Rupiah Bertahan Di Rp17.105, Intervensi BI Dan Daya Beli Jadi Penopang Utama

Nilai tukar rupiah bertahan stagnan di level Rp17.105 per dolar AS pada penutupan perdagangan spot, Senin (13/4/2026). Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal yang datang dari gejolak geopolitik dan penguatan dolar AS.

Data pasar juga menunjukkan rupiah relatif lebih kuat dibanding banyak mata uang Asia lain yang justru melemah lebih dalam. Kondisi tersebut menegaskan bahwa dukungan Bank Indonesia dan sentimen domestik masih berperan penting dalam menahan pelemahan mata uang Garuda.

Intervensi BI Jadi Penopang Utama

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai stabilnya rupiah hari ini tidak lepas dari langkah tegas Bank Indonesia di pasar valas. Bank sentral disebut terus menyiapkan seluruh instrumen moneter secara terukur, berkesinambungan, dan tepat waktu untuk meredam volatilitas.

Pernyataan BI itu memberi sinyal kuat kepada pelaku pasar bahwa otoritas moneter tidak akan membiarkan tekanan berlangsung terlalu lama. Dalam kondisi seperti ini, intervensi menjadi penting untuk menjaga ekspektasi pasar agar tidak bergerak terlalu liar.

Daya Beli Domestik Masih Menahan Tekanan

Selain dukungan BI, data ekonomi domestik juga ikut memberi bantalan bagi rupiah. Lukman menyebut penjualan ritel Indonesia tumbuh lebih kuat dari perkiraan pasar, yang mengindikasikan daya beli masyarakat masih solid meski tekanan global meningkat.

Sinyal ini penting karena pasar kerap menilai stabilitas rupiah bukan hanya dari faktor eksternal, tetapi juga dari ketahanan ekonomi dalam negeri. Ketika konsumsi rumah tangga tetap bergerak, investor biasanya melihat fundamental Indonesia masih cukup sehat.

Tekanan Global Masih Menjadi Risiko Besar

Meski demikian, rupiah belum bisa sepenuhnya lepas dari sentimen luar negeri. Pasar global saat ini minim rilis data ekonomi utama, sehingga perhatian investor lebih banyak tertuju pada eskalasi ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah.

Ketidakpastian itu mendorong pelaku pasar mencari aset aman seperti dolar AS dan emas. Dalam situasi seperti ini, mata uang negara berkembang cenderung lebih mudah tertekan karena investor mengurangi risiko portofolio mereka.

Pergerakan Rupiah Lebih Stabil Dibanding Mata Uang Asia Lain

Jika dibandingkan dengan mata uang kawasan, performa rupiah hari ini tergolong lebih tahan banting. Rupee India tercatat melemah 0,65 persen, baht Thailand turun 0,47 persen, dan won Korea Selatan terkoreksi 0,32 persen terhadap dolar AS.

Tekanan juga dialami peso Filipina yang melemah 0,28 persen, yen Jepang turun 0,21 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,19 persen, dolar Singapura melemah 0,13 persen, dan yuan China turun tipis 0,07 persen. Di tengah pelemahan serentak itu, rupiah yang bergerak datar menunjukkan stabilitas relatif yang lebih baik.

Faktor yang Menopang Rupiah Hari Ini

  1. Intervensi aktif Bank Indonesia di pasar valas.
  2. Data penjualan ritel domestik yang lebih kuat dari ekspektasi.
  3. Daya beli masyarakat yang masih terjaga.
  4. Pelemahan indeks dolar AS yang sempat mereda.
  5. Harga minyak mentah yang mulai turun dari lonjakan sebelumnya.

Lukman Leong menilai kombinasi faktor tersebut membuat rupiah tidak jatuh lebih dalam, meski tekanan eksternal masih terasa kuat. Ia juga memperkirakan BI akan tetap masuk pasar jika volatilitas meningkat lagi dalam waktu dekat.

Arah Rupiah Masih Bergantung Pada Sentimen Global

Ke depan, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif karena pasar belum mendapatkan kepastian yang cukup dari sisi eksternal. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, selera risiko investor kemungkinan tetap terbatas dan dolar AS masih berpeluang mendapat dukungan.

Namun, selama Bank Indonesia menjaga stabilitas melalui intervensi yang terukur dan data domestik tetap menunjukkan ketahanan, rupiah masih memiliki ruang untuk bertahan. Pada perdagangan hari ini, level Rp17.105 per dolar AS menjadi bukti bahwa kombinasi kebijakan moneter dan fundamental ekonomi mampu menahan tekanan yang datang dari luar.

Baca selengkapnya di: www.suara.com
Exit mobile version