Bitcoin Terjun Bebas ke USD 70.000, Analis Waspadai Potensi Turun ke USD 50.000

Bitcoin mengalami penurunan harga yang signifikan pada awal Februari 2026. Pada 5 Februari, Bitcoin diperdagangkan di kisaran sekitar US$ 70.955, turun lebih dari 3% dalam 24 jam terakhir dan menyentuh level terendah US$ 70.417.

Penurunan tajam ini menimbulkan kekhawatiran para analis mengenai kemungkinan koreksi harga yang lebih dalam. Bitcoin yang sempat mencapai puncak lebih dari US$ 126.000 pada Oktober tahun lalu kini telah menyusut hampir 40% dari titik tertingginya.

Peringatan dari Investor Legendaris

Michael Burry, investor kawakan yang terkenal lewat prediksi krisis pasar "Big Short," mengeluarkan peringatan keras terkait penurunan Bitcoin. Ia menilai Bitcoin gagal membuktikan diri sebagai aset pelindung nilai atau emas digital. Dalam unggahannya di Substack, Burry menegaskan bahwa tidak ada landasan penggunaan organik yang mampu menahan penurunan harga.

Burry memperingatkan potensi efek domino jika harga Bitcoin turun ke level US$ 50.000. Ancaman utamanya meliputi:

  1. Kebangkrutan perusahaan penambangan besar akibat biaya operasional yang tidak tertutupi.
  2. Krisis likuiditas di pasar futures logam mulia yang ditokenisasi, mengakibatkan jatuhnya kepercayaan investor.

Dampak Negatif pada Perusahaan Besar

Penurunan harga juga berdampak nyata pada neraca keuangan perusahaan yang memiliki jumlah Bitcoin besar. Strategy, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor, kini merugi karena harga pasar Bitcoin jatuh di bawah harga beli rata-rata mereka di sekitar US$ 76.000.

Kerugian yang dialami Strategy mencapai US$ 17,44 miliar hanya pada kuartal keempat. Kapitalisasi pasar perusahaan tersebut menyusut drastis dari US$ 128 miliar menjadi US$ 40 miliar, atau merosot lebih dari 60% sejak puncak harga Bitcoin tahun lalu.

Perubahan Sentimen Pasar dan Strategi Investor

Menurut analis Hiroyuki Kato dari CXR Engineering, pasar kripto sedang memasuki tren penurunan jangka panjang. Pasar beralih dari strategi "beli saat harga turun" (buy the dip) menjadi strategi jual pendek (short selling) yang masif.

Kondisi teknikal Bitcoin menunjukkan pola grafik head and shoulders yang mendekati garis leher (neckline). Jika garis leher ini ditembus, pemulihan harga jangka pendek akan sulit terjadi secara struktural.

Selain itu, pelemahan Ethereum di bawah level psikologis US$ 2.600 mempercepat penurunan harga altcoin lain. Mayoritas altcoin telah terkoreksi antara 20% hingga 40% sejak pengumuman Federal Open Market Committee (FOMC) pada Januari lalu.

Saran untuk Investor

Kato menyarankan agar investor memasuki mode risk-off dan tetap waspada. Volatilitas pasar kripto biasanya menjadi indikator awal potensi guncangan pada pasar saham yang lebih luas.

Sepanjang sejarahnya, Bitcoin dikenal dengan siklus naik-turun ekstrem yang cukup signifikan. Titik terendah terbaru tercatat sekitar US$ 2 pada 2011, dan koreksi besar sebelumnya terjadi pada 2018 saat harga Bitcoin jatuh ke US$ 3.350.

Perlu diingat, istilah "harga terendah" sering merujuk pada siklus tertentu, bukan nilai absolute Bitcoin sepanjang masa.

Investor disarankan untuk melakukan riset secara mendalam dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum mengambil keputusan. Pasar kripto memiliki volatilitas yang sangat tinggi dan risiko kerugian modal secara tiba-tiba tidak bisa diabaikan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version