OJK Ingatkan Risiko Efek Domino Operasi Militer AS di Venezuela pada Stabilitas Keuangan RI

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peringatan terkait dampak ketegangan geopolitik yang dipicu oleh operasi militer Amerika Serikat di Venezuela. Penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh AS dinilai berpotensi memicu ketidakpastian yang cukup besar pada stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau risiko jangka panjang dari peristiwa ini. Menurut Mahendra, eskalasi ketegangan politik tersebut menambah beban risiko yang sebelumnya sudah menekan laju pertumbuhan ekonomi dunia.

Meskipun ketegangan geopolitik meningkat, OJK mencatat sejauh ini dampak langsung terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia masih belum signifikan. Fluktuasi harga minyak dunia dan komoditas ekspor utama Indonesia belum menunjukkan perubahan drastis setelah insiden tersebut.

Namun, Mahendra mengingatkan agar tetap mewaspadai pengaruh ketegangan ini secara jangka menengah hingga panjang. Risiko ketidakpastian yang meningkat berpotensi mengganggu perekonomian dan sektor jasa keuangan nasional dalam waktu mendatang.

Lembaga-lembaga multilateral memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan terus melambat, bahkan berada di bawah rata-rata sebelum pandemi. Kondisi ini menjadi sorotan utama di tengah gejolak yang dipicu oleh konflik geopolitik.

Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat menunjukkan performa relatif solid dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 4,3 persen pada kuartal III 2025. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar.

Meski demikian, AS mulai mencatat tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja. Inflasi juga berangsur turun, dengan angka inflasi November 2025 sebesar 2,7 persen dan inflasi inti di posisi 2,6 persen.

Sementara itu, Tiongkok masih menghadapi perlambatan ekonomi yang berlanjut. Konsumsi rumah tangga mengalami penahanan, sementara sektor manufaktur kembali memasuki zona kontraksi. Tekanan di sektor properti juga tidak menunjukkan perbaikan signifikan.

Dalam menghadapi kondisi global yang penuh risiko, OJK menegaskan bahwa dinamika politik internasional dan peningkatan risiko fiskal di negara-negara utama akan menjadi faktor penentu kebijakan sektor jasa keuangan nasional. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun berjalan.

OJK juga mengajak pelaku industri jasa keuangan untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak gejolak geopolitik yang dapat berimbas pada pasar domestik. Antisipasi dini dianggap krusial agar sistem keuangan tetap resilient meski menghadapi ketidakpastian global yang meningkat.

Dengan berbagai tantangan tersebut, pemantauan berkelanjutan terhadap situasi internasional tetap menjadi prioritas OJK untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor dalam negeri. Proses adaptasi kebijakan juga diharapkan dapat berjalan dinamis mengikuti perkembangan kondisi global yang cepat berubah.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version