
Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas rupiah yang ditutup di level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin. Tekanan terhadap mata uang domestik datang dari volatilitas global, eskalasi konflik di Timur Tengah, serta arus modal keluar yang masih membayangi pasar negara berkembang.
Langkah ini muncul saat rupiah melemah tipis 0,006 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.104. Secara tahun berjalan, rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 1,91 persen, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar finansial global dan perubahan arah sentimen investor.
Intervensi dilakukan di banyak lini
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang tersedia. BI melakukan intervensi secara terukur, berkelanjutan, dan tepat waktu di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Non-Deliverable Forward (NDF).
BI juga mengaktifkan pemantauan pasar internasional selama 24 jam. Kantor perwakilan di London dan New York ikut digunakan untuk membaca pergerakan pasar global secara langsung dan merespons perubahan yang bisa menekan rupiah lebih dalam.
“Kami akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang kami miliki,” kata Destry Damayanti dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta. Pernyataan itu menunjukkan BI tidak hanya fokus pada pelemahan harian, tetapi juga pada stabilitas yang lebih luas di tengah gejolak eksternal.
Fokus BI bukan hanya kurs
Selain menjaga nilai tukar, BI juga mempertahankan pertumbuhan uang inti atau base money di atas 10 persen untuk mendukung penyaluran kredit perbankan. Kebijakan ini penting karena stabilitas rupiah perlu berjalan seiring dengan likuiditas yang cukup agar sektor riil tetap mendapat dukungan pembiayaan.
Di sisi lain, BI memperketat tata kelola transaksi valuta asing. Untuk transaksi valas di atas US$ 50 ribu, nasabah wajib menyertakan dokumen pendukung agar aliran dana lebih jelas dan tidak mudah dimanfaatkan untuk spekulasi.
Langkah pengawasan ini menambah rambu bagi pelaku pasar yang melakukan transaksi dalam jumlah besar. Dengan begitu, BI ingin memastikan permintaan valas berasal dari kebutuhan ekonomi yang sah, bukan semata-mata untuk bermain di tengah volatilitas.
Faktor fundamental tetap berperan
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyebut pergerakan rupiah juga sangat dipengaruhi fundamental neraca perdagangan. Data Februari 2026 menunjukkan surplus perdagangan Indonesia mencapai US$ 1,27 miliar, naik 33,7 persen secara bulanan dari Januari 2026 yang sebesar US$ 0,95 miliar.
Surplus ini menjadi salah satu penyangga rupiah karena menandakan adanya aliran devisa dari aktivitas ekspor. Meski begitu, penguatan fundamental tidak selalu cukup meredam tekanan jangka pendek jika sentimen global sedang memburuk.
Berikut tiga faktor yang saat ini paling memengaruhi arah rupiah:
- Volatilitas pasar global akibat ketegangan geopolitik.
- Arus modal keluar dari pasar keuangan domestik.
- Kekuatan fundamental eksternal, termasuk surplus neraca perdagangan.
Perluasan transaksi mata uang lokal
Untuk jangka panjang, BI terus memperluas skema Local Currency Transaction atau LCT dengan sejumlah negara mitra. Kerja sama ini berjalan dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan dan transaksi lintas negara.
Hingga akhir 2025, nilai transaksi menggunakan mata uang lokal itu mencapai US$ 25,7 miliar. Angka tersebut melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan menunjukkan minat yang makin besar dari pelaku usaha terhadap skema lindung nilai dan pembayaran non-dolar.
Perluasan LCT memberi ruang bagi dunia usaha untuk lebih efisien dalam bertransaksi. Dalam situasi pasar global yang mudah berubah, strategi ini juga membantu menekan risiko nilai tukar pada perdagangan dan investasi bilateral.
Sinyal kebijakan tetap defensif
Pendekatan BI memperlihatkan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama di tengah tekanan eksternal yang belum mereda. Selama ketidakpastian global masih tinggi, pasar kemungkinan tetap mencermati seberapa jauh intervensi BI mampu menjaga rupiah agar bergerak lebih stabil tanpa mengganggu likuiditas domestik.









