Harga Emas Turun Tajam, Catat Pekan Terburuk dalam Satu Dekade Lebih

Harga emas global mengalami tekanan tajam hingga akhir pekan, mencatat penurunan mingguan terdalam dalam 15 tahun terakhir. Data menunjukkan harga emas turun 9,6% dalam sepekan, terdampak oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran di pasar.

Pada Jumat (20/3/2026), harga emas spot sempat naik tipis 0,6% menjadi US$ 4.674,29 per ons troi akibat aksi beli. Namun, kontrak berjangka emas justru melemah 0,7% ke US$ 4.574,90 per ons troi, dan pada Sabtu pagi kembali turun 3,39% ke level US$ 4.492,43 per ons troi. Koreksi ini menempatkan logam mulia tersebut pada jalur penurunan terburuk sejak krisis keuangan global 2008.

Penurunan Harga Emas dalam Perspektif Historis

Penurunan harga emas kali ini menjadi yang terdalam sejak September 2011. Walaupun demikian, secara tahunan emas masih mencatat kenaikan lebih dari 5% sepanjang 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sedang mengalami penurunan tajam, tren jangka panjang emas tetap menunjukkan performa positif. Toni Meadows, Chief Investment Officer BRI Wealth Management, menegaskan bahwa pergerakan emas lebih banyak dipengaruhi oleh tren jangka panjang daripada sentimen jangka pendek.

Dampak Gejolak Global terhadap Pasar Logam Mulia dan Energi

Selain emas, harga perak juga mengalami tekanan signifikan. Kontrak berjangka perak turun lebih dari 2% ke US$ 69,66 per ons, mencapai penutupan terendah sejak Desember, dan merosot lebih dari 14% dalam tiga pekan terakhir. Gejolak di pasar energi pun memperburuk sentimen pasar. Harga minyak sempat melambung di atas US$ 112 per barel sebagai respons terhadap ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.

Kondisi Pasar Modal Mengikuti Volatilitas Harga Logam

Ketidakstabilan geopolitik juga berimbas pada pasar saham Amerika Serikat. Indeks saham utama seperti Dow Jones dan Nasdaq hampir memasuki fase koreksi setelah kehilangan hampir 10% dari puncaknya. Situasi ini menunjukkan korelasi erat antara ketegangan global, nilai aset berisiko, dan harga komoditas.

Faktor Penyebab Volatilitas Harga Emas

Menurut analis SP Angel, Arthur Parish, volatilitas ekstrem pada harga emas disebabkan berakhirnya tren reli panjang sebelum konflik memanas. Banyak investor jangka pendek dan dana spekulatif mulai keluar dari pasar setelah merasakan momentum kenaikan melemah. Hal ini mengakibatkan tekanan jual yang signifikan dan koreksi harga.

Relai Besar Emas dan Perak pada Tahun Sebelumnya

Sebelum dinamika terbaru, emas dan perak masing-masing telah mencatat kenaikan besar sepanjang 2025. Harga emas melonjak 66%, sementara perak bahkan naik tajam sebanyak 135%. Namun, memasuki awal 2026, ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global menjadi faktor utama yang mengubah sentimen pasar dan mendorong volatilitas harga logam mulia meningkat.

Simpulan Kondisi saat Ini

Pergerakan harga emas saat ini merupakan bagian dari siklus yang dipengaruhi oleh faktor geopolitik, spekulasi pasar, dan tren ekonomi global. Walaupun tekanan jual signifikan terjadi dalam jangka pendek, nilai emas tetap dipandang sebagai aset berharga untuk lindung nilai jangka panjang. Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan geopolitik dan tren makroekonomi dalam memprediksi pergerakan harga logam mulia ke depan.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version