Hewan Ikonik Pegunungan Rocky Terancam Punah, Kata Peneliti: Penyebab dan Dampaknya

Populasi pika Amerika di Pegunungan Rocky, Colorado, dilaporkan mengalami penurunan signifikan khususnya pada generasi muda. Peneliti dari Universitas Colorado Boulder menemukan bahwa jumlah pika muda yang lahir atau bermigrasi ke wilayah tersebut kini sangat sedikit dibandingkan dengan masa lalu.

Pika Amerika (Ochotona princeps) adalah mamalia kecil berbulu yang terkenal dengan suara khasnya di jalur pegunungan Alpen. Studi ini dilakukan pada area seluas 16 kilometer di selatan Taman Nasional Rocky Mountain, yang dikenal sebagai habitat alami pika. Data survei mengindikasikan bahwa mayoritas populasi saat ini didominasi oleh individu dewasa tua.

Chris Ray, penulis studi dan peneliti di Institute of Arctic and Alpine Research (INSTAAR), menjelaskan bahwa masyarakat pecinta alam mungkin akan kehilangan salah satu ikon pegunungan Rocky jika hewan ini menghilang. Penurunan ini diduga kuat dipengaruhi oleh perubahan iklim yang menyebabkan suhu di Pegunungan Rocky semakin meningkat.

Para peneliti menggunakan data panjang waktu untuk memantau populasi pika dari era 1980-an hingga sekarang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat “rekrutmen” atau kelahiran dan migrasi pika muda menurun sekitar 50 persen sejak periode tersebut. Hal ini menjadi sinyal peringatan serius bagi kelangsungan hidup hewan tersebut di kawasan itu.

Pika hidup di habitat yang disebut talus, yaitu tumpukan batu besar di lereng gunung yang menyediakan tempat berlindung alami dari panas berlebih. Habitat ini juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan, khususnya dalam penyimpanan dan pelepasan air. Charles Southwick, yang melakukan studi awal pada 1980-an, membuka jalan bagi penelitian lanjutan yang kini dilakukan oleh Chris Ray dan tim.

Peningkatan suhu musim panas di Pegunungan Rocky mengancam kelangsungan hidup pika karena hewan ini hanya dapat bertahan pada rentang suhu yang sempit. Pika tidak memiliki mekanisme pendinginan tubuh seperti berkeringat atau bernapas dengan cepat. Mereka harus mencari tempat yang lebih dingin di antara batu-batu untuk mengeluarkan panas hasil metabolisme tubuhnya.

Menurut Ray, kesulitan terbesar yang dihadapi pika muda adalah migrasi antar habitat pegunungan. Untuk berpindah, mereka harus menuruni ketinggian dan melewati area dengan suhu yang jauh lebih panas. Kondisi ini berpotensi membatasi pergerakan dan perluasan wilayah populasi mereka.

Peneliti masih belum dapat memastikan hingga sejauh mana fenomena penurunan populasi ini meluas ke kawasan Pegunungan Rocky lainnya. Namun, mereka sepakat bahwa perubahan iklim yang semakin ekstrim berpotensi memperburuk kondisi pika di masa depan.

Selain sebagai bagian dari keragaman hayati pegunungan, pika juga berperan penting sebagai indikator perubahan lingkungan. Kehadiran mereka mencerminkan kesehatan ekosistem alpine yang menyediakan sumber air dan habitat bagi berbagai spesies lain.

Penurunan populasi pika menjadi perhatian serius karena berdampak pada fungsi ekologis pegunungan. Jika pika Amerika terus menurun dan akhirnya menghilang, konsekuensinya tidak hanya kehilangan keanekaragaman hayati tetapi juga terganggunya keseimbangan alam yang selama ini mendukung kehidupan manusia di sekitar wilayah Pegunungan Rocky.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com

Terkait