Harga LPG nonsubsidi 12 kilogram dilaporkan naik di sejumlah wilayah dan menembus Rp210.000 per tabung di tingkat pengecer resmi. Kementerian ESDM dan Pertamina kini memantau pergerakan harga itu sambil memastikan stok nasional tetap aman di tengah tekanan pasokan global.
Fenomena kenaikan harga muncul saat pasar migas internasional bergejolak setelah penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi impor. Di lapangan, harga di wilayah Pondok Labu, Jakarta Selatan, dan Ciputat, Tangerang Selatan, naik sekitar Rp10.000 dari harga biasa, sementara harga resmi Bright Gas 12 kg di aplikasi MyPertamina tercatat Rp197.000 per tabung.
Situasi pasokan LPG nasional
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut stok LPG nasional masih dalam kondisi aman dengan ketahanan sekitar 11 hari. Ia menegaskan kontrak pembelian dari luar negeri tetap berjalan, meski pemerintah terus mencari sumber pasokan baru untuk mempercepat ketersediaan di dalam negeri.
Laode juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying. Menurut dia, kelangkaan sering muncul bukan hanya karena pasokan menipis, tetapi juga akibat pembelian berlebih, gangguan transportasi, dan faktor bencana alam yang menghambat distribusi.
Respons Pertamina
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan perusahaan terus menjaga persediaan agar cukup untuk kebutuhan masyarakat. Pertamina juga mendorong penghematan energi secara masif karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor LPG.
Ketergantungan impor itu tercatat mencapai 83,97 persen dari total kebutuhan nasional. Kondisi ini membuat harga domestik lebih rentan terhadap perubahan pasar global, terutama saat terjadi gangguan di jalur perdagangan utama dan kenaikan biaya suplai dari luar negeri.
Data konsumsi dan sumber impor
Data Ditjen Migas menunjukkan konsumsi LPG nasional selama Januari hingga Februari mencapai 1,56 juta metrik ton, atau rata-rata 26.000 metrik ton per hari. Dari total itu, produksi dalam negeri hanya menyumbang 130.000 metrik ton, sedangkan porsi terbesar masih dipenuhi dari impor.
Berikut komposisi impor LPG Indonesia per 1 April:
| Negara asal | Porsi impor |
|---|---|
| Amerika Serikat | 68,91% |
| Uni Emirat Arab | 11,83% |
| Arab Saudi | 7,36% |
| Qatar | 5,21% |
| Australia | 3,81% |
Dominasi pasokan dari Amerika Serikat menunjukkan rantai suplai LPG Indonesia masih bertumpu pada sumber luar negeri. Dalam situasi seperti ini, perubahan harga global atau hambatan logistik dapat langsung terasa di pasar dalam negeri, termasuk pada harga LPG 12 kilogram di tingkat ritel.
Langkah pemerintah memperkuat pasokan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa kendala stok telah ditangani sejak 4 April, dengan cadangan berada di atas 10 hari. Untuk memperkuat suplai rumah tangga, pemerintah juga menginstruksikan seluruh kilang LPG swasta agar mengalihkankan penjualan produk industri mereka ke PT Pertamina Patra Niaga.
Kebijakan itu diarahkan untuk menjaga ketersediaan LPG bagi konsumen rumah tangga di tengah kebutuhan yang terus tinggi. Di saat yang sama, pengawasan harga di tingkat pengecer tetap menjadi perhatian agar kenaikan tidak meluas dan tidak memberatkan masyarakat yang bergantung pada LPG 12 kilogram untuk kebutuhan sehari-hari.
Pantauan Kementerian ESDM dan Pertamina diperkirakan terus berlanjut selama pasar energi global belum stabil. Selama pasokan impor masih mendominasi struktur kebutuhan nasional, setiap gangguan di jalur perdagangan dan distribusi berpotensi memengaruhi harga LPG nonsubsidi di berbagai daerah.
