ICEx Resmi Meluncur, Indonesia Mengunci Infrastruktur Kripto Institusionalnya

Indonesia resmi memasuki fase baru dalam pengembangan infrastruktur aset kripto institusional setelah Indonesia Crypto Exchange (ICEx) diluncurkan pada Kamis, 2 April 2026, di Hotel St. Regis Jakarta. Peluncuran ini menandai upaya membangun ekosistem perdagangan aset digital yang lebih aman, transparan, dan terintegrasi di bawah pengawasan langsung Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

ICEx Group datang dengan legalitas penuh dan modal awal sebesar US$70 juta atau sekitar Rp1 triliun, sesuai angka yang disebut dalam laporan peluncuran. Struktur ini memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan ekosistem kripto regional, sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi partisipasi investor institusional.

Landasan Regulasi yang Lebih Kuat

ICEx dibangun dengan kerangka Self-Regulatory Organization atau SRO yang menaungi bursa, kliring, dan kustodian dalam satu ekosistem. Model ini penting karena memisahkan fungsi pengawasan pasar, penyelesaian transaksi, dan penyimpanan aset digital agar risiko operasional bisa ditekan lebih baik.

Tiga entitas utama di bawah ICEx masing-masing telah mengantongi izin dari OJK melalui Surat Keputusan berbeda. Bursa ICEx memperoleh izin dengan nomor KEP-2/D.07/2026, Crypto Asset Clearing International atau CACI mengantongi KEP-12/D.07/2026, sedangkan International Crypto Custodian atau ICC mendapat KEP-11/D.07/2026.

Struktur Tiga Lapis untuk Pasar yang Lebih Tertib

Kerangka ini membuat ekosistem kripto tidak berdiri hanya sebagai platform transaksi biasa. Bursa menjalankan fungsi pengatur pasar, kliring memastikan penyelesaian transaksi berjalan rapi, dan kustodian menjaga aset digital sesuai standar institusional.

Pendekatan semacam ini lazim dipakai di pasar keuangan modern karena memberi kejelasan fungsi bagi tiap pelaku. Bagi investor besar, struktur itu membantu memperkuat kepercayaan karena alur transaksi, pencatatan, dan penyimpanan berada dalam sistem yang lebih terukur.

Kolaborasi dengan 11 PAKD Besar

ICEx juga membangun jaringan awal bersama 11 Penyelenggara Aset Keuangan Digital atau PAKD yang menjadi anggota bursa resmi. Mereka adalah Triv, Tokocrypto, Indodax, Ajaib Kripto, Reku, Upbit Indonesia, Nanovest, FLOQ, OSL Indonesia, Samuel Kripto Indonesia, dan Mobee Indonesia.

Kehadiran daftar anggota ini menunjukkan bahwa ICEx tidak bergerak sendirian. Integrasi dengan pemain yang sudah dikenal publik memberi sinyal bahwa infrastruktur baru ini ingin langsung terhubung ke pasar yang sudah aktif dan memiliki basis pengguna luas.

Arah Baru untuk Investor Institusional

Selama ini, pasar kripto Indonesia lebih dikenal sebagai ruang ritel yang sangat aktif. Dengan hadirnya ICEx, fokus mulai bergeser ke infrastruktur yang bisa mendukung kebutuhan institusi, termasuk kepatuhan, keamanan penyimpanan, dan penyelesaian transaksi yang lebih formal.

CEO ICEx Group, Kai Pang, menegaskan bahwa nama “Indonesia” dipilih untuk menunjukkan kekuatan pasar domestik. Ia menyebut, “Indonesia sedang membangun infrastruktur perdagangan aset kripto berstandar global. ICEx berakar di Indonesia namun dibangun dengan ambisi global.”

Pernyataan itu mencerminkan strategi yang tidak hanya menargetkan pasar lokal. ICEx tampak ingin menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat perdagangan aset digital yang mampu bersaing di tingkat ASEAN dan global.

Peran Kliring dan Kustodian dalam Menjaga Stabilitas

Selain bursa, dua komponen lain di ICEx memegang peran vital. CEO CACI, Andi Nirwoto, menekankan bahwa integrasi fungsi kliring sangat penting untuk stabilitas pasar karena proses penyelesaian transaksi harus berlangsung jelas dan terkontrol.

Sementara itu, CEO ICC, Septiyan Andika Isanta, menyoroti pentingnya penyimpanan aset yang aman dan patuh regulasi. Ia memastikan bahwa infrastruktur kustodian yang mereka kelola mengikuti standar keamanan internasional untuk melindungi dana dan aset investor.

Kombinasi keduanya menjadi relevan saat pasar kripto semakin kompleks. Investor institusional umumnya menuntut kepastian tata kelola, auditabilitas, dan perlindungan aset yang lebih kuat dibandingkan pendekatan yang hanya mengandalkan aplikasi transaksi.

Dukungan Industri dan Sinyal Kepercayaan Pasar

Peluncuran ICEx juga mendapat dukungan dari pelaku industri kripto yang sudah lama aktif di Indonesia. Founder dan CEO TRIV Group, Gabriel Rey, menyebut kehadiran bursa ini memberi ruang bagi industri untuk terus berinovasi dalam kerangka regulasi yang jelas.

Ia mengatakan, “Kami sangat bangga mendukung bursa ICEx. Langkah ini memungkinkan industri untuk terus berinovasi dalam kerangka regulasi yang jelas. Kami meyakini jumlah investor kripto di Indonesia akan terus bertumbuh.”

Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai kepastian regulasi sebagai faktor utama pertumbuhan. Ketika infrastruktur dan dasar hukum berjalan selaras, minat pelaku profesional cenderung meningkat lebih cepat.

Dukungan Ekosistem Keuangan dan Teknologi

Acara peluncuran ICEx dihadiri lebih dari 350 tamu undangan dan melibatkan mitra strategis dari sektor perbankan serta teknologi. Nama-nama seperti Bank Mandiri, Bank BRI, dan Bank INA disebut ikut mendukung, bersama perusahaan teknologi global seperti Google Cloud dan Oracle Cloud.

Keterlibatan mitra lintas sektor ini memberi gambaran bahwa ICEx tidak berdiri sebagai proyek kripto semata. Platform ini diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur keuangan digital yang membutuhkan dukungan perbankan, komputasi awan, dan sistem pengamanan data kelas enterprise.

Apa Artinya bagi Pasar Kripto Indonesia

  1. Investor institusional mendapat akses ke infrastruktur yang lebih tertata.
  2. Pelaku industri memiliki pijakan regulasi yang lebih jelas di bawah OJK.
  3. Pasar kripto Indonesia berpeluang bergerak dari dominasi ritel menuju struktur yang lebih matang.
  4. Fungsi bursa, kliring, dan kustodian kini dipisahkan untuk memperkuat akuntabilitas.
  5. Indonesia memperlihatkan ambisi untuk membangun kedaulatan infrastruktur aset digital di dalam negeri.

Dengan kombinasi regulasi, modal besar, dan kolaborasi lintas pelaku, ICEx membuka babak baru bagi industri kripto nasional. Jika implementasinya berjalan konsisten, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat infrastruktur aset digital yang siap melayani kebutuhan pasar institusional di kawasan regional.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com
Exit mobile version