Harga perak dunia mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis (2/4/2026) dan ikut melemah bersama emas di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak. Berdasarkan data yang dikutip CNBC pada Jumat (3/4/2026), harga perak spot turun 2,76 persen ke level US$ 73 per ons.
Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset logam mulia. Perak ikut terseret oleh kombinasi faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar AS, kekhawatiran inflasi, hingga tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas.
Dolar AS Menguat, Perak Kian Tertekan
Penguatan dolar AS menjadi salah satu pemicu utama koreksi harga perak. Saat dolar naik, komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli dari negara lain, sehingga permintaan cenderung turun.
Kondisi ini tidak hanya menekan perak, tetapi juga memberi tekanan pada logam mulia lain yang sensitif terhadap pergerakan mata uang. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya lebih berhati-hati menambah eksposur ke aset yang tidak menawarkan imbal hasil rutin.
Tensi Timur Tengah Memperburuk Sentimen
Sentimen pasar ikut memburuk setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan kelanjutan serangan terhadap Iran. Pernyataan itu memicu kekhawatiran baru atas eskalasi konflik dan mendorong pelaku pasar menilai ulang prospek inflasi global.
Harga minyak yang melonjak akibat ketegangan tersebut juga ikut menambah tekanan. Energi yang lebih mahal dapat memicu inflasi lebih tinggi, dan pada akhirnya memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Pandangan Pelaku Pasar
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger mengatakan pasar sedang fokus pada perkembangan konflik energi yang belum mereda. Menurut dia, kondisi itu membuat peluang penurunan suku bunga semakin kecil dan menekan minat terhadap logam mulia.
Pernyataan tersebut menggambarkan posisi perak yang cukup rentan dalam lingkungan suku bunga tinggi. Berbeda dari aset berbunga, perak tidak menghasilkan imbal hasil sehingga daya tariknya melemah ketika biaya peluang memegang aset tersebut meningkat.
Faktor yang Membebani Perak
- Penguatan dolar AS yang membuat harga perak lebih mahal bagi pembeli global.
- Lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.
- Ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
- Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- Berkurangnya minat terhadap aset lindung nilai non-yielding seperti perak.
Kinerja Logam Mulia Lain Ikut Melemah
Tekanan di pasar tidak hanya menimpa perak. Pada periode yang sama, harga emas spot turun 1,72 persen, platinum melemah 0,05 persen, dan paladium terkoreksi 1,3 persen.
Pergerakan serempak ini menunjukkan bahwa sentimen pasar sedang condong ke arah risk-off, saat investor mencari kepastian di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Meski begitu, perak tetap menjadi aset yang unik karena juga dipakai secara luas di sektor industri, sehingga harganya sangat dipengaruhi oleh faktor investasi dan permintaan manufaktur.
Kenapa Perak Rentan Saat Suku Bunga Tinggi
Perak sering dipandang berbeda dari emas karena punya fungsi ganda sebagai logam investasi dan bahan baku industri. Saat suku bunga tinggi bertahan lebih lama, investor cenderung memilih instrumen yang memberi imbal hasil, sementara minat pada logam mulia menurun.
Dalam situasi seperti ini, perak biasanya bergerak lebih sensitif dibanding emas karena dipengaruhi oleh dua arah pasar sekaligus, yaitu permintaan aset aman dan kebutuhan industri. Kombinasi itulah yang membuat harga perak mudah tertekan ketika dolar menguat dan inflasi kembali menjadi perhatian utama pasar.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




