Mentan Minta Pemda Siaga Kekeringan El Nino, Pemetaan Lahan Jadi Kunci

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta pemerintah daerah segera memetakan wilayah pertanian yang rawan kekeringan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Langkah ini dinilai penting agar produksi pangan tidak terganggu ketika pasokan air mulai menipis di sentra-sentra pertanian.

Amran menegaskan instruksi itu berlaku untuk seluruh gubernur dan bupati. Pemerintah daerah diminta menyiapkan pemetaan wilayah langganan kekeringan sekaligus membangun sistem peringatan dini atau early warning system yang terintegrasi agar respons di lapangan bisa berlangsung cepat.

Fokus utama antisipasi di daerah

Kementerian Pertanian menilai ancaman kekeringan harus ditangani sejak awal, bukan saat sawah dan lahan sudah terlanjur kekurangan air. Dengan pemetaan yang jelas, pemerintah daerah bisa mengetahui lokasi paling rentan dan menentukan prioritas penanganan lebih tepat.

Pendekatan ini juga penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Ketika daerah memiliki data kerawanan yang akurat, distribusi bantuan air, pompa, dan dukungan teknis bisa dilakukan lebih cepat dan efisien.

  1. Memetakan wilayah rawan kekeringan.
  2. Menyiapkan early warning system yang terhubung antarlembaga.
  3. Mengatur respons cepat bila debit air turun.
  4. Mengarahkan bantuan alat dan infrastruktur ke lokasi prioritas.
  5. Menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi iklim.

Strategi pengelolaan air diperkuat

Selain meminta kesiapan daerah, Kementerian Pertanian mengoptimalkan pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan, pembangunan embung, sumur dangkal, sumur dalam, serta pemanfaatan sistem perpipaan dan irigasi perpompaan. Langkah ini dipakai untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian saat kemarau berlangsung lebih panjang.

Pemerintah juga mendorong percepatan masa tanam dengan varietas tahan kekeringan dan pola tanam adaptif. Dalam praktiknya, langkah ini harus diselaraskan dengan kondisi cuaca lokal agar petani tetap bisa berproduksi meski tekanan iklim meningkat.

Alat pertanian dan infrastruktur disiapkan

Untuk mendukung strategi tersebut, pemerintah telah menyiagakan alat dan mesin pertanian secara bertahap, termasuk pompa air, traktor, hand sprayer, dan transplanter. Ketersediaan alat ini diharapkan memudahkan petani melakukan percepatan tanam dan menjaga tanaman tetap bertahan saat pasokan air terbatas.

Amran menyebutkan bahwa sepanjang 2024 hingga 2025, pemerintah telah menyiapkan 171.000 unit alat dan mesin pertanian. Jumlah itu dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapan petani menghadapi dampak perubahan iklim yang kian sulit diprediksi.

Pada 2026, pemerintah menargetkan distribusi 37.000 unit infrastruktur air yang mencakup irigasi perpompaan, perpipaan, konservasi, dan rehabilitasi jaringan tersier. Selain itu, disiapkan tambahan 94.000 unit pompa air untuk mendukung produksi pertanian di berbagai daerah.

Pengalaman menghadapi El Nino sebelumnya

Amran mengatakan Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi fenomena El Nino, termasuk pada 2015, 2023, dan 2024. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk memperkuat mitigasi agar dampaknya terhadap pertanian bisa ditekan lebih dini.

Di lapangan, tantangan utama biasanya muncul pada ketersediaan air, waktu tanam, dan risiko penurunan produktivitas. Karena itu, koordinasi antara kementerian, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani menjadi faktor kunci agar langkah antisipasi tidak berhenti di level kebijakan.

Hal yang disorot pemerintah dalam antisipasi kekeringan

  1. Pemetaan wilayah rawan kekeringan di tiap daerah.
  2. Penyediaan sistem peringatan dini yang terintegrasi.
  3. Rehabilitasi dan perluasan infrastruktur irigasi.
  4. Distribusi pompa air dan alat pertanian pendukung.
  5. Penggunaan varietas tahan kekeringan dan pola tanam adaptif.
  6. Koordinasi lintas sektor agar respons di lapangan lebih cepat.

Fenomena El Nino kerap memicu penurunan curah hujan dan memperpanjang musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Karena itu, kesiapan pemerintah daerah dan petani menjadi penentu agar produksi pertanian tetap terjaga saat tekanan cuaca ekstrem mulai meningkat.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version