisa tersambung hingga tahun 2030," jelas Nezar. Hal ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan kualitas layanan internet, dan mendukung transformasi digital di berbagai sektor ekonomi dan sosial.

Tantangan dan Peluang Pengembangan Internet di Indonesia

Pengembangan jaringan 5G dan peningkatan kecepatan internet di Indonesia tidak hanya menjadi persoalan teknis, tetapi juga terkait regulasi, investasi, dan kesiapan infrastruktur di daerah-daerah terpencil. Selain itu, kerja sama antara pemerintah, operator telekomunikasi, dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk mempercepat akselerasi digital nasional.

Dengan penetrasi internet yang semakin meluas dan target perluasan 5G yang ambisius, Indonesia diharapkan dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga seperti Malaysia. Upaya ini diperlukan agar masyarakat dan industri dalam negeri bisa merasakan manfaat teknologi digital secara maksimal dan meningkatkan daya saing di era ekonomi digital global.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button