Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (8 Januari 2026) ditutup turun 19,34 poin atau 0,22% ke level 8.925,4. Penurunan ini menandai kegagalan IHSG menembus angka psikologis 9.000.
Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 28,48 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 51,3 miliar saham. Frekuensi transaksi yang tercatat mencapai 3,7 juta kali. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 328 saham menguat, 380 saham melemah, dan 250 saham stagnan.
Pergerakan Sektoral IHSG
Beberapa sektor berhasil mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan hari ini. Sektor transportasi memimpin dengan kenaikan sebesar 1,75%. Sektor properti pun mengalami kenaikan positif sebesar 1,5%, diikuti sektor infrastruktur naik 1,43%. Sektor barang konsumen nonprimer dan sektor energi masing-masing menguat 0,6% dan 0,49%.
Sebaliknya, sektor barang baku mengalami tekanan paling besar dengan penurunan 3,22%. Sektor teknologi juga melemah sebesar 1,1%. Penurunan juga tercatat pada sektor barang konsumen primer 0,9%, sektor keuangan 0,45%, sektor perindustrian 0,19%, dan sektor kesehatan 0,14%.
Saham dengan Pergerakan Signifikan
Beberapa saham mencatat kenaikan harga yang cukup tajam. PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) melonjak 34,52% ke Rp 226. PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) naik 34,04% ke posisi Rp 126. Saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menguat 25% ke Rp 1.450. Selanjutnya, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) meningkat 24,9% menjadi Rp 3.210, dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) naik 24,8% ke Rp 312.
Di sisi lain, sejumlah saham mengalami koreksi cukup dalam. PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) merosot 14,97% menjadi Rp 250. PT Golden Flower Tbk (POLU) turun 14,97% ke harga Rp 24.575. PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) melemah 14,94% ke Rp 1.480, diikuti oleh PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS) turun 14,93% ke Rp 228 dan PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) turun 14,62% ke level Rp 730.
Dinamika Pasar dan Sentimen Investor
Kegagalan IHSG menembus level 9.000 hari ini menunjukkan investor berhati-hati di tengah ketidakpastian pasar global. Fluktuasi nilai tukar rupiah dan geopolitik internasional turut memengaruhi tren pasar saham domestik. Meskipun begitu, beberapa sektor menunjukkan daya tahan yang baik sebagai sinyal adanya optimisme pada subsektor tertentu.
Pergerakan saham yang fluktuatif menunjukkan adanya rotasi portofolio oleh pelaku pasar. Investor tampak lebih selektif dalam memilih saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang jelas. Kondisi ini penting diperhatikan oleh para investor untuk mengantisipasi volatilitas yang mungkin berlanjut dalam waktu dekat.
Penting bagi pelaku pasar untuk terus memantau perkembangan ekonomi dan berita terkini yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG. Bursa Efek Indonesia tetap menjadi barometer utama bagi kondisi perekonomian nasional dalam menyambut berbagai peluang investasi di masa depan.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com