Netanyahu Terjebak Janji Mossad, Runtuhnya Strategi Israel di Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut menghadapi tekanan besar setelah harapan untuk melihat runtuhnya pemerintahan Iran tidak terwujud. Laporan media yang dikutip Suara.com menyebut kekecewaan itu berkaitan dengan penilaian Mossad yang ternyata meleset jauh dari kondisi lapangan, terutama soal prediksi munculnya pemberontakan rakyat Iran setelah serangan militer.

Kisah ini membuka kembali perdebatan tentang seberapa jauh operasi intelijen bisa membentuk hasil perang. Dalam kasus ini, janji perubahan rezim yang semula dijadikan dasar strategi justru berubah menjadi beban politik dan militer bagi Israel di tengah konflik yang terus memanas.

Mossad dan janji yang tidak terbukti

Menurut laporan tersebut, Mossad sebelumnya meyakinkan Netanyahu bahwa serangan ke Iran akan memicu tekanan besar dari dalam negeri. Badan intelijen Israel itu juga disebut percaya bahwa kelompok oposisi bisa digerakkan untuk mendorong kudeta terhadap pemerintah Teheran.

Namun, perkembangan di lapangan tidak berjalan seperti yang diperkirakan. Harapan bahwa warga sipil Iran akan turun ke jalan setelah serangan udara justru tidak muncul dalam skala yang diharapkan.

Rencana yang dibawa ke Washington

Laporan yang sama menyebut kepala Mossad, David Barnea, sempat bertemu Netanyahu sebelum konflik berkembang. Dalam pertemuan itu, Barnea dikatakan memberi keyakinan bahwa skenario pergantian kekuasaan masih sangat mungkin terjadi.

Rencana tersebut kemudian dipaparkan kepada sejumlah pejabat tinggi di Washington pada pertengahan Januari. Strategi itu bahkan disebut mendapat lampu hijau dari Netanyahu dan Presiden AS saat itu, Donald Trump.

Perhitungan politik yang keliru

Netanyahu disebut memakai narasi perubahan rezim untuk memperkuat dukungan politik dan militer dari Amerika Serikat. Dalam kerangka itu, operasi dimulai dengan pembunuhan terhadap jajaran pemimpin tertinggi di Iran, lalu diikuti harapan munculnya gejolak internal.

Trump juga sempat menyampaikan pesan publik kepada rakyat Iran melalui video, dengan mengatakan bahwa “saat kebebasan Anda sudah dekat.” Pernyataan itu ikut memperkuat kesan bahwa skenario besar sedang disiapkan, meski hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

Berikut poin penting dari laporan tersebut:

  1. Mossad memprediksi serangan akan memicu pemberontakan rakyat Iran.
  2. Netanyahu dan Trump disebut sempat memberi dukungan pada skenario itu.
  3. CIA menilai pembunuhan pemimpin Iran bisa melahirkan sosok yang lebih radikal.
  4. Analis militer AS meragukan warga sipil Iran akan bangkit di bawah bombardemen.
  5. Tujuan penggulingan rezim tidak terlihat hasilnya meski perang sudah berjalan.

Intelijen AS memberi tanda bahaya

Di sisi lain, CIA disebut punya pandangan berbeda dari Mossad. Intelijen Amerika menilai pembunuhan terhadap pemimpin Iran justru bisa membuka ruang bagi figur pengganti yang lebih keras dan lebih radikal.

Peringatan serupa juga datang dari sejumlah pihak militer Amerika. Mereka menilai warga sipil tidak akan otomatis berontak hanya karena serangan udara, sehingga asumsi tentang revolusi dari bawah dinilai terlalu optimistis.

Tekanan terhadap Netanyahu makin besar

Kegagalan membaca situasi ini disebut membuat posisi Netanyahu semakin sulit. Dalam laporan itu, ia bahkan disebut khawatir bantuan dari Trump bisa berhenti jika operasi tetap tidak menghasilkan perubahan nyata di Iran.

Sejumlah senator AS juga dikatakan mulai gelisah karena tujuan penggulingan rezim tidak menunjukkan kemajuan berarti. Kondisi ini membuat operasi yang semula dipasarkan sebagai langkah cepat kini terlihat sebagai konflik berkepanjangan tanpa arah yang jelas.

Jarak antara target dan realitas di lapangan

Intelijen militer Israel sendiri disebut melihat pemerintahan Iran masih cukup solid meski berada di bawah tekanan. Artinya, target besar untuk mengguncang struktur kekuasaan Teheran tidak semudah yang dibayangkan sejak awal.

Situasi ini memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga akurasi intelijen dan pembacaan politik yang tepat. Ketika analisis awal meleset, beban terbesarnya justru jatuh ke meja pembuat keputusan seperti Netanyahu.

Laporan tersebut menggambarkan bagaimana satu operasi yang digadang-gadang bisa mengubah peta Timur Tengah malah berbalik menjadi sumber frustrasi politik bagi Israel. Di tengah perang yang belum menunjukkan hasil tegas, Netanyahu kini harus menghadapi konsekuensi dari strategi yang terlalu percaya pada janji Mossad dan terlalu sedikit memperhitungkan kenyataan sosial-politik di Iran.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button