Presiden Prabowo Subianto menepis narasi yang menyebut Indonesia berada di ambang kolaps. Ia menilai sejumlah indikator menunjukkan ekonomi nasional masih terjaga meski dunia menghadapi ketidakpastian.
Pesan itu disampaikan Prabowo saat memimpin panen raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia meminta masyarakat tidak larut dalam pandangan pesimistis terhadap masa depan Indonesia.
Prabowo mengkritik anggapan bahwa Indonesia selalu berada dalam kondisi buruk dan akan segera jatuh. Ia menyebut narasi semacam itu terus diulang dari bulan ke bulan tanpa mengubah arah kerja pemerintah.
"Jangan membebek kepada kekuatan asing terus. Indonesia jelek, Indonesia apa? Indonesia gelap. Kalau pakai kacamata gelap ya gelap terus," ujar Prabowo.
Menurutnya, pemerintah memilih melanjutkan pekerjaan dan program pembangunan ketimbang terpaku pada sentimen negatif. Ia juga mengaitkan optimisme dengan keberanian untuk terus bergerak menghadapi tantangan.
"Kalau di tentara ada istilah, tinggalkan, beri tanda. Kita jalan terus. Kita bekerja dengan semangat, gembira, semangat optimistis," kata Prabowo.
Ekonomi dan proyek strategis
Optimisme pemerintah, menurut Prabowo, didasarkan pada hasil yang mulai terlihat di sejumlah sektor. Ia mengatakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah melaporkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia berada dalam keadaan baik.
Dalam laporan www.beritasatu.com, Prabowo turut menyoroti proyek strategis nasional LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Proyek tersebut disebut akhirnya mulai dikerjakan setelah tertunda selama 28 tahun.
Pemerintah menempatkan pengembangan energi sebagai salah satu bagian dari penguatan ekonomi jangka panjang. Langkah ini mencakup pemanfaatan sumber energi domestik serta pengembangan bahan bakar berbasis komoditas dalam negeri.
| Program Energi | Tahap yang Disebut Pemerintah | Tujuan Utama |
|---|---|---|
| Biodiesel B50 | Campuran 50% minyak sawit | Menghentikan impor solar |
| Bioetanol | Menuju E10, lalu E20 | Campuran bensin dan penguatan energi terbarukan |
B50 dan penghentian impor solar
Prabowo menyebut Indonesia telah mencetak sejarah melalui penerapan Biodiesel B50, bahan bakar yang mengandung campuran 50% minyak sawit. Kebijakan ini dinilai memungkinkan Indonesia menghentikan impor solar dari luar negeri mulai Juli.
"Jadi mulai Juli ini kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati petani-petani seluruh Indonesia," ucapnya.
Menurut Prabowo, penghentian impor solar membuat anggaran yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar dari luar negeri dapat berputar di dalam negeri. Ia menilai kebijakan itu juga dapat meningkatkan manfaat ekonomi bagi petani sawit di berbagai daerah.
Target bioetanol dan pabrik baru
Selain B50, pemerintah tengah mempercepat pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin. Indonesia disebut sedang menuju penerapan E10 atau campuran 10% etanol, sebelum meningkatkan campuran tersebut menjadi E20.
Untuk mendukung target itu, pemerintah berencana membangun hingga 50 pabrik etanol baru di berbagai daerah. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya memperbesar kapasitas pengolahan dan pemanfaatan etanol di dalam negeri.
Prabowo meyakini pengembangan bioetanol, peningkatan produksi energi terbarukan, dan proyek strategis nasional dapat memperkuat ketahanan energi. Dalam pandangannya, langkah tersebut juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Source: www.beritasatu.com






