
Badan Pangan Nasional atau Bapanas memastikan stok kedelai nasional masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sampai akhir April 2026. Kepastian ini muncul karena cadangan kedelai saat ini berada di level 322.000 ton, sementara konsumsi bulanan di dalam negeri berada di kisaran 220.000 hingga 230.000 ton.
Ketersediaan itu dinilai masih mencukupi karena pasokan kedelai tidak hanya bertumpu pada satu sumber. Bapanas menyebut cadangan tersebut berasal dari gabungan produksi petani lokal dan kebijakan impor yang berjalan untuk menjaga keseimbangan pasokan di pasar.
Pasokan untuk industri tahu dan tempe
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menegaskan bahwa kebutuhan kedelai nasional sebagian besar terserap oleh pelaku usaha kecil dan menengah. Sekitar 90 persen permintaan kedelai digunakan untuk mendukung produksi tahu dan tempe di berbagai daerah.
Pernyataan itu menunjukkan besarnya peran kedelai dalam rantai pangan harian masyarakat. Karena itu, stabilitas pasokan menjadi perhatian utama agar aktivitas produksi para perajin tidak terganggu oleh lonjakan harga atau keterlambatan distribusi.
Sarwo menyampaikan bahwa stok yang tersedia saat ini masih terjaga hingga akhir April. Ia mengatakan, “Kaitan dengan ketersediaan stok bahwa saat ini sampai dengan akhir April, stok kedelai kita masih 322.000 ton.”
Pengawasan harga impor diperketat
Selain memastikan stok cukup, pemerintah juga menaruh perhatian pada kepatuhan pelaku impor terhadap aturan harga. Bapanas menegaskan bahwa Harga Acuan Penjualan atau HAP kedelai ditetapkan sebesar Rp 11.500 per kilogram di tingkat importir, sedangkan batas maksimal di tingkat konsumen akhir berada di angka Rp 12.000 per kilogram.
Aturan ini dipakai untuk mencegah harga bergerak terlalu jauh dari ketentuan pemerintah. Sarwo menegaskan bahwa pengawasan akan dilakukan sampai ke hulu bila harga kedelai di pasar melampaui batas yang ditentukan.
Ia menjelaskan, jika ditemukan importir menjual di atas Rp 11.500 per kilogram, maka ada konsekuensi tegas bagi pelaku usaha tersebut. “Misalnya harga kedelai lebih Rp 12.000, kita sisir ke hulu, apabila kedapatan ada importir menjual lebih Rp 11.500 maka otomatis importir tersebut untuk impor berikutnya akan diberhentikan dan izinnya akan dicabut,” ujarnya.
Harga pasar masih di bawah batas atas
Pantauan Bapanas juga menunjukkan harga kedelai impor di tingkat perajin masih bergerak di bawah batas atas yang ditetapkan pemerintah. Dalam sepekan terakhir, harga rata-rata tercatat berada pada kisaran Rp 11.266 hingga Rp 11.320 per kilogram.
Posisi harga tersebut berarti masih lebih rendah sekitar 5,6 persen hingga 6,1 persen dibandingkan HAP Rp 12.000 per kilogram. Kondisi ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga kestabilan pasar tanpa menambah tekanan langsung pada perajin tahu dan tempe.
Dorongan agar produksi dalam negeri naik
Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong penguatan produksi kedelai dalam negeri agar ketergantungan pada impor bisa berkurang secara bertahap. Upaya ini dijalankan melalui kolaborasi Bapanas dengan Kementerian Pertanian dalam program pengembangan kedelai.
Sarwo menyebut program tersebut menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk memperbesar volume produksi domestik. Ia berharap peningkatan itu bisa terjadi secara bertahap dalam satu tahun ke depan sehingga kebutuhan pasar lebih banyak dipenuhi dari dalam negeri.
“Bapak Menteri Pertanian dalam tahun ini ada program pengembangan kedelai. Mudah-mudahan nanti secara bertahap kedelai dalam negeri, produksinya meningkat, otomatis akan menurunkan impor,” kata Sarwo.
Dengan stok yang masih berada di atas kebutuhan bulanan dan harga impor yang relatif terkendali, pemerintah saat ini memusatkan perhatian pada dua hal sekaligus, yaitu menjaga distribusi tetap lancar dan memperkuat pasokan domestik. Langkah tersebut menjadi penting karena kedelai memegang peran besar dalam keberlanjutan usaha tahu dan tempe yang dikonsumsi luas oleh masyarakat Indonesia.









