
IHSG bergerak positif pada perdagangan Jumat, 12 April 2026, setelah sentimen global membaik akibat meredanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia naik 147,08 poin atau 2,15 persen ke level 6.979, didorong optimisme pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional.
Penguatan ini menjadi pembalikan arah setelah pasar sempat dihantui tekanan berat dari ketegangan tarif dua ekonomi terbesar dunia tersebut. Respons investor terlihat cepat karena kabar kesepakatan penurunan tarif memberi sinyal bahwa risiko perlambatan ekonomi global mulai menurun.
Sentimen Global Jadi Pemicu Utama
Pendorong terbesar kenaikan IHSG datang dari hasil negosiasi intensif antara AS dan China di Jenewa, Swiss, yang berlangsung selama dua hari pada 10-11 Mei 2025. Dalam perundingan tersebut, AS menyetujui penurunan tarif impor produk dari China dari 145 persen menjadi 30 persen, sedangkan China memangkas tarif atas berbagai produk asal AS dari 125 persen menjadi 10 persen.
Langkah itu dinilai pasar sebagai sinyal deeskalasi yang signifikan. Ketika risiko perang dagang mereda, investor cenderung kembali ke aset berisiko seperti saham karena prospek laba perusahaan dan arus perdagangan global dianggap lebih stabil.
Sektor Penggerak IHSG
Penguatan IHSG tidak terjadi secara sempit, melainkan merata di sejumlah sektor utama. Sektor infrastruktur, energi, dan transportasi tercatat memimpin kenaikan, sejalan dengan ekspektasi bahwa aktivitas ekonomi dan mobilitas akan membaik bila tensi global terus mereda.
Di sisi lain, sektor teknologi justru menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kinerja negatif. Pergerakan ini menunjukkan adanya rotasi sektor di pasar, saat investor mengalihkan dana ke saham-saham yang dianggap lebih sensitif terhadap pemulihan ekonomi.
Berikut ringkasan sektor yang menonjol pada perdagangan tersebut:
- Infrastruktur: menguat dan menjadi salah satu penopang indeks.
- Energi: mendapat dorongan dari sentimen pemulihan aktivitas ekonomi.
- Transportasi: ikut naik seiring ekspektasi pergerakan barang dan jasa.
- Teknologi: terkoreksi di tengah penguatan sektor lain.
Pasar Pulih Setelah Tekanan Berat
Kenaikan IHSG hari ini juga penting karena terjadi setelah indeks sempat mengalami tekanan besar dalam beberapa hari sebelumnya. Pada periode itu, IHSG merosot hingga 7 persen dan memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt oleh Bursa Efek Indonesia.
Tekanan tersebut diperburuk oleh penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs dari overweight menjadi market weight, serta meningkatnya net sale dari investor asing. Kombinasi faktor itu sempat menekan kepercayaan pasar dan membuat volatilitas meningkat tajam.
Sebelumnya, hanya Indonesia yang indeks sahamnya bergerak merah di kawasan Asia, sementara pasar lain justru menguat. Kondisi itu sempat memunculkan kekhawatiran bahwa pasar domestik sedang mengalami krisis kepercayaan, sebagaimana disorot oleh ekonom dari UGM.
Valuasi Masih Menarik di Mata Pasar
Dari sisi valuasi, IHSG dinilai masih terjangkau dibandingkan historisnya. Berdasarkan rasio price-to-earning, indeks berada di bawah minus 1 standar deviasi dari rata-rata historis, dan juga lebih rendah dibandingkan rata-rata historis valuasi pasar saham negara berkembang di Asia.
Kondisi itu memberi ruang bagi investor yang mencari saham dengan harga relatif murah. Di tengah kepemilikan asing yang tercatat berada di level terendah dalam 10 tahun terakhir, pelaku pasar domestik memiliki peluang lebih besar untuk mengambil peran dalam menjaga likuiditas dan stabilitas perdagangan.
Prospek Perdagangan Berikutnya
Untuk sesi berikutnya, analis mencermati level support IHSG di 6.970 dan resistance di 7.029. Arah indeks akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan dagang AS-China, arus dana asing, serta data ekonomi domestik yang dapat memperkuat atau melemahkan sentimen pasar.
Dalam situasi seperti ini, investor disarankan tetap memperhatikan kualitas emiten, diversifikasi portofolio, dan disiplin mengelola risiko. Penguatan IHSG memang menunjukkan sentimen yang membaik, tetapi pasar saham tetap sensitif terhadap perubahan kebijakan global dan data makroekonomi yang bergerak cepat.









