Ancaman Trump Ke Powell Guncang Pasar RI, Rupiah Dan IHSG Makin Rentan

Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ketua The Federal Reserve Jerome Powell kembali menjadi perhatian pasar karena berpotensi memicu volatilitas di Indonesia. Ancaman Trump untuk memecat Powell jika tidak mundur setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada 15 Mei 2026 membuat investor global cenderung masuk ke aset aman.

Di pasar keuangan Indonesia, dampaknya mulai terlihat pada rupiah, saham, dan arus dana asing. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai isu ini bukan sekadar pergantian pimpinan bank sentral AS, tetapi juga menyentuh independensi The Fed yang selama ini menjadi salah satu jangkar kepercayaan pasar global.

Tekanan ke rupiah meningkat

Josua menyebut efek paling nyata bagi Indonesia adalah kenaikan volatilitas rupiah, bukan hanya soal penguatan atau pelemahan. Nilai tukar rupiah saat ini masih bergerak di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.150 per dollar AS, sehingga pasar sensitif terhadap setiap perkembangan baru dari Washington.

Pergerakan seperti ini sering membuat pelaku pasar menahan transaksi besar dan menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS. Kondisi tersebut biasanya memperlebar rentang fluktuasi harian rupiah dan meningkatkan biaya lindung nilai bagi korporasi.

IHSG ikut tertekan

Tekanan juga muncul di pasar saham, karena investor asing cenderung mengurangi eksposur saat risiko global meningkat. Pada perdagangan Kamis (16/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan berada di level 7.596, turun 0,36 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Jika dilihat sejak awal tahun, pelemahan IHSG sudah melampaui 12,36 persen. Angka itu menunjukkan bahwa pasar domestik tidak hanya dipengaruhi faktor internal, tetapi juga rentan terhadap gejolak eksternal yang berasal dari kebijakan dan komentar pejabat ekonomi Amerika Serikat.

Arus modal asing masih keluar

Data transaksi menunjukkan investor asing mencatat net outflow sekitar 1,78 miliar dollar AS sepanjang kuartal I 2026. Tekanan ini terkonsentrasi di pasar saham dan obligasi karena pelaku pasar memilih posisi defensif saat arah kebijakan The Fed terasa lebih tidak pasti.

Dalam situasi seperti ini, obligasi negara berkembang dan saham berkapitalisasi besar biasanya ikut mengalami tekanan jual. Berikut ringkasan risiko yang paling sering muncul ketika tensi politik AS terhadap bank sentral naik:

  1. Rupiah lebih mudah berfluktuasi dalam jangka pendek.
  2. IHSG bisa menghadapi aksi jual asing yang lebih agresif.
  3. Imbal hasil obligasi berpotensi naik karena investor meminta premi risiko lebih tinggi.
  4. Sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti properti dan perbankan, bisa bergerak lebih hati-hati.

Bantalan eksternal Indonesia masih kuat

Meski tekanan meningkat, Indonesia masih memiliki penyangga dari sisi eksternal. Cadangan devisa tercatat sebesar 148,3 miliar dollar AS pada akhir Maret 2026, atau setara 5,8 bulan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Bagi pasar, posisi cadangan devisa ini penting karena memberi ruang bagi otoritas moneter untuk meredam gejolak jika tekanan di pasar valas semakin besar. Dengan bantalan tersebut, guncangan dari luar belum otomatis berubah menjadi krisis, selama respons kebijakan tetap cepat dan terukur.

Respons kebijakan akan menentukan arah pasar

Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan lebih lama untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi dari harga minyak yang tinggi. Sikap ini sejalan dengan kebutuhan menjaga selisih imbal hasil agar aset rupiah tetap menarik di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, Powell masih memiliki hak secara hukum untuk menjabat sebagai anggota dewan gubernur The Fed hingga 2028 meski masa jabatannya sebagai ketua berakhir. Status itu membuat pasar akan terus memantau apakah tekanan politik dari Trump hanya menjadi retorika, atau berkembang menjadi faktor baru yang benar-benar mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS.

Terkait