Pasar asuransi hewan peliharaan di dunia sedang bergerak cepat, didorong oleh biaya perawatan yang makin mahal dan perubahan cara pandang pemilik hewan. Di Indonesia, tren ini mulai terlihat, tetapi penetrasinya masih rendah dan ruang tumbuhnya masih sangat besar.
Laporan Credence Research memproyeksikan pasar asuransi hewan peliharaan global tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR 11,41 persen hingga 2032. Nilai pasarnya diperkirakan menembus 27 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 461,65 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.098 per dollar AS.
Biaya perawatan jadi pemicu utama
Kenaikan biaya dokter hewan menjadi alasan paling kuat di balik tumbuhnya asuransi hewan peliharaan. Pemilik hewan kini menghadapi tagihan yang tidak kecil untuk operasi, rawat inap, diagnosis, dan pengobatan penyakit kronis.
Money.com pada Jumat (10/4/2026) menyebut asuransi hewan umumnya memberi penggantian biaya untuk diagnosis, rawat inap, operasi, dan pengobatan akibat sakit atau kecelakaan. Data industri juga menunjukkan biaya perawatan seumur hidup anjing naik sekitar 12 persen, sementara untuk kucing meningkat hampir 20 persen sejak 2022.
Fenomena pet humanization mendorong pasar
Selain biaya kesehatan, ada perubahan perilaku konsumen yang ikut membesarkan pasar ini. Banyak pemilik hewan kini memperlakukan peliharaan sebagai anggota keluarga, sebuah tren yang dikenal sebagai pet humanization.
Perubahan itu membuat permintaan terhadap perlindungan yang lebih lengkap ikut naik. Polis yang mencakup penyakit dan kecelakaan menjadi produk paling dominan, dengan pangsa sekitar 71 persen pada 2024.
Di kategori hewan, anjing masih memimpin jauh dengan kontribusi hampir 78 persen dari total pasar. Dominasi ini menggambarkan bahwa perlindungan finansial bagi hewan yang paling banyak dipelihara masih menjadi kebutuhan utama.
Peta pasar masih dikuasai negara maju
Distribusi pasar global menunjukkan ketimpangan yang jelas antara negara maju dan negara berkembang. Amerika Utara memimpin dengan pangsa sekitar 52 persen pada 2024, disusul Eropa yang hampir mencapai 31 persen.
Asia Pasifik berada di posisi berikutnya dengan pangsa sekitar 11 persen, lalu Amerika Latin sekitar 4 persen dan Timur Tengah serta Afrika sekitar 2 persen. Komposisi tersebut menunjukkan pasar yang sudah matang terkonsentrasi di wilayah dengan adopsi asuransi lebih tinggi.
Inovasi produk mulai mempercepat adopsi
Industri ini juga bergerak lewat digitalisasi layanan. Sistem klaim online, integrasi tele-veteriner, dan produk berbasis wellness mulai banyak ditawarkan untuk membuat layanan lebih mudah diakses.
Persaingan antarpemain ikut mendorong otomatisasi proses, penyesuaian harga, dan kemitraan dengan klinik hewan. Namun, rasio klaim yang tinggi dan literasi yang rendah di negara berkembang masih menjadi tantangan besar bagi perusahaan.
Berikut beberapa komponen umum yang biasanya ada dalam polis asuransi hewan peliharaan:
- Perlindungan kecelakaan saja.
- Perlindungan kecelakaan dan penyakit.
- Tambahan wellness untuk layanan rutin.
- Reimbursement atau tingkat penggantian biaya.
- Deductible sebagai biaya awal yang ditanggung pemilik.
- Batas klaim tahunan.
Indonesia masih tertinggal di Asia Pasifik
Di Indonesia, produk asuransi hewan peliharaan masih berada pada tahap awal. Jumlah penyedia masih terbatas, penetrasi pasar rendah, dan pemahaman masyarakat tentang manfaat produk ini belum merata.
Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, menilai meningkatnya peran hewan peliharaan sebagai bagian dari keluarga sebagai peluang baru bagi industri. Ia menyebut biaya rawat inap dan tindakan operasi hewan di Indonesia masih umumnya ditanggung sendiri oleh pemilik.
Ogi juga menegaskan bahwa pasar Asia Pasifik menunjukkan pertumbuhan tinggi, tetapi Indonesia masih tertinggal dalam penetrasi. Kondisi ini, menurut OJK, membuka ruang besar bagi pengembangan produk yang inovatif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Tantangan utama ada pada literasi dan akses
Keterbatasan produk di pasar lokal membuat asuransi hewan belum menjadi kebiasaan umum. Banyak pemilik hewan masih memilih menanggung sendiri biaya perawatan, terutama karena belum memahami cara kerja polis, masa tunggu, hingga pengecualian seperti kondisi yang sudah ada sebelumnya.
Masa tunggu juga menjadi faktor penting karena klaim biasanya tidak dapat diajukan jika penyakit muncul dalam periode tersebut. Di sisi lain, layanan rutin seperti vaksinasi dan sterilisasi umumnya tidak masuk perlindungan dasar, kecuali ada paket wellness tambahan.
Dengan biaya perawatan hewan yang terus naik dan gaya hidup perkotaan yang makin dekat dengan hewan peliharaan, pasar Indonesia memiliki peluang yang nyata. Tantangan ke depan berada pada edukasi, perluasan produk, serta kemampuan industri membangun kepercayaan konsumen tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan perlindungan nasabah.
