Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu krisis pangan global jika distribusi energi dan pupuk terus terhambat. Peringatan ini muncul karena jalur maritim tersebut menjadi rute penting bagi arus barang pertanian dunia, termasuk komoditas yang menopang produksi pangan di banyak negara.
FAO menilai keterlambatan pengiriman input pertanian bisa menekan hasil panen dalam jangka panjang. Tekanan itu berisiko memicu kenaikan harga pangan secara bertahap, dengan dampak yang diperkirakan mulai terasa menjelang akhir tahun ini hingga periode berikutnya.
Selat Hormuz dan risiko pasokan global
Selat Hormuz bukan hanya jalur penting bagi energi, tetapi juga simpul vital bagi distribusi pupuk dan kebutuhan dasar pertanian. Menurut data FAO, sekitar 20 hingga 45 persen ekspor pangan dan komoditas pertanian utama bergantung pada jalur laut melalui selat tersebut.
Gangguan berkepanjangan di wilayah ini berpotensi menimbulkan efek berantai di pasar internasional. Saat kapal pengangkut pupuk dan energi tertahan, biaya produksi pertanian dapat naik dan pasokan di banyak negara menjadi lebih rapuh.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menegaskan urgensi kelancaran logistik dalam situasi ini. “Kapal-kapal yang membawa pupuk dan energi perlu melanjutkan perjalanan sesegera mungkin. Waktu terus berjalan,” ujarnya.
Tekanan bagi petani dan pasar pangan
FAO melihat dampak paling cepat akan dirasakan pada kalender tanam di berbagai wilayah. Ketersediaan pupuk sangat menentukan keputusan petani, sementara keterlambatan pasokan dapat membuat mereka menunda atau mengubah rencana tanam.
Dalam jangka pendek, indeks harga pangan pada Maret 2026 masih tergolong stabil karena pasokan sereal dunia melimpah. Namun, FAO memperkirakan tekanan inflasi akan mulai meningkat pada April dan menjadi lebih kuat saat memasuki Mei, ketika petani mulai mengevaluasi kebutuhan input untuk musim tanam berikutnya.
Berikut faktor utama yang dipantau FAO dalam ancaman ini:
- Kelancaran pengiriman pupuk dan energi.
- Ketergantungan perdagangan pangan pada jalur Selat Hormuz.
- Respons petani terhadap ketersediaan input pertanian.
- Kemungkinan lonjakan harga pangan di pasar internasional.
- Dampak lanjutan terhadap inflasi dan kebijakan ekonomi nasional.
Negara miskin paling rentan
FAO menilai negara-negara miskin akan menjadi kelompok paling terdampak jika gangguan logistik berlanjut. Negara dengan cadangan pangan terbatas umumnya lebih sensitif terhadap lonjakan harga dan kelangkaan barang, sehingga guncangan di pasar global dapat segera menjalar ke konsumsi rumah tangga.
Kepala Divisi Ekonomi Agrifood FAO, David Laborde, menyebut dunia sudah berada dalam fase krisis input pertanian. Ia memperingatkan bahwa situasi ini tidak boleh berkembang menjadi krisis yang lebih besar dan sulit dikendalikan.
Risiko tersebut juga bisa memaksa banyak pemerintah melakukan intervensi harga di pasar domestik. Jika inflasi pangan naik tajam, kebijakan itu dapat menekan ruang fiskal dan memengaruhi stabilitas ekonomi negara, terutama bila disertai dampak El Nino yang memperburuk produksi pertanian.
Dampak yang bisa menjalar ke ekonomi global
Kenaikan harga pangan bukan hanya persoalan konsumsi rumah tangga, tetapi juga dapat memengaruhi arah suku bunga dan pertumbuhan ekonomi. Bila tekanan inflasi menyebar ke banyak negara, bank sentral bisa menghadapi dilema antara menahan inflasi dan menjaga momentum pemulihan ekonomi.
FAO menempatkan ancaman Selat Hormuz sebagai masalah logistik yang bisa berubah menjadi persoalan sistemik. Karena itu, stabilitas jalur pelayaran, pasokan pupuk, dan distribusi energi kini menjadi faktor penting yang menentukan ketahanan pangan dunia dalam beberapa bulan ke depan.
