Pergerakan IHSG dan Rupiah di Awal 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren positif menjelang awal tahun 2026 dengan posisi penutupan di level 8.944,80 pada 7 Januari. Angka ini hampir menyentuh level psikologis 9.000, menandakan optimisme investor di pasar saham domestik.
Namun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan dengan pelemahan sebesar 22 poin atau 0,13%, berakhir di angka Rp16.780 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang berbeda antara aset saham dan mata uang.
Faktor Penyebab Divergensi IHSG dan Rupiah
Menurut Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, kenaikan IHSG tidak selalu diikuti oleh penguatan rupiah karena keduanya dipengaruhi oleh mekanisme pasar yang berbeda. Penguatan IHSG dapat berasal dari dana domestik seperti alokasi dana pensiun dan asuransi ke instrumen saham saat imbal hasil instrumen pendapatan tetap menurun. Perpindahan dana dari instrumen domestik ini tidak otomatis meningkatkan permintaan valuta asing sehingga rupiah tetap tertekan.
Sebaliknya, nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing secara menyeluruh. Faktor seperti pembayaran impor, cicilan utang luar negeri, repatriasi laba perusahaan asing, serta ekspektasi pasar terhadap defisit transaksi berjalan dan fiskal sangat menentukan pergerakan rupiah.
Prediksi Tekanan Rupiah di Kuartal Pertama 2026
Josua memperkirakan tekanan pelemahan moderat pada rupiah akan berlanjut pada awal 2026. Rentang pergerakan rupiah diperkirakan sekitar Rp16.725 hingga Rp16.825 per dolar AS dalam tiga bulan ke depan. Ketidakpastian global dan kekhawatiran terhadap defisit kembar menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah.
Perubahan musiman dan guncangan eksternal juga berkontribusi terhadap pergerakan rupiah yang tidak sejalan dengan IHSG. Contohnya, pada Desember 2025 rupiah sempat menguat karena arus dana masuk ke pasar saham, namun kemudian melemah setelah data impor Tiongkok yang turun dan meningkatnya permintaan dolar jelang libur akhir tahun.
Peranan Neraca Pembayaran dan Cadangan Devisa
Kondisi neraca pembayaran Indonesia yang sedang tertekan serta penurunan cadangan devisa menambah kerentanan rupiah terhadap pelemahan. Meski pasar saham menunjukkan kekuatan likuiditas dan optimisme, rupiah mencerminkan persepsi risiko terkait kebutuhan valuta asing dan tekanan defisit kembar yang dihadapi Indonesia.
Josua menegaskan bahwa penguatan IHSG mencerminkan dukungan likuiditas dan optimisme terhadap aset berisiko. Namun, rupiah masih mencerminkan kewaspadaan pasar terhadap kondisi eksternal dan daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi kebutuhan valuta asing.
Sinyal Sentimen Pasar Saham yang Membaik
Kombinasi antara penguatan IHSG dan tekanan rupiah ini menandakan bahwa sentimen pasar saham semakin membaik di awal tahun. Investor mulai menunjukkan antusiasme terhadap aset-aset berisiko di pasar domestik. Namun demikian, fondasi eksternal ekonomi Indonesia perlu diperkuat agar penguatan pada pasar saham dapat berdampak positif juga pada stabilitas nilai tukar rupiah.
Berbagai langkah kebijakan dan penguatan cadangan devisa menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan eksternal. Dengan penguatan tersebut, pasar keuangan domestik dapat lebih stabil dan terintegrasi secara harmonis di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Informasi Tambahan untuk Investor
Berikut adalah faktor utama yang perlu diperhatikan investor terkait kondisi pasar saat ini:
- Dana Domestik dan Alokasi Aset: Perpindahan dana pensiun dan asuransi ke saham mendorong IHSG tanpa penguatan rupiah.
- Keseimbangan Valuta Asing: Pembayaran impor dan utang luar negeri menjadi penentu arah rupiah.
- Defisit Kembar: Kekhawatiran defisit fiskal dan transaksi berjalan menambah tekanan rupiah.
- Kondisi Cadangan Devisa: Turunnya cadangan devisa meningkatkan kerentanan nilai tukar.
- Dinamika Eksternal: Perkembangan ekonomi global dan permintaan dolar turut mempengaruhi pergerakan rupiah.
Memahami dinamika ini penting bagi pelaku pasar untuk mengambil keputusan investasi yang tepat dalam menghadapi situasi yang kompleks di awal 2026.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com