Pembatalan sepihak tiket Piala Dunia 2026 di platform penjualan sekunder telah membuat ribuan suporter internasional gagal masuk stadion. Banyak di antara mereka sudah membayar mahal, bahkan sampai Rp 107 juta, tetapi tetap pulang dengan tangan kosong karena tiket yang dijanjikan tidak pernah benar-benar aman.
Kasus ini menyoroti praktik tiket spekulatif yang memicu kekacauan besar di pasar sekunder. Saat harga melonjak, penjual yang belum mengantongi tiket resmi membatalkan transaksi demi mengejar keuntungan lebih tinggi dari pembeli lain.
Korban kehilangan uang dan momen berharga
Salah satu korban adalah Sergio Enrique Alvarado Montalvo, yang rela mengeluarkan dana besar untuk memberi kejutan kepada ayahnya. Rencana menonton Lionel Messi di Dallas berubah menjadi kekecewaan besar ketika tiket mereka hangus sehari sebelum keberangkatan.
Montalvo mengaku sangat terpukul karena sudah menyiapkan perjalanan itu dengan penuh harapan. Alih-alih duduk di tribun stadion, ia bersama orang tuanya justru menghabiskan malam pertandingan di area festival penonton lokal.
Kisah serupa dialami Eben Pingree yang ingin memberi kejutan kepada putranya yang berusia 11 tahun. Tiket untuk laga Skotlandia melawan Haiti mendadak lenyap pada hari pertandingan, sehingga perjalanan panjang keluarga itu berakhir tanpa hasil.
Kerugian tidak berhenti pada tiket
Dampak kasus ini tidak hanya soal kursi pertandingan yang hilang. Banyak korban juga menanggung biaya akomodasi dan penerbangan yang tidak bisa dikembalikan, sehingga kerugian total jauh lebih besar dari harga tiket itu sendiri.
Dalam gugatan perwakilan kelompok, para korban disebut mengalami kerugian finansial minimal 1.900 dolar AS per orang akibat tiket yang tidak pernah dikirimkan. Dokumen gugatan itu menilai para penggemar telah dibujuk untuk membayar uang besar, lalu dibiarkan menanggung beban kerugian yang berat.
Gugatan massal dan saling tuding
Kekecewaan para suporter kemudian bergulir ke ranah hukum melalui class action yang diajukan Julie Reeker Moghal dan Reuben Renteria. Langkah itu muncul setelah banyak korban merasa perlindungan konsumen yang dijanjikan platform tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Di tengah tekanan publik, StubHub dan Fifa saling lempar tanggung jawab atas gangguan transfer tiket digital. StubHub menyebut aplikasi tiket baru milik Fifa mengalami gangguan serius, sementara Fifa membantah dan menegaskan sistem digital mereka aman serta andal.
Scott Friedman, salah satu pendiri Ticket Talk Network, menilai platform sekunder tidak bisa terus bersembunyi di balik alasan teknis. Ia bahkan menyebut sistem tiket digital yang digunakan buruk dan mengibaratkannya seperti perangkat lunak lawas.
Mengapa praktik spekulatif rawan merugikan pembeli
Praktik tiket spekulatif terjadi ketika penjual memasang tiket yang belum benar-benar dimiliki. Mereka lalu membatalkan pesanan begitu harga pasar naik, sehingga pembeli awal menjadi korban dari permainan harga yang agresif.
Situasi ini makin berbahaya karena permintaan tiket Piala Dunia 2026 sangat tinggi. Turnamen yang digelar di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menciptakan pasar panas yang dimanfaatkan oleh calo digital di platform sekunder.
Saat pasokan menipis, pembatalan sepihak menjadi cara untuk meraup untung lebih besar dari pembeli baru. Di titik ini, konsumen yang paling dirugikan adalah keluarga dan suporter yang sudah mengeluarkan banyak biaya sejak awal perjalanan direncanakan.
Respons platform belum menutup seluruh kerugian
StubHub menyatakan telah memperluas kapasitas pencarian tiket pengganti dan menjanjikan pengembalian dana penuh lewat program FanProtect. Namun, pengembalian uang itu tidak otomatis menutup biaya perjalanan yang sudah terlanjur dikeluarkan dan tidak bisa diuangkan kembali.
Para pengacara yang menangani klaim konsumen menilai proses penyelesaian sengketa sering kali melelahkan bagi masyarakat biasa. Banyak korban akhirnya menyerah lebih dulu karena prosedur yang rumit dan berlarut-larut, padahal kerugian mereka nyata dan besar.
Kasus ini menunjukkan bahwa kegagalan di pasar tiket sekunder bisa berdampak langsung pada rencana keluarga, biaya perjalanan, dan pengalaman menonton yang sudah lama dinantikan. Di tengah antusiasme besar terhadap Piala Dunia 2026, para pembeli tetap harus menghadapi risiko pembatalan sepihak yang membuat tiket mahal berubah menjadi zonk.
Source: www.suara.com






