Dampak Langkah Trump pada Harga Perak dan Potensi Risiko Geopolitik yang Masih Berlanjut

Harga perak dunia mengalami koreksi ringan pada perdagangan Kamis (15/1/2026), turun ke kisaran US$92 per ons setelah sempat mencapai rekor tertinggi baru sehari sebelumnya. Penurunan ini berkaitan erat dengan keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang memilih untuk tidak memberlakukan tarif baru terhadap impor mineral kritis dalam waktu dekat.

Keputusan Trump tersebut muncul sebagai upaya menegosiasikan kesepakatan bilateral untuk menjaga kestabilan pasokan mineral penting di AS. Alih-alih mengenakan tarif persentase tetap, Trump mengusulkan mekanisme “harga dasar impor” guna mendukung penguatan rantai pasok mineral domestik. Langkah ini sedikit meredakan ketegangan perdagangan global sehingga permintaan perak sebagai aset pelindung nilai menurun.

Selain keputusannya soal tarif, kondisi geopolitik juga berkontribusi terhadap fluktuasi harga perak. Meredanya ketegangan di Iran setelah laporan dugaan eksekusi massal mulai berkurang turut menekan harga logam mulia tersebut. Dengan demikian, sentimen safe-haven terhadap perak melemah sementara.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga perak juga bertambah lantaran data ekonomi AS yang menunjukkan performa lebih kuat dari ekspektasi. Misalnya, penjualan ritel naik 0,6 persen pada November menjadi US$735,9 miliar, lebih tinggi dari prediksi 0,4 persen. Indeks Harga Produsen (PPI) juga mencatat inflasi stabil di level 3 persen tahunan. Kondisi pasar tenaga kerja yang ketat, ditandai dengan penurunan pengangguran, semakin memperkuat posisi dolar AS.

Penguatan dolar berdampak negatif pada harga komoditas termasuk perak, karena denominasi nilai komoditas tersebut dalam dolar. Dengan data ekonomi yang menunjukkan ketahanan, spekulasi kuat muncul bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu dekat. Keputusan The Fed akan menjadi faktor penting bagi pergerakan harga logam mulia ke depan.

Ketegangan tambahan terkait independensi bank sentral juga diperhatikan. Ketua The Fed, Jerome Powell, mengkritik upaya pemerintahan Trump yang memanggilnya untuk keterangan, menganggapnya sebagai intimidasi terhadap kebijakan moneter. Ketidakpastian soal kebijakan The Fed ini berpotensi mengerek minat investor untuk kembali beralih ke perak sebagai aset lindung nilai alternatif.

Reli harga logam mulia yang terjadi pada Rabu sebelumnya sangat berarti, mengangkat emas, perak, tembaga, dan timah ke level tertinggi baru. Hal ini menandakan minat kuat investor terhadap aset riil dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik jangka panjang. Peran pembelian besar dari China dan AS, serta rotasi modal ke sektor komoditas, menjadi bantalan terhadap penurunan harga perak agar tidak terlalu dalam.

Secara keseluruhan, keputusan Trump untuk menunda penerapan tarif impor mineral mengurangi ketegangan perdagangan global sementara waktu. Namun, potensi gejolak geopolitik termasuk situasi Iran dan dinamika kebijakan moneter AS tetap menjadi faktor penting yang menggerakkan pasar perak. Investor diharapkan terus memantau perkembangan ini karena relevansi perak sebagai aset safe-haven masih sangat tergantung pada dinamika global tersebut.

Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi harga perak saat ini:
1. Kebijakan tarif impor dan negosiasi bilateral yang dicanangkan Trump
2. Kondisi geopolitik, terutama di wilayah Timur Tengah, khususnya Iran
3. Kekuatan data ekonomi AS yang memperkuat dolar dan mempengaruhi pasar suku bunga
4. Ketegangan terkait independensi The Fed dan potensi dampaknya pada kebijakan moneter
5. Permintaan dari negara besar seperti China dan AS serta rotasi modal ke komoditas

Dengan berbagai variabel tersebut, harga perak akan tetap dinamis dan sensitif terhadap perkembangan politik serta ekonomi global. Investor disarankan untuk memonitor baik berita geopolitik maupun indikator ekonomi utama untuk mengantisipasi pergerakan pasar perak berikutnya.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version