IHSG Terkoreksi Tajam, Ratusan Saham Alami Tekanan Jual Berat dari Investor

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. IHSG ditutup melemah 0,64 persen di level 8.212, menandakan tekanan jual yang cukup signifikan dari para investor. Pelemahan ini dipicu oleh kondisi pasar yang minim sentimen positif, sehingga investor memilih untuk mengambil posisi aman menjelang long weekend.

Tekanan jual terbesar terjadi di sektor infrastruktur yang mencatat pelemahan terdalam pada sesi tersebut. Sebaliknya, sektor transportasi justru mengalami penguatan karena adanya insentif dari pemerintah untuk industri galangan kapal. Dukungan tersebut memicu minat beli pada saham-saham di sektor transportasi.

Tekanan di pasar lokal juga berdampak pada nilai tukar rupiah. Pada penutupan perdagangan hari itu, rupiah melemah ke Rp16.825 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini sejalan dengan kondisi global yang kurang kondusif, di mana mayoritas bursa Asia juga berakhir di zona merah karena sentimen negatif dari pasar saham Wall Street.

Jumlah saham yang mengalami penurunan cukup tinggi, mencapai 429 saham dari total yang diperdagangkan. Sementara itu, saham yang naik hanya berjumlah 282 saham dan 247 saham lainnya tidak mengalami perubahan. Volume perdagangan mencatat sebanyak 46,07 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp24,33 triliun serta frekuensi transaksi sebanyak 2,78 juta kali.

Berikut adalah rincian saham dengan performa terbaik dan terburuk pada perdagangan hari tersebut:

1. Top Gainers: BELL, ROCK, TRUK, INDS, BAIK, DAAZ, PSKT, XPSG, ARCO, MGLV, OMRE, BSWD
2. Top Losers: SOTS, HILL, XDIF, XCIS, LAPD, INTA, YPAS, IFSH, LION, GRPM, BBSS, SDMU

Investor lokal dan asing cenderung menahan diri untuk mengambil risiko di tengah situasi pasar yang tidak stabil dan minim sentimen baru. Hal ini menyebabkan pergerakan IHSG terbatas dan lebih banyak berada di zona merah sepanjang sesi perdagangan Jumat.

Melihat kondisi pasar global yang masih dirundung ketidakpastian, perhatian investor tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan digelar pada 19 Februari 2026. Pasar memperkirakan suku bunga acuan BI Rate dipertahankan di level 4,75 persen, yang diharapkan dapat menjadi katalis stabilisasi pasar ke depan.

Sentimen negatif dari luar negeri, khususnya dari Wall Street, ikut memperburuk kondisi pasar modal Indonesia. Investor di kawasan Asia, termasuk Indonesia, memilih mengurangi eksposur risiko sehingga menekan aksi beli saham secara masif. Kondisi ini memperbesar tekanan jual dan memicu ambruknya IHSG pada hari tersebut.

Sektor infrastruktur menjadi penghambat utama penguatan IHSG karena mengalami tekanan jual cukup berat. Investor dinilai agak skeptis terhadap prospek sektor ini di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global. Adanya sentimen negatif seperti perlakuan sementara MSCI terhadap pasar modal Indonesia sebelumnya turut memperburuk kepercayaan investor.

Sebaliknya, sektor transportasi mendapat angin segar dari insentif pemerintah yang mendorong aktivitas dan pengembangan industri galangan kapal. Stimulus ini mendorong investor masuk ke saham-saham terkait, sehingga sektor tersebut mampu mencatat penguatan cukup baik, bertolak belakang dengan tren pelemahan IHSG secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, kondisi pasar saat ini masih menghadapi tantangan dengan banyaknya saham yang ‘kebakaran’. Tekanan jual yang terus berlanjut menjadi sinyal bagi pelaku pasar untuk berhati-hati menanti sentimen positif yang lebih jelas, baik dari dalam negeri maupun dari kondisi makroekonomi global.

Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam dan tetap waspada dalam mengambil keputusan investasi. Mengingat risiko masih tinggi, strategi konservatif bisa menjadi pilihan sampai ada kejelasan arah pasar yang lebih kuat dan stabil.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version