IHSG Hijau Saat Asia Merah, Ada Apa Dengan Bursa Jakarta?

IHSG tetap bertahan di zona hijau saat mayoritas bursa Asia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (17/4/2026). Berdasarkan data Stockbit, indeks domestik ditutup naik tipis 12,62 poin atau 0,165 persen ke level 7.634,004 pada akhir sesi II.

Penguatan ini juga tercermin pada indeks saham unggulan LQ45 yang naik 0,203 persen ke posisi 758,866. Di saat yang sama, pasar regional justru bergerak tertekan, sehingga kinerja IHSG tampil lebih baik dibandingkan banyak bursa utama Asia.

Perdagangan domestik tetap ramai

Aktivitas di Bursa Efek Indonesia menunjukkan transaksi yang cukup besar meski pergerakan indeks tidak terlalu agresif. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp 15,50 triliun dengan volume perdagangan 40,56 miliar lembar saham.

Frekuensi transaksi juga tinggi, yakni 2,31 juta kali. Angka ini memperlihatkan minat pasar masih terjaga, walau arah pergerakan indeks berjalan terbatas.

Saham-saham yang paling menonjol

Di daftar saham dengan kenaikan terbesar, NIRO memimpin penguatan setelah melonjak 34,74 persen ke harga 256. Di bawahnya, DEFI naik 34,71 persen ke 163, disusul AGAR yang menguat 25,00 persen ke 280.

Kinerja positif juga terlihat pada GMTD dan RISE. GMTD naik 24,92 persen ke 1.905, sementara RISE menguat 24,61 persen ke 2.380.

Di sisi lain, sejumlah saham justru masuk daftar pelemahan terbesar. AYLS turun 14,91 persen ke 194, PSDN terkoreksi 14,66 persen ke 163, BIKE melemah 14,60 persen ke 585, SMDM turun 12,33 persen ke 640, dan WMUU terkoreksi 12,22 persen ke 79.

BBCA catat transaksi terbesar

Dari sisi nilai transaksi, Bank Central Asia (BBCA) mencatatkan nilai perdagangan terbesar sebesar Rp 1,01 triliun. Posisi ini menegaskan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Aliran transaksi yang besar pada saham bank jumbo juga memberi gambaran bahwa investor tetap aktif memilih emiten likuid. Meski begitu, pergerakan indeks tetap menunjukkan kehati-hatian karena kenaikannya berlangsung sangat terbatas.

Rupiah ikut tertekan

Berbeda dengan IHSG, rupiah justru menutup perdagangan dengan pelemahan. Mata uang Garuda terkoreksi 0,280 persen atau turun 0,05 poin ke level Rp 17.185 per dolar AS dibandingkan posisi pembukaan pagi.

Pergerakan ini memperlihatkan bahwa penguatan saham domestik tidak sepenuhnya diikuti oleh mata uang. Tekanan pada rupiah muncul saat pasar menimbang arah sentimen global yang masih cenderung hati-hati.

Asia mayoritas merah

Tekanan di kawasan Asia terlihat jelas dari penutupan bursa-bursa utama. Jepang, Hong Kong, China, dan Singapura sama-sama berakhir di zona merah, menandakan sentimen regional yang kurang mendukung.

Nikkei 225 di Jepang mencatat pelemahan paling dalam dengan koreksi 1,76 persen ke 58.475,90. Hang Seng di Hong Kong turun 0,89 persen ke 26.160,33, sedangkan Straits Times Singapura melemah 0,16 persen ke 4.999,77.

SSE Composite China juga ikut terkoreksi, meski tipis, sebesar 0,10 persen ke 4.051,43. Data Yahoo Finance memperkuat gambaran bahwa pasar Asia bergerak seragam ke bawah, sementara IHSG justru mampu menjaga posisinya di area penguatan tipis.

Exit mobile version