Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank BUMN Berpeluang Perbesar Laba dari UMKM

Dukungan bank-bank BUMN terhadap ekonomi kerakyatan dan UMKM dinilai bukan hanya menjalankan mandat pembangunan, tetapi juga bisa memperkuat profitabilitas. Di tengah perlambatan global, pembiayaan ke sektor produktif yang terkait program pemerintah justru membuka ruang pertumbuhan laba bagi Himbara.

Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, Abdul Manap Pulungan, menilai segmen UMKM masih menjadi salah satu penopang utama karena relatif lebih tahan terhadap gejolak ekonomi. Ia menyebut keterlibatan bank pelat merah dalam program prioritas pemerintah dapat memberi dampak positif bagi fundamental bisnis selama penyaluran kredit tetap dikelola dengan hati-hati.

Peluang laba dari pembiayaan kerakyatan

Manap menilai sektor-sektor yang terkoneksi dengan program pemerintah cenderung tetap bergerak stabil meski ekonomi global masih penuh tekanan. Menurut dia, kondisi itu membuat pembiayaan ke UMKM dan sektor produktif lain tidak hanya relevan secara sosial, tetapi juga menarik secara bisnis.

“Himbara mencetak laba signifikan. Sebagai agent of development, mereka memang harus mendukung program pemerintah, tetapi hal itu juga berdampak positif terhadap fundamental bisnis mereka,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dukungan bank terhadap ekonomi kerakyatan dapat membantu memperluas jangkauan bisnis ke wilayah-wilayah baru yang selama ini belum tergarap optimal. Dalam jangka panjang, ekspansi itu berpeluang menambah basis nasabah, memperbesar transaksi, dan mendorong kenaikan pendapatan.

Ekspansi harus tetap terukur

Meski peluangnya besar, Manap mengingatkan agar bank BUMN tidak terlalu agresif masuk ke segmen yang belum dikuasai. Penyaluran kredit yang terlalu cepat tanpa pengelolaan risiko yang memadai bisa menekan laba dan memperburuk kualitas aset.

“Dukungan terhadap program pemerintah tidak boleh mengabaikan aspek bisnis. Penyaluran kredit harus tetap hati-hati karena akan berdampak pada laba dan kualitas aset ke depan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga fokus pada sektor yang sudah dipahami dengan baik oleh bank. Langkah ini dinilai penting untuk mempertahankan rasio kredit bermasalah atau NPL agar tetap stabil.

“Jika terlalu agresif masuk ke sektor berisiko tinggi yang belum dikuasai, hal itu bisa berdampak pada kinerja laba dan NPL di periode berikutnya,” tambahnya.

Peran UMKM dalam menjaga daya tahan ekonomi

UMKM masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjaga perputaran uang di daerah. Dukungan pembiayaan dari bank BUMN bisa memperkuat daya tahan sektor ini, terutama lewat skema kredit yang disertai penjaminan dan pembinaan usaha.

Dalam konteks ini, bank pelat merah memiliki peluang ganda. Mereka bisa menjalankan fungsi sebagai agen pembangunan sekaligus membangun portofolio bisnis yang lebih luas dan beragam.

Manap menilai arah itu tetap harus didorong selama bank mampu menjaga kualitas penyaluran kredit. Dengan model bisnis yang disiplin, pembiayaan ke ekonomi kerakyatan dapat menjadi sumber pertumbuhan yang berkelanjutan.

Kinerja Bank Mandiri jadi contoh

Strategi memperkuat pembiayaan ke sektor produktif tercermin pada kinerja Bank Mandiri. Hingga Februari 2026, kredit bank tersebut mencapai Rp1.513,1 triliun, tumbuh 15,7% secara tahunan atau year on year (YoY).

Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri juga naik 16,3% YoY menjadi Rp1.644,8 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kepercayaan nasabah masih terjaga di tengah ekspansi bisnis yang dilakukan perseroan.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengatakan laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% YoY menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026. Menurut dia, pertumbuhan itu didorong oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi dari layanan digital.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan produktif dan penguatan layanan digital dapat berjalan beriringan. Bagi bank BUMN, kombinasi itu berpotensi memperluas sumber pendapatan sekaligus menjaga pertumbuhan yang lebih stabil.

Faktor yang menentukan peluang laba bank BUMN

  1. Kualitas penyaluran kredit ke UMKM dan sektor produktif.
  2. Pengelolaan risiko agar NPL tetap terkendali.
  3. Ekspansi yang bertahap ke wilayah baru dengan potensi pasar jelas.
  4. Penguatan layanan digital untuk menambah fee based income.
  5. Fokus pada sektor yang sudah dikuasai agar portofolio tetap sehat.

Dengan strategi yang seimbang, dukungan bank BUMN terhadap ekonomi kerakyatan dapat memberi dampak ganda, yakni memperkuat UMKM dan mendorong kinerja keuangan perseroan. Selama ekspansi dilakukan secara prudent, peluang peningkatan laba bank pelat merah masih terbuka lebar di tengah kebutuhan pembiayaan sektor riil yang terus tumbuh.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com
Exit mobile version