Kolaborasi Sucofindo dan Japan Quality Assurance Organization (JQA) menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat daya saing ekspor Indonesia ke Jepang. Kerja sama ini menargetkan harmonisasi standar, sertifikasi, pengujian, dan inspeksi agar produk Indonesia lebih mudah memenuhi persyaratan pasar Jepang yang terkenal ketat.
Upaya tersebut juga relevan dengan agenda pemerintah memperluas akses perdagangan dan meningkatkan kualitas industri nasional. Di tengah penguatan hubungan ekonomi Indonesia–Jepang, peran lembaga pemastian mutu seperti Sucofindo menjadi semakin strategis untuk menjembatani kebutuhan eksportir dan standar internasional.
Kerja Sama yang Menyentuh Langsung Kebutuhan Ekspor
Sucofindo memperluas layanannya ke Jepang melalui kemitraan strategis dengan JQA. Ruang lingkupnya mencakup pengembangan layanan sertifikasi dan akses pasar, pengujian dan inspeksi, serta penguatan skema sertifikasi bersama.
Direktur Utama Sucofindo, Sandry Pasambuna, mengatakan perusahaan bertugas membantu industri nasional memenuhi standar internasional yang makin ketat. Ia menegaskan bahwa kolaborasi ini diarahkan untuk membuka pasar yang lebih luas, khususnya Jepang, sekaligus meningkatkan kepercayaan global terhadap produk Indonesia.
Sebagai perusahaan di bidang testing, inspection, and certification atau TIC, Sucofindo juga berperan menjaga kepatuhan industri terhadap regulasi. Fungsi ini penting karena banyak produk ekspor gagal masuk pasar tujuan bukan karena kualitas dasar yang buruk, tetapi karena belum sepenuhnya sesuai dengan standar teknis dan dokumentasi yang diminta.
Harmonisasi Standar Jadi Kunci
Direktur Operasi Sucofindo, Dani Pramantyo, menyebut kerja sama dengan mitra Jepang ini merupakan bagian dari transformasi perusahaan. Tujuannya adalah mengintegrasikan proses operasional dengan standar global agar layanan menjadi lebih seragam, efisien, dan siap bersaing.
Penyelarasan standar tidak hanya berdampak pada proses internal perusahaan. Langkah ini juga memperkuat pengakuan internasional terhadap hasil pengujian dan sertifikasi dari Indonesia, yang pada akhirnya dapat memperlancar arus perdagangan dengan Jepang.
Berikut manfaat utama dari harmonisasi standar yang didorong kolaborasi ini:
- Mempercepat proses sertifikasi produk ekspor.
- Meningkatkan kepercayaan pembeli dan regulator Jepang.
- Memperkuat efisiensi operasional layanan TIC.
- Membuka peluang pasar baru bagi pelaku industri nasional.
Dorongan untuk Ekspor Berkelanjutan
Kolaborasi Sucofindo dan JQA juga tidak berdiri sendiri. Kerja sama ini sejalan dengan tuntutan pasar global yang kini semakin menekankan aspek keberlanjutan, transparansi, dan jejak rantai pasok.
Sucofindo memperkuat layanan pemastian biomassa kelapa sawit sebagai bagian dari ekosistem energi hijau. Perusahaan menampilkan kapabilitas tersebut dalam ajang International Biomass Expo di Tokyo Big Sight, Jepang, sebagai sinyal bahwa Indonesia siap memenuhi kebutuhan energi berkelanjutan dengan standar yang dapat diverifikasi.
Layanan yang ditawarkan mencakup pengambilan sampel dan pengujian, verifikasi kuantitas, verifikasi keberlanjutan, serta traceability assurance. Dalam praktiknya, layanan ini membantu memastikan rantai pasok lebih transparan dan sesuai dengan tuntutan ESG atau Environmental, Social, and Governance.
Selain itu, Sucofindo juga mengembangkan layanan berbasis keberlanjutan lain seperti audit lingkungan, konsultasi ESG, green mining, green smelter, sustainable procurement, eco-label, green building, green port, pengembangan energi baru terbarukan, hingga Carbon Capture, Utilization, and Storage atau CCUS.
Selaras dengan Penguatan Hubungan Indonesia–Jepang
Langkah Sucofindo dan JQA muncul di saat hubungan ekonomi Indonesia–Jepang memasuki fase yang lebih intensif. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya bertemu dengan 13 pimpinan perusahaan besar Jepang di Tokyo sebagai bagian dari kunjungan resmi untuk memperkuat kerja sama bilateral.
Pemerintah Indonesia dan Jepang juga telah menyepakati 10 nota kesepahaman senilai sekitar 23,1 miliar dollar AS atau setara Rp 381,15 triliun. Angka itu menunjukkan bahwa Jepang tetap menjadi mitra ekonomi utama bagi Indonesia, baik sebagai pasar ekspor maupun sumber investasi.
Jepang sendiri merupakan tujuan ekspor terbesar keempat Indonesia dengan nilai 17,61 miliar dollar AS atau sekitar Rp 290,56 triliun. Jepang juga menjadi salah satu investor utama dengan realisasi 3,13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 51,65 triliun, sehingga penguatan standar mutu dipandang penting untuk menjaga momentum perdagangan kedua negara.
Arah Baru bagi Pelaku Industri Nasional
Kerja sama antara Sucofindo dan JQA memberi sinyal bahwa ekspor ke Jepang tidak lagi hanya bergantung pada volume produksi, tetapi juga pada kesiapan memenuhi standar mutu, keselamatan, dan keberlanjutan. Bagi pelaku industri nasional, kolaborasi ini membuka peluang untuk masuk ke rantai pasok yang lebih besar dengan dukungan sertifikasi yang lebih kredibel.
Di sisi lain, penguatan layanan TIC dan pemastian keberlanjutan dapat membantu Indonesia memosisikan diri sebagai pemasok yang lebih siap dalam pasar global yang makin selektif. Dalam konteks itu, kolaborasi Sucofindo dan JQA berpotensi menjadi salah satu pengungkit penting bagi ekspor Indonesia ke Jepang pada periode mendatang.







