IHSG menutup perdagangan Kamis, 2 April 2026, dengan tekanan jual yang cukup dalam menjelang libur panjang peringatan Jumat Agung. Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 2,19 persen atau 157,66 poin ke level 7.026, setelah sepanjang sesi bergerak sideways lalu jatuh tajam di menit-menit akhir perdagangan.
Pergerakan negatif itu terjadi saat pasar merespons kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran atas tensi geopolitik di Timur Tengah. Dalam riset hariannya, Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebut indeks melemah setelah harga minyak mentah berbalik menguat akibat pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai perang Iran, yang memicu sentimen risk-off di pasar global.
Tekanan terbesar datang dari sektor bahan baku
Sektor bahan baku menjadi penekan utama IHSG pada perdagangan tersebut. Sektor ini turun paling dalam, yakni 4,86 persen, dan memperlihatkan bahwa saham-saham berbasis komoditas ikut terseret oleh perubahan sentimen harga energi serta kekhawatiran terhadap arah pasar global.
Di tengah pelemahan luas itu, sektor konsumer siklikal justru menjadi satu-satunya sektor yang bertahan di zona hijau. Sektor tersebut naik 0,45 persen, menandakan ada rotasi terbatas ke saham-saham yang dianggap lebih defensif dalam jangka pendek.
Mayoritas sektor ikut melemah
Tekanan tidak berhenti di bahan baku, karena hampir seluruh sektor utama juga ikut terkoreksi. Sektor infrastruktur turun 3,96 persen, sektor energi melemah 2,94 persen, dan sektor industri terkoreksi 2,23 persen.
Berikut rincian pergerakan sektor pada penutupan perdagangan:
- Bahan baku: -4,86 persen
- Infrastruktur: -3,96 persen
- Energi: -2,94 persen
- Industri: -2,23 persen
- Transportasi: -2,08 persen
- Teknologi: -2,07 persen
- Properti: -1,57 persen
- Keuangan: -0,72 persen
- Kesehatan: -0,68 persen
- Konsumer non-siklikal: -0,61 persen
- Konsumer siklikal: +0,45 persen
Pelemahan yang merata ini menunjukkan investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko saat ketidakpastian meningkat. Sentimen tersebut juga terlihat dari aksi ambil untung menjelang libur panjang, ketika sebagian pelaku pasar memilih menahan posisi.
Tensi geopolitik dorong harga minyak naik
Salah satu faktor yang paling memengaruhi pasar datang dari lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak kembali menguat lebih dari 6 persen hingga berada di atas level US$107 per barel setelah pidato Trump memicu kekhawatiran baru tentang eskalasi konflik Iran.
Trump menegaskan operasi Epic Fury di Iran akan berlanjut sampai tujuan strategis tercapai. Ia juga mengatakan AS dapat melancarkan serangan keras dalam dua hingga tiga pekan mendatang, jika tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat.
Ketegangan itu membuat pasar saham Asia ikut tertekan, karena harga minyak yang lebih tinggi biasanya memicu kekhawatiran inflasi dan menekan margin beberapa emiten. Dalam kondisi seperti itu, saham-saham di sektor yang sensitif terhadap biaya energi dan rantai pasok cenderung lebih rentan.
Nilai transaksi tetap besar, tetapi jual dominan
Meski IHSG jatuh cukup dalam, aktivitas perdagangan tetap tinggi. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp12,71 triliun, dengan volume harian mencapai 255,5 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 1,79 juta kali.
Data itu menunjukkan pasar masih aktif, tetapi aliran dana lebih banyak didominasi tekanan jual dibandingkan minat beli. Menjelang penutupan, indeks bahkan sempat bergerak ke area 7.025 sebelum akhirnya mengunci pelemahan lebih dalam.
LQ45 masih menyisakan beberapa saham penguat
Di tengah koreksi pasar yang luas, sejumlah saham unggulan di indeks LQ45 masih mampu mencatatkan kenaikan. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) naik 4,40 persen atau 55 poin ke level 1.305, menjadi salah satu penguat paling menonjol pada hari itu.
Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga menguat 2,70 persen atau 1.850 poin ke level 70.375. Sementara itu, Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) naik 2,41 persen atau 100 poin dan ditutup di posisi 4.250.
Pergerakan saham-saham tersebut memperlihatkan bahwa meski tekanan pasar cukup luas, masih ada emiten tertentu yang mendapat dukungan sentimen spesifik. Namun, penguatan beberapa nama besar itu belum cukup menahan laju koreksi IHSG yang tertekan oleh kombinasi faktor eksternal dan aksi jual lintas sektor.
Apa yang perlu dicermati investor setelah penutupan ini
- Harga minyak dunia masih menjadi variabel penting bagi arah pasar Indonesia.
- Saham sektor bahan baku dan energi berpotensi tetap sensitif terhadap berita geopolitik.
- Libur panjang dapat memicu kehati-hatian investor dan memperbesar volatilitas saat pasar kembali buka.
- Rotasi ke saham defensif berpeluang berlanjut jika ketidakpastian global belum mereda.
Dengan tekanan yang datang dari sektor bahan baku, energi, dan infrastruktur, pasar menunggu apakah IHSG mampu pulih saat perdagangan kembali dibuka setelah libur. Arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta respons investor terhadap sentimen global yang masih berubah cepat.





