Momen menerima Tunjangan Hari Raya (THR) serta bonus sering kali memicu pengeluaran yang tidak terkendali. Banyak orang langsung tergoda berbelanja barang-barang yang sebenarnya belum menjadi kebutuhan prioritas. Situasi ini dapat diantisipasi dengan pengelolaan uang yang lebih bijaksana agar THR tidak cepat habis.
Prita Hapsari Ghozie, seorang perencana keuangan ternama, menyampaikan lima cara efektif untuk mengatur THR agar tidak boncos. Langkah-langkah ini membantu melawan godaan konsumtif demi menjaga kondisi keuangan tetap sehat setelah Lebaran.
1. Ambil Jeda Sebelum Membeli
Langkah pertama adalah berhenti sejenak saat menerima uang THR atau bonus. Dengan jeda ini, Anda bisa mengevaluasi apakah barang yang ingin dibeli benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Menurut Prita, “Keputusan finansial harus diambil dengan sabar tanpa terburu-buru agar tidak menyesal kemudian.”
2. Catat Pengeluaran Secara Rinci
Membuat catatan harian pengeluaran, mirip metode Kakebo dari Jepang, membantu memperjelas kemana uang THR dibelanjakan. Cara ini juga membuat Anda lebih sadar dan bijak dalam menggunakan dana. Prita menyarankan juga membagi rekening menjadi tiga pos utama: Living untuk kebutuhan sehari-hari, Saving untuk tabungan, dan Playing untuk kebutuhan rekreasi.
3. Hindari Belanja Saat Stres
Banyak orang tergoda belanja berlebihan saat mengalami tekanan emosional seperti patah hati atau stres kerja. Prita mengingatkan agar tidak menjadikan konsumsi sebagai pelarian emosional karena itu sering memicu keborosan tanpa manfaat nyata. Memahami penyebab emosi negatif adalah kunci untuk menghindari pemborosan tidak perlu.
4. Ubahlah Pola Pikir dalam Membeli
Membeli barang hanya karena ada diskon terkadang berisiko menumpuk barang yang tidak berguna. Prita menekankan pentingnya membeli barang berkualitas yang memiliki nilai guna jangka panjang, bukan hanya tergiur harga murah semata. Ini akan membantu mengurangi pemborosan dan meningkatkan pemanfaatan barang dengan maksimal.
5. Susun Anggaran Realistis
Kegagalan mengatur THR sering muncul akibat anggaran yang tidak realistis. Prita menyarankan mulai dengan pola alokasi 75% untuk kebutuhan hidup dan 25% untuk tabungan. Setelah kebiasaan ini berjalan, Anda bisa beralih ke pembagian lebih detail yaitu Living (50%), Saving (30%), dan Playing (20%). Cara ini memungkinkan pengelolaan dana yang lebih terstruktur dan disiplin.
Dalam pandangan Prita, menjalani hidup sederhana bukan berarti mengekang kebutuhan, melainkan mengubah mindset agar pengeluaran lebih terkontrol dan bermakna. “Kamu tidak didefinisikan dari harta atau status, tapi dari bagaimana kamu mengelola hidup,” ujarnya. Memahami hal ini penting agar THR tidak sekadar habis untuk kesenangan sesaat, tetapi dapat menjadi modal keuangan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Dengan menerapkan kelima cara tersebut secara konsisten, pengelolaan THR akan lebih bijak dan menghindarkan dari jebakan compulsive buying. Hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan finansial agar tidak terpuruk setelah Lebaran berlalu. Perencanaan dan pengelolaan keuangan yang matang menjadi kunci utama agar dana THR dapat memberikan manfaat optimal jangka panjang.
Baca selengkapnya di: finansial.bisnis.com




