Bursa Asia Menguat Ikuti Wall Street, Pasar Mengamati Risiko Perang AS-Iran

Pasar saham Asia Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Selasa pagi, 7 April 2026, seiring investor merespons penguatan Wall Street dan memantau ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen pasar membaik setelah sejumlah indeks utama di AS ditutup di zona hijau pada perdagangan sebelumnya, meski ancaman konflik geopolitik masih membayangi pergerakan aset berisiko.

Penguatan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global jika ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Harga minyak juga ikut terkerek, mencerminkan sensitivitas investor terhadap perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia.

Pasar Asia Ikut Kaya Sentimen Positif dari Wall Street

Indeks saham di kawasan Asia mencatat awal perdagangan yang solid setelah menjadi penerus reli dari bursa AS. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 melesat 2,3%, menjadi salah satu penguatan terbesar di kawasan pada sesi pagi tersebut.

Di Jepang, Nikkei 225 naik 0,26% dan Topix bertambah 0,23%. Di Korea Selatan, Kospi menguat 1,5% dan Kosdaq naik 0,85%, sementara bursa Hong Kong tidak beroperasi karena libur Paskah.

Kenaikan di pasar saham kawasan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung mengambil posisi pada aset berisiko, meski suasana geopolitik belum stabil. Dalam kondisi seperti ini, arah pergerakan saham Asia sangat dipengaruhi oleh kombinasi antara ekspektasi ekonomi global dan perkembangan politik internasional.

Trump Kembali Beri Tekanan ke Iran

Sentimen utama pasar datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali menekan Iran agar menyepakati langkah damai dalam waktu singkat. Ia bahkan mengancam akan menargetkan infrastruktur sipil jika kesepakatan tidak tercapai dalam kurang dari 24 jam.

Trump juga menegaskan tuntutannya agar Iran membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa pukul 20.00 waktu setempat. Ia mengatakan jalur distribusi energi global harus kembali normal agar risiko terhadap pasokan minyak dunia tidak semakin besar.

“Amerika Serikat akan menghancurkan seluruh jembatan dan pembangkit listrik dalam waktu empat jam jika tenggat waktu tersebut tidak dipenuhi,” ujar Trump dalam pernyataan yang dikutip sumber referensi. Meski begitu, ia juga memberi sinyal bahwa komunikasi kedua pihak masih berjalan.

“Mereka membuat proposal yang cukup signifikan. Belum cukup baik, tetapi itu langkah yang sangat berarti. Kita lihat saja nanti,” kata Trump.

Pernyataan yang saling bertolak belakang ini membuat pasar menilai peluang deeskalasi masih terbuka, tetapi ketidakpastian tetap tinggi. Investor biasanya merespons cepat terhadap sinyal seperti ini karena konflik di kawasan penghasil energi dapat memicu lonjakan harga minyak dan tekanan pada perekonomian global.

Iran Ajukan Proposal Tandingan

Di sisi lain, Iran dilaporkan menolak proposal gencatan senjata dari AS dan justru menawarkan skema tandingan berisi 10 poin. Proposal itu mencakup penghentian konflik secara menyeluruh, jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan program rekonstruksi.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa negosiasi masih berada pada tahap yang sulit. Kedua pihak sama-sama mengklaim memiliki posisi tawar, namun belum terlihat titik temu yang cukup kuat untuk meredakan konflik dalam waktu dekat.

Pasar memperhatikan setiap perkembangan karena Selat Hormuz memegang peran penting dalam distribusi minyak dan gas dunia. Jika jalur itu terganggu, harga energi berpotensi naik lebih tinggi dan menambah tekanan pada inflasi global.

Minyak Naik, Investor Waspadai Efek ke Inflasi

Harga minyak bergerak naik seiring memanasnya konflik. Kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,7% ke level US$ 113,25 per barel, sedangkan Brent Crude menguat sekitar 0,68% ke US$ 109,77 per barel pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama karena dapat memicu efek berantai ke biaya produksi, transportasi, dan harga barang konsumsi. Dalam situasi seperti ini, pasar saham biasanya bergerak hati-hati karena kenaikan harga energi bisa memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi.

Berikut faktor yang paling memengaruhi pasar saat ini:

  1. Ancaman eskalasi konflik AS-Iran.
  2. Risiko terganggunya jalur pelayaran Selat Hormuz.
  3. Kenaikan harga minyak dunia.
  4. Pergerakan positif Wall Street sebagai acuan sentimen regional.
  5. Harapan pasar terhadap kemungkinan negosiasi damai.

Wall Street Jadi Penopang Sentimen Asia

Penguatan bursa Asia juga tidak lepas dari performa positif Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 naik 0,44%, Nasdaq Composite menguat 0,54%, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,36%.

Kinerja tersebut memberi sinyal bahwa investor di Amerika Serikat masih mau masuk ke pasar saham, meski risiko geopolitik belum hilang. Kondisi ini kemudian menular ke Asia, terutama ke pasar yang sensitif terhadap pergerakan sentimen global seperti Australia, Jepang, dan Korea Selatan.

Di tengah pasar yang masih menimbang risiko dan peluang, fokus utama pelaku pasar tetap tertuju pada perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Setiap pernyataan baru dari kedua pihak berpeluang memicu perubahan arah harga saham dan minyak dalam hitungan jam, terutama jika menyangkut keamanan pasokan energi dunia dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version