Perencanaan keuangan menjadi kunci agar kondisi finansial tetap sehat menghadapi ketidakpastian ekonomi di tahun 2026. Banyak orang mulai menetapkan target keuangan awal tahun sebagai langkah untuk mengelola pemasukan dan pengeluaran secara lebih terstruktur.
Tanpa perencanaan, keuangan rentan mengalami gangguan terutama bila ada pengeluaran tak terduga yang muncul di tengah pendapatan yang terbatas. Oleh karena itu, penting menyusun strategi pengelolaan keuangan yang jelas dan konsisten guna mencapai tujuan finansial jangka pendek maupun panjang.
1. Evaluasi Kondisi Keuangan Saat Ini
Langkah pertama adalah mencatat dan mengevaluasi semua pemasukan serta pengeluaran, termasuk pengeluaran rutin kecil seperti membeli kopi harian. Meski terlihat sepele, pengeluaran kecil yang rutin dapat menjadi beban besar jika tidak diwaspadai. Penting juga mengidentifikasi aset dan liabilitas agar posisi keuangan dapat diketahui secara menyeluruh.
Evaluasi menyeluruh ini membantu menentukan aspek mana yang perlu diperbaiki atau diperkuat. Dengan pemahaman kondisi keuangan yang akurat, kita bisa membuat keputusan yang lebih tepat mengenai pengelolaan dana.
2. Tetapkan Tujuan Keuangan yang Spesifik dan Terukur
Setelah evaluasi, susun tujuan keuangan yang jelas dan dapat diukur secara realistis. Penetapan tujuan ini penting untuk mempermudah pengalokasian dana serta menentukan prioritas pengeluaran. Jika memiliki beberapa target finansial, buatlah detail perencanaan agar fokus dan sumber daya bisa dialokasikan secara optimal.
Tujuan keuangan yang terperinci akan membantu mengukur kemampuan finansial dan menyesuaikan strategi investasi maupun tabungan sesuai kebutuhan.
3. Menyusun Anggaran Keuangan dengan Konsisten
Membuat anggaran merupakan kunci untuk mengontrol pengeluaran dan memastikan dana dialokasikan sesuai target. Metode anggaran 50/30/20 bisa dijadikan panduan sederhana, di mana 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi.
Pengelolaan anggaran yang konsisten menghindarkan dari utang konsumtif yang tidak produktif. Utang yang disarankan adalah untuk kebutuhan produktif, seperti KPR, dengan cicilan maksimal 30% dari penghasilan.
4. Kembangkan Aset dan Pilih Instrumen Keuangan yang Tepat
Mengandalkan pendapatan saja tidak cukup menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Oleh sebab itu, penting mengembangkan aset agar nilainya tumbuh dan dapat memenuhi tujuan jangka panjang.
Pemilihan instrumen investasi harus disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu tujuan keuangan. Untuk tujuan jangka pendek, deposito atau obligasi pemerintah bisa menjadi pilihan. Sementara tujuan jangka panjang dapat mempertimbangkan reksadana saham atau saham yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih tinggi.
5. Lindungi Finansial dengan Asuransi yang Memadai
Setiap rencana keuangan pasti menghadapi risiko yang tidak bisa diprediksi. Oleh karena itu, proteksi keuangan melalui asuransi sangat diperlukan agar kondisi finansial tidak terganggu saat menghadapi risiko tak terduga.
Jika belum memilikinya, tahun ini adalah waktu tepat mengintegrasikan asuransi dalam pengelolaan keuangan. Alokasikan minimal 10% dari penghasilan sebagai perlindungan untuk memberikan rasa aman finansial.
Menerapkan lima langkah tersebut secara disiplin dapat membantu membangun kondisi keuangan yang lebih sehat sepanjang tahun 2026. Perencanaan keuangan yang matang akan memberikan arah dan strategi yang jelas untuk memenuhi kebutuhan dan melindungi aset dengan lebih baik.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com