Defisit Anggaran AS Naik Tipis, Rp 2.802 Triliun Terseret Refund Pajak Dan Bantuan Petani

Pemerintah Amerika Serikat melaporkan defisit anggaran yang naik tipis pada Maret 2026. Nilainya mencapai 164 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 2.802 triliun, menurut data Departemen Keuangan AS yang dikutip Money.

Kenaikan itu setara dengan sekitar 4 miliar dollar AS atau 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan tekanan dari sisi penerimaan dan belanja negara di tengah perubahan kebijakan fiskal.

Pemicu utama defisit

Salah satu faktor yang mendorong pelebaran defisit adalah kebijakan pemotongan pajak baru untuk individu dan korporasi. Kebijakan ini memicu lonjakan pembayaran pengembalian pajak atau refund yang harus ditanggung pemerintah.

Selain itu, bantuan kepada sektor petani juga ikut menambah beban anggaran. Di saat yang sama, belanja terkait konflik di Iran belum menunjukkan lonjakan besar pada data bulanan tersebut.

Pejabat Departemen Keuangan AS menyebut sebagian besar pengeluaran perang, termasuk pengisian ulang persediaan senjata, baru akan muncul pada bulan-bulan berikutnya. Artinya, dampak penuh dari konflik terhadap anggaran belum seluruhnya tercermin dalam angka Maret.

Gambaran penerimaan dan belanja

Penerimaan negara AS pada Maret tercatat sebesar 385 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 6.579 triliun. Angka itu naik 17 miliar dollar AS atau 5 persen dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, total belanja pemerintah mencapai 549 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 9.382 triliun. Pengeluaran itu naik 21 miliar dollar AS atau 4 persen secara tahunan, sehingga selisih antara pendapatan dan belanja tetap melebar.

Berikut ringkasan data kunci yang terlihat dari laporan tersebut:

  1. Defisit anggaran: 164 miliar dollar AS
  2. Kenaikan tahunan defisit: 4 miliar dollar AS atau 2 persen
  3. Penerimaan negara: 385 miliar dollar AS
  4. Belanja pemerintah: 549 miliar dollar AS
  5. Penerimaan bea masuk: 22,2 miliar dollar AS

Tekanan dari bea masuk melemah

Pelemahan penerimaan bea masuk juga memberi sinyal tambahan terhadap anggaran federal. Pada Maret, bea masuk tercatat 22,2 miliar dollar AS, turun dari 26,6 miliar dollar AS pada Februari.

Angka itu juga lebih rendah dibandingkan kisaran 30 miliar dollar AS per bulan pada akhir tahun lalu. Penurunan ini terjadi setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global luas yang sebelumnya diberlakukan melalui undang-undang darurat oleh Presiden Donald Trump.

Meski turun dari bulan sebelumnya, penerimaan bea masuk tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2025. Saat itu nilainya hanya 8,2 miliar dollar AS, yang menunjukkan bahwa kebijakan perdagangan masih memberi pengaruh besar terhadap kas negara.

Defisit yang lebih besar jika dihitung penyesuaian kalender

Jika penyesuaian kalender terkait pembayaran manfaat ikut diperhitungkan, defisit Maret diperkirakan bisa mencapai 250 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 4.272 triliun. Proyeksi itu menunjukkan kenaikan 9 miliar dollar AS atau 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Perbedaan angka ini penting karena kalender pembayaran manfaat dapat menggeser pencatatan pengeluaran antarbuan. Dalam praktiknya, defisit bulanan sering tampak lebih besar atau lebih kecil tergantung waktu realisasi pembayaran.

Data terbaru ini menegaskan bahwa anggaran federal AS masih menghadapi tekanan dari kombinasi pemotongan pajak, kenaikan belanja, dan melemahnya salah satu sumber penerimaan utama. Dengan belanja perang yang belum sepenuhnya tercermin dan bea masuk yang menurun dari bulan sebelumnya, arah defisit pada bulan-bulan berikutnya masih akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan perkembangan geopolitik.

Exit mobile version