PNBP Berpotensi Tambah Rp 30 Triliun, Kemenkeu Kaji Windfall Di Tengah Risiko Harga Turun

Pemerintah tengah mengkaji skema tambahan penerimaan dari sektor sumber daya alam yang berpotensi menambah PNBP sekitar Rp15 triliun hingga Rp30 triliun. Peluang ini muncul di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas global, terutama batu bara, nikel, tembaga, dan CPO, yang ikut mengerek penerimaan negara tanpa perlu perubahan kebijakan yang besar.

Meski begitu, kajian ini tidak lepas dari kehati-hatian. Risiko ketidakpastian geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah, serta kemungkinan normalisasi harga pada paruh kedua periode berjalan membuat pemerintah diminta tidak terlalu agresif saat merevisi target pendapatan.

Pemerintah Kaji Windfall di Luar Penerimaan Normal

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyebut kenaikan harga komoditas sudah memberi dorongan pada penerimaan negara. Dalam pembahasan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pemerintah kini menimbang kemungkinan menarik tambahan windfall dari sektor mineral dan energi.

Skema windfall merujuk pada penerimaan tambahan ketika harga komoditas melonjak di atas asumsi dasar anggaran. Dalam konteks ini, Kemenkeu melihat ada ruang untuk memperkuat PNBP selama harga komoditas bertahan tinggi dan struktur produksi tetap mendukung.

Namun, Febrio belum menyebut angka pasti karena pembahasan kebijakan masih berjalan. Pemerintah juga masih menilai berbagai komoditas yang berpeluang memberi kontribusi tambahan, termasuk nikel yang menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia.

Ruang Tambahan PNBP Masih Bergantung pada Harga dan Produksi

Sejumlah ekonom menilai potensi tambahan penerimaan memang terbuka, tetapi tidak bisa dibaca secara linear. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan tambahan PNBP dari sektor komoditas bisa berada pada kisaran Rp15 triliun hingga Rp30 triliun sepanjang tahun depan.

Josua menilai pemerintah perlu tetap konservatif dalam merevisi target penerimaan. Ia menyoroti bahwa harga mineral yang sedang naik tetap menyimpan risiko, terutama jika ketegangan di Timur Tengah mereda atau harga komoditas kembali normal pada semester kedua.

Selain itu, volume produksi batu bara juga diproyeksikan lebih rendah secara tahunan pada tahun depan. Artinya, kenaikan harga belum tentu otomatis menghasilkan lonjakan penerimaan negara jika volume produksi justru melemah.

Perkiraan Tambahan Pendapatan dari Sejumlah Komoditas

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, memberikan proyeksi yang lebih lebar. Ia menaksir tambahan pendapatan dari nikel, batu bara, dan tembaga bisa mencapai Rp20 triliun hingga Rp90 triliun, atau berada di atas target PNBP Minerba yang dipatok sebesar Rp134 triliun.

Menurut Myrdal, potensi itu hanya akan tercapai jika beberapa syarat terpenuhi. Harga komoditas harus bertahan di atas asumsi, RKAB perlu direvisi naik, dan instrumen seperti bea keluar atau windfall tax harus berjalan efektif.

Ia juga menilai target resmi PNBP Minerba sebesar Rp134 triliun cukup realistis karena lebih rendah dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp138,37 triliun. Dalam pandangannya, pemerintah sudah memasang target dengan mempertimbangkan pemangkasan produksi di sektor hulu.

Faktor yang Menahan Potensi Windfall

Analis komoditas dan Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai kebijakan pemangkasan kuota produksi lewat RKAB memberi efek ganda. Di satu sisi, langkah itu bisa menjaga harga nikel di kisaran US$17.000 per ton, tetapi di sisi lain membatasi volume ekspor dan penerimaan.

Sutopo juga menyoroti kondisi batu bara yang saat ini masih kuat di atas US$130 per ton, tetapi menghadapi pembatasan produksi sekitar 600 juta ton. Dalam situasi seperti ini, peluang tambahan setoran negara tetap ada, namun tidak sebesar saat harga naik tanpa hambatan produksi.

Untuk tembaga, ia menyebut belum optimalnya operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave milik PT Freeport Indonesia ikut menahan potensi ekspor. Pada saat momentum harga sedang tinggi, keterlambatan produksi membuat negara kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan penerimaan.

Gambaran Angka dan Kondisi Pasar

Berikut ringkasan faktor utama yang ikut membentuk potensi tambahan PNBP:

FaktorKeterangan
Potensi tambahan PNBPRp15 triliun hingga Rp30 triliun
Proyeksi lebih agresifRp20 triliun hingga Rp90 triliun
Target PNBP MinerbaRp134 triliun
Realisasi PNBP MinerbaRp138,37 triliun
Harga nikel LMEUS$17.088 per ton
Harga tembaga LMEUS$12.671 per ton
Harga batu bara ICE NewcastleUS$137,9 per ton

Data pasar terkini menunjukkan nikel di London Metal Exchange diperdagangkan di US$17.088 per ton, sementara tembaga berada di US$12.671 per ton. Batu bara untuk kontrak pengiriman bulan mendatang di ICE Newcastle juga masih kuat di US$137,9 per ton, menandakan ruang penerimaan negara masih terbuka jika harga bertahan dan produksi tidak tertekan terlalu dalam.

Di tengah kondisi itu, Kementerian Keuangan tetap berhitung cermat agar potensi windfall tidak berubah menjadi target yang terlalu optimistis. Pemerintah kini menimbang kombinasi antara harga komoditas, volume produksi, dan efektivitas instrumen fiskal sebelum memutuskan besaran tambahan penerimaan yang paling realistis.

Terkait