Proyek Pipa Minyak 60 Miliar Dollar AS Disiapkan, Irak Cari Jalan Keluar dari Hormuz

Irak dan sejumlah perusahaan Amerika Serikat menyepakati kemitraan bernilai sekitar 60 miliar dollar AS, dengan pembangunan jalur ekspor minyak alternatif sebagai salah satu fokus utamanya. Proyek ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan ekspor energi pada Selat Hormuz yang kembali menjadi titik rawan di tengah konflik kawasan.

Jalur pipa baru itu diproyeksikan membuka akses minyak Irak menuju pasar global melalui Suriah dan Turkiye. Rencana tersebut menjadi penting karena gangguan di Selat Hormuz dapat langsung memengaruhi arus minyak dunia serta harga energi internasional.

Rute ekspor baru dari Basra ke pesisir Mediterania

Pemerintah Irak dan Suriah telah menyepakati percepatan rehabilitasi serta rekonstruksi jaringan pipa minyak Irak-Suriah. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyambut kesepakatan itu dan mendukung keterlibatan konsorsium internasional yang dipimpin perusahaan AS untuk aspek teknis serta pembiayaannya.

Berdasarkan keterangan pejabat Irak, jaringan tersebut akan menghubungkan Basra di Irak selatan dengan Haditha di Irak barat. Dari sana, aliran minyak direncanakan diteruskan menuju Pelabuhan Ceyhan di Turkiye dan Pelabuhan Baniyas di pesisir Suriah.

IndikatorNilaiKeterangan
Nilai kemitraanSekitar 60 miliar dollar ASMencakup energi, kesehatan, komunikasi, dan infrastruktur
Kapasitas pipa Irak-SuriahSekitar 2 juta barel per hariDitujukan membuka jalur ekspor minyak baru
Kapasitas tujuh proyek pipa kawasanSekitar 14 juta barel per hariPerkiraan kapasitas total pada akhir 2028
Volume melalui Selat Hormuz sebelum perangSekitar 23 juta barel per hariMenjadi pembanding kebutuhan jalur alternatif

Menurut laporan money.kompas.com yang mengutip AP News, penandatanganan kerja sama dilakukan di Kamar Dagang Amerika Serikat pada Jumat, 17 Juli 2026. Kesepakatan itu hadir ketika ketegangan AS dan Iran kembali mengganggu lalu lintas energi di Timur Tengah.

Selat Hormuz selama ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Ancaman penutupan jalur tersebut membuat harga minyak dan gas mudah bergejolak karena banyak negara bergantung pada rute laut itu.

Pada perdagangan Jumat sore waktu setempat, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI naik hampir 5 persen menjadi 88 dollar AS per barrel. Sebelum konflik pecah, harga minyak berada di kisaran 67 dollar AS per barrel dan sempat menembus 110 dollar AS per barrel pada awal April.

Chevron menambah komitmen di Irak

Sehari sebelum penandatanganan, Perdana Menteri Irak Ali Falah al-Zaidi bertemu jajaran eksekutif Chevron di Houston. Dalam pertemuan itu, ia mendorong perusahaan energi AS tersebut memperluas sekaligus mempercepat investasi di Irak.

Al-Zaidi menyatakan Irak kini membidik investasi dan kemitraan jangka panjang, bukan sekadar kontraktor untuk mengerjakan proyek. Ia juga menegaskan komitmen pemerintahnya memperkuat komunikasi dengan Kamar Dagang Amerika Serikat.

Chevron di Irak kemudian menandatangani tiga perjanjian dengan pemerintah setempat. Dua perjanjian ditujukan untuk meningkatkan produksi minyak, sedangkan satu perjanjian lainnya berfokus pada investasi jaringan pipa bagi jalur ekspor baru.

Presiden Pengembangan Bisnis Korporasi Chevron Jake Spiering mengatakan pembangunan jaringan pipa itu penting bagi keamanan energi. Duta Besar AS untuk Turkiye Thomas Barrack bahkan menyebut program tersebut dapat membuat Selat Hormuz tidak lagi menjadi faktor utama.

Tantangan waktu dan biaya pembangunan

Meski proyek pipa dipandang strategis, waktu operasinya sebagai pengganti efektif Selat Hormuz belum diketahui. Goldman Sachs memperkirakan pembangunan pipa di satu negara saja memerlukan sedikitnya dua setengah tahun, sementara proyek ini akan melintasi dua negara atau lebih.

Goldman Sachs juga memperkirakan terdapat tujuh proyek jaringan pipa yang sedang dikembangkan di kawasan tersebut. Seluruh proyek itu diperkirakan dapat mengalihkan sekitar 60 persen volume minyak yang saat ini melewati Selat Hormuz pada akhir 2028.

Sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Iran beberapa kali mengancam menutup Selat Hormuz. Irak berada dalam posisi sulit karena memiliki cadangan minyak besar, menjadi lokasi pangkalan militer AS, dan menjadi basis sejumlah kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Suriah kemudian dipromosikan sebagai jalur transit energi alternatif meski masih menghadapi dampak perang saudara selama 14 tahun. Sebagian minyak Irak telah dialihkan menggunakan truk menuju Suriah untuk diekspor melalui Pelabuhan Baniyas, tetapi jalur darat dinilai lebih mahal dan kurang efisien dibandingkan pengiriman laut.

Perlintasan utama di perbatasan Irak utara dan Suriah juga kembali dibuka pada April 2026 setelah tertutup lebih dari satu dekade. Jalur tambahan itu dapat mendukung ekspor energi, sementara pembangunan pipa diharapkan memberi kapasitas yang lebih besar dan efisien menuju Suriah maupun Turkiye.

Source: money.kompas.com
Terkait