
Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Amerika Serikat memblokade kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran, menyusul kegagalan perundingan damai kedua negara. Pada akhir perdagangan Senin waktu setempat, pasar energi langsung bereaksi karena investor menilai pasokan minyak global kembali berada dalam risiko besar.
Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran bahwa jalur utama distribusi energi internasional bisa terganggu lebih jauh. Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif karena sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair dunia melintas di jalur tersebut.
Brent dan WTI Sama-Sama Menguat
Harga minyak Brent naik 4,16 dolar AS atau 4,4 persen menjadi 99,36 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI naik 2,51 dolar AS, setara 2,6 persen, ke level 99,08 dolar AS per barel, menurut laporan Reuters.
Lonjakan ini menunjukkan pasar merespons cepat setiap sinyal yang mengarah pada gangguan pasokan. Pelaku pasar kini menilai konflik geopolitik tidak lagi sekadar isu diplomasi, tetapi sudah berubah menjadi faktor yang langsung memengaruhi harga energi global.
Ketidakpastian Sikap Washington Menambah Volatilitas
Gejolak pasar juga dipicu oleh sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai berubah-ubah antara ancaman keras dan harapan terhadap kesepakatan damai. Ketidakpastian ini membuat pasar sulit membaca arah kebijakan berikutnya dan mendorong spekulasi di pasar berjangka.
Perang yang masih berlangsung telah menekan stabilitas pasokan minyak dan gas, terutama karena kawasan Timur Tengah memegang peran besar dalam rantai distribusi energi dunia. Setiap ancaman terhadap pelayaran di sekitar kawasan itu langsung memicu kekhawatiran akan efek berantai pada harga bahan bakar.
Dampak Langsung ke Konsumen
Kenaikan harga energi mulai terasa di berbagai negara karena biaya bahan bakar ikut terdorong naik. Di Amerika Serikat, harga bensin dan solar disebut telah mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022, memperlihatkan cepatnya transmisi gejolak geopolitik ke tingkat konsumen.
Kondisi ini juga membuat pemerintah di sejumlah wilayah harus bersiap menghadapi tekanan inflasi baru. Harga energi yang tinggi biasanya ikut menekan ongkos transportasi, distribusi barang, hingga biaya produksi industri.
Respons Negara Besar dan Lembaga Energi
Arab Saudi dilaporkan akan mengurangi pasokan minyak ke China pada Mei mendatang. Di sisi lain, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen meminta negara-negara anggota Uni Eropa berkoordinasi untuk merespons lonjakan harga energi, setelah tagihan bahan bakar fosil naik 22 miliar euro sejak perang dimulai.
Kepala Badan Energi Internasional atau IEA, Fatih Birol, menyatakan negara-negara anggota siap melepas cadangan minyak strategis jika diperlukan. Ia tetap berharap langkah tersebut tidak perlu diambil, namun pernyataannya menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi dari lembaga energi dunia.
Sinyal Pasar Masih Campuran
Analis RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai harga di pasar berjangka berpotensi mengikuti lonjakan pasar fisik bila blokade AS benar-benar diterapkan penuh. Pandangan ini memperkuat anggapan bahwa tekanan harga belum tentu berhenti dalam waktu dekat jika jalur pasokan tetap tertahan.
Namun, sebagian analis masih melihat peluang meredanya ketegangan. Direktur energi berjangka Mizuho, Bob Yawger, mengatakan gencatan senjata masih bertahan dan kedua pihak masih melanjutkan komunikasi.
- Selat Hormuz tetap menjadi jalur paling krusial bagi pengiriman energi dunia.
- Pasar minyak sangat sensitif terhadap keputusan politik dan militer di kawasan tersebut.
- Harga bahan bakar di negara konsumen utama berisiko tetap tinggi jika ketegangan berlanjut.
“Sudah beberapa hari sejak Iran menyerang negara-negara tetangganya, dan AS serta Israel belum menyerang Iran. Mungkin ada secercah harapan di ujung terowongan,” kata Yawger, menggambarkan masih terbukanya ruang deeskalasi di tengah pasar yang tetap waspada.









