
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi cukup dalam sebesar 2,65 persen pada perdagangan tanggal 2 Maret 2026. Pada penutupan hari tersebut, IHSG berada di level 8.016,83 sebagai dampak langsung dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang menimbulkan kekhawatiran di pasar global. Konflik ini memicu aksi jual massal saham oleh para investor yang mencari instrumen investasi dengan risiko lebih rendah.
Menurut Hendra Wardana, analis pasar dan pendiri Republik Investor, konflik militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran mengakibatkan kenaikan harga minyak dan emas secara signifikan. Lonjakan harga komoditas ini membuat investor global beralih dari aset berisiko seperti saham ke instrumen safe haven. “Lonjakan harga minyak dan emas memicu ketidakpastian di pasar global, yang menyebabkan banyak investor beralih dari saham ke instrumen yang lebih aman,” kata Hendra kepada Media Indonesia.
Dampak Konflik Terhadap Sektor Saham
Tekanan jual melanda hampir seluruh sektor saham dengan pengecualian sektor energi yang relatif bertahan. Harga minyak mentah yang meningkat tajam memberikan sentimen positif bagi saham-saham energi sehingga sektor ini masih mampu menjaga stabilitas. Namun, selain sektor energi, mayoritas sektor lain tertekan cukup dalam akibat ketidakpastian geopolitik. Hal ini membuat pasar saham Indonesia mengalami volatilitas yang cukup tinggi.
Teknisnya, level 8.000 pada IHSG menjadi batas psikologis penting untuk pergerakan berikutnya. Jika IHSG mampu bertahan di atas angka ini, peluang untuk rebound ke level 8.100 masih terbuka. Namun, apabila posisi ini gagal dipertahankan dan nilai IHSG turun di bawah 8.000, koreksi lanjutan menuju support berikutnya di area 7.941 berpotensi terjadi. Pergerakan ini juga diperparah oleh aksi net sell asing yang mencapai Rp490 miliar pada hari tersebut, memperbesar tekanan pada indeks.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Pasar
Hendra Wardana menyarankan agar investor mengambil pendekatan yang lebih selektif dan defensif dalam kondisi pasar yang tidak menentu ini. Untuk investor jangka pendek, volatilitas dapat dimanfaatkan dengan strategi trading pada saham sektor yang mendapat sentimen positif dari kenaikan harga komoditas, terutama energi dan emas. “Investor jangka pendek bisa mengambil peluang dengan membeli saham yang terkait langsung dengan komoditas energi dan emas,” jelasnya.
Sementara itu, bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang, disarankan untuk menahan diri dan menunggu konfirmasi stabilisasi pasar di level support sebelum melakukan akumulasi saham secara bertahap. Disiplin dalam pengelolaan risiko, termasuk penentuan batas cut loss, menjadi sangat krusial agar potensi kerugian dapat diminimalkan jika pelemahan pasar berlanjut.
Kondisi Makroekonomi Indonesia yang Tangguh
Meskipun tekanan eksternal cukup besar, kondisi fundamental ekonomi domestik Indonesia masih menunjukkan stabilitas yang kuat. Catatan surplus perdagangan pada Januari 2026 sebesar 960 juta dolar AS dan inflasi tahunan sebesar 4,76 persen mengindikasikan keadaan ekonomi makro yang terjaga. Menurut Hendra, koreksi pasar saham saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global dan bukan didorong oleh faktor domestik. “Dengan fundamental ekonomi domestik yang solid, koreksi pasar saham saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal. Investor harus melihat lebih jauh dari sekadar gejolak pasar jangka pendek,” ujar Hendra.
Tekanan pasar akibat geopolitik AS-Iran menjadi pengingat bagi investor untuk tetap waspada serta menerapkan manajemen risiko yang baik. Dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian, pemilihan saham dengan fundamental kuat dan sektor yang resilient terhadap gejolak eksternal dapat menjadi strategi jangka panjang yang menguntungkan. Investor disarankan terus memantau perkembangan geopolitik dan kondisi pasar untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




