Purbaya Ungkap Defisit APBN Capai Puluhan Triliun per Bulan Februari, Ini Penyebabnya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit APBN per Februari 2026 mencapai Rp 135,7 triliun. Defisit ini setara dengan 0,53 persen dari produk domestik bruto (PDB) dan menandakan pengeluaran negara masih melebihi pemasukan.

Pendapatan negara hingga akhir Februari tercatat sebesar Rp 358 triliun, yang mencapai 11,4 persen dari target APBN tahun ini. Penerimaan pajak menjadi penopang utama dengan realisasi Rp 245,1 triliun, atau 10,4 persen dari target, yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 30 persen dibanding periode sama tahun lalu.

Selain pajak, sektor kepabeanan dan cukai berkontribusi Rp 44,9 triliun, berada di angka 13,4 persen dari target. Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mengalami peningkatan dengan realisasi Rp 68 triliun atau 14,8 persen dari outlook APBN.

Sementara itu, belanja negara melonjak signifikan dengan total realisasi Rp 493,8 triliun per Februari 2026. Angka ini sudah mencapai 12,8 persen dari keseluruhan target belanja dan tumbuh 41,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Rincian belanja negara mencakup Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp 346,1 triliun atau 11 persen dari target APBN. Dari jumlah tersebut, belanja kementerian dan lembaga tercatat Rp 155 triliun, sedangkan belanja non-kementerian/lembaga mencapai Rp 191 triliun.

Selain belanja pusat, transfer ke daerah juga meningkat dengan realisasi sebesar Rp 147,7 triliun atau 21,3 persen dari target tahunan. Transfer ini menjadi bagian penting dalam mendukung pemerataan pembangunan di daerah.

Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 30 persen di awal tahun ini diharapkan dapat dipertahankan sepanjang tahun. Hal ini akan sangat membantu menutup defisit APBN dan menjaga stabilitas fiskal negara.

Defisit yang terjadi masih dalam batas aman dan sesuai dengan rencana pemerintah. Namun besarnya defisit ini menuntut pengelolaan anggaran yang cermat agar tidak membebani defisit di bulan-bulan berikutnya.

Perkembangan realisasi pendapatan dan belanja tersebut menggambarkan dinamika fiskal pemerintah di tengah tantangan perekonomian global. Pemerintah tetap fokus mengoptimalkan penerimaan sekaligus mengendalikan belanja agar APBN tetap sehat.

Data ini juga menunjukkan bahwa pemerintah terus mendorong kegiatan ekonomi dan investasi melalui pengelolaan anggaran yang strategis. Belanja negara yang meningkat diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pengumuman defisit APBN oleh Menteri Keuangan ini memberikan gambaran nyata tentang kondisi keuangan negara di awal tahun. Seluruh pemangku kepentingan dapat mengambil acuan dari data ini dalam merencanakan langkah kebijakan ke depan.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Terkait