Aceh Tak Menyerah, 39 Lokasi Lumpur Pascabanjir Masih Dikebut Pembersihannya

Pemerintah daerah dan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Aceh terus mempercepat pembersihan lumpur pascabanjir di sejumlah wilayah terdampak. Kepala Pos Komando Wilayah Aceh Satgas PRR, Safrizal ZA, menegaskan tidak ada sikap menyerah dalam penanganan di lapangan, meski pekerjaan yang tersisa masih membutuhkan tenaga besar dan waktu yang tidak singkat.

Safrizal menjelaskan bahwa istilah “berat” yang sempat ramai dibicarakan di media sosial bukan berarti tim kewalahan, melainkan gambaran nyata dari medan kerja yang memang menuntut upaya ekstra. “Bagi kami berat itu bermakna kita harus kerja keras dan tidak pernah menyerah,” ujarnya, seraya menekankan bahwa proses pembersihan dijalankan secara bertahap dan terukur.

Pembersihan Sudah Tuntas di Mayoritas Lokasi

Berdasarkan data operasional Satgas, dari 519 lokasi sasaran di Aceh, sebanyak 480 lokasi telah dibersihkan sepenuhnya. Sisa 39 lokasi lainnya masih dalam tahap on-going karena berada di kawasan pemukiman padat dan memiliki drainase sempit yang memerlukan penanganan manual lebih teliti.

Kondisi ini membuat proses pembersihan tidak bisa diselesaikan dengan cara cepat atau menggunakan alat berat semata. Petugas harus masuk ke gang-gang sempit, mengangkat endapan lumpur secara manual, dan memastikan lingkungan kembali layak dihuni serta aman bagi warga.

Personel Dikerahkan ke Titik-Titik Krusial

Untuk mempercepat penyelesaian, Satgas menambah dukungan personel di titik prioritas. Di Aceh Tamiang, personel Praja IPDN ikut diterjunkan untuk membantu pembersihan fasilitas publik dan lingkungan warga agar bisa segera digunakan kembali.

Langkah ini menunjukkan bahwa percepatan pemulihan tidak hanya bergantung pada tim teknis pemerintah daerah. Keterlibatan unsur kedinasan, aparat, dan masyarakat ikut menjadi faktor penting agar pekerjaan lapangan bisa bergerak lebih cepat dan lebih rapi.

Padat Karya Libatkan Warga Terdampak

Selain pengerahan personel, pemerintah juga menggenjot program Cash for Work atau Padat Karya Tahap II. Di Pidie Jaya, khususnya Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, program ini berjalan aktif dengan total 392 peserta yang terlibat dalam pembersihan.

Komposisi peserta di wilayah itu terdiri atas 300 warga lokal, 80 personel Satpol PP dan BPBD, serta 12 personel TNI/Polri. Gelombang pertama kegiatan sudah berlangsung pada 6-8 April dan dijadwalkan berlanjut pada 14-17 April.

  1. 300 warga lokal terlibat langsung di lapangan.
  2. 80 personel Satpol PP dan BPBD ikut mendukung kerja pembersihan.
  3. 12 personel TNI/Polri mendampingi pelaksanaan kegiatan.
  4. Gelombang pertama berlangsung 6-8 April.
  5. Gelombang lanjutan dijadwalkan 14-17 April.

Menurut Safrizal, skema padat karya memberi dua manfaat sekaligus, yakni mempercepat pemulihan lingkungan dan menghadirkan keterlibatan langsung masyarakat terdampak. Pola kerja seperti ini juga membantu warga memperoleh penghasilan sementara sembari memulihkan wilayahnya sendiri.

Fokus Beralih ke Pemukiman

Safrizal menegaskan bahwa infrastruktur vital dan jalan nasional pada Tahap I telah selesai 100 persen sejak Januari lalu. Karena itu, fokus Satgas saat ini bergeser ke pembersihan lingkungan pemukiman yang menjadi kebutuhan paling mendesak bagi warga.

Ia juga meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh potongan informasi yang tidak utuh di media sosial. Menurut dia, data operasional di lapangan menunjukkan pekerjaan terus berjalan dan hasilnya bisa diverifikasi, sehingga publik diminta melihat perkembangan secara utuh dan tidak hanya dari narasi yang beredar.

Pemerintah memastikan seluruh pekerjaan akan terus dikebut sampai lokasi terakhir benar-benar selesai. Setelah pembersihan rampung, tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi berikutnya diharapkan bisa berjalan lebih cepat agar warga Aceh dapat kembali beraktivitas normal di lingkungan yang bersih, aman, dan layak huni.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id
Exit mobile version