Amerika Serikat dan China akhirnya menyepakati kesepakatan final terkait masa depan aplikasi TikTok di wilayah Amerika Serikat. Kesepakatan ini dianggap sebagai titik balik dari ketegangan digital dan geopolitik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.
Menurut Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, penandatanganan resmi akan dilakukan pada tanggal 30 Oktober 2025 di Korea. Proses ini menandai akhir dari negosiasi panjang yang dipimpin oleh berbagai pihak dalam rangka memastikan keamanan dan kelangsungan operasional TikTok di AS.
Peran Donald Trump dalam Negosiasi
Presiden Donald Trump memegang peranan penting dalam tercapainya kesepakatan ini. Sejak masa jabatannya, Trump telah menyoroti TikTok sebagai ancaman keamanan nasional karena asal-usulnya dari China. Ia turun langsung dalam sejumlah tahapan pembicaraan dan menandatangani perintah eksekutif yang mengatur struktur kepemilikan baru TikTok di AS.
Perintah tersebut mengatur bahwa operasional TikTok di Amerika akan berada di bawah pengawasan dewan direksi yang mayoritas anggotanya berasal dari pihak AS. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk meminimalisir risiko keamanan dan pengaruh asing terhadap platform populer itu.
Oracle dan Investor Besar AS
Salah satu poin kunci dalam kesepakatan adalah keterlibatan Oracle Corporation sebagai pengelola utama aspek keamanan dan infrastruktur teknologi TikTok di AS. Oracle bertugas mengelola algoritma rekomendasi konten, pengawasan kode sumber, serta moderasi dan transparansi konten yang beredar di platform.
Selain Oracle, sejumlah investor besar asal AS turut dilibatkan dalam struktur kepemilikan baru TikTok. Mereka antara lain adalah Fox Corporation, Andreessen Horowitz, dan Silver Lake Management. Keterlibatan Fox Corporation bahkan dikonfirmasi langsung oleh Trump, yang menunjukkan betapa pentingnya peran investor domestik dalam kesepakatan ini.
Persetujuan China dan Implikasinya
Salah satu tantangan utama dalam proses kesepakatan ini adalah mendapatkan persetujuan dari pemerintah China. Beijing sebelumnya menolak keras upaya pemisahan paksa TikTok dari ByteDance. Namun, dalam dua hari terakhir negosiasi, pihak China akhirnya memberikan persetujuan yang memungkinkan transaksi berjalan.
Menurut Bessent, keberhasilan mendapatkan lampu hijau dari China menjadi langkah krusial agar kesepakatan dapat dijalankan tanpa menimbulkan ketegangan baru. Kesepakatan ini juga mengiringi pembicaraan mengenai peraturan tarif dan isu perdagangan lainnya antara AS dan China yang berlangsung di Kuala Lumpur.
Dampak Terhadap Regulasi Teknologi Global
Langkah AS mengatur ulang kepemilikan TikTok dipandang sebagai model baru regulasi teknologi global. Jika berhasil, pendekatan ini dapat menjadi contoh bagi negara lain untuk melindungi data dan kedaulatan digital warganya. TikTok sendiri yang memiliki lebih dari 170 juta pengguna aktif di AS kini berpeluang untuk beroperasi lebih lancar dengan struktur yang lebih kompatibel dengan kepentingan politik Amerika.
Tantangan Bagi TikTok dan ByteDance
Untuk ByteDance, kesepakatan ini berarti kompromi penting agar TikTok tetap bertahan di pasar AS, salah satu pasar digital terbesar di dunia. Namun, para analis mengingatkan bahwa pemisahan algoritma dan infrastruktur antara versi TikTok Amerika dan versi internasional dapat menimbulkan perbedaan signifikan.
Perbedaan ini berpotensi mempengaruhi performa keseluruhan TikTok, termasuk pengalaman pengguna dan keamanan data. Manajemen yang baik terhadap perbedaan sistem ini menjadi kunci agar TikTok mampu mempertahankan posisi dan popularitasnya di kedua pasar tersebut.







