Dana Moneter Internasional atau IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 menjadi 3,1 persen. Revisi ini muncul setelah konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak dunia dan menambah tekanan terhadap perekonomian global.
Dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia, IMF sebelumnya memperkirakan pertumbuhan global berada di level 3,3 persen pada Januari. Perubahan proyeksi itu menunjukkan bahwa gejolak geopolitik masih menjadi faktor besar yang memengaruhi arah ekonomi dunia, terutama melalui jalur energi dan inflasi.
Harga energi ikut mendorong inflasi
IMF menilai kenaikan harga minyak tidak berdiri sendiri, karena efek lanjutannya merambat ke biaya produksi, logistik, dan harga barang kebutuhan. Laporan tersebut juga mencatat kenaikan perkiraan inflasi global, sejalan dengan lonjakan harga energi dan komoditas pangan yang terus menekan daya beli masyarakat di banyak negara.
Ketegangan yang melibatkan Iran memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas infrastruktur energi di kawasan tersebut. IMF bahkan memperingatkan adanya potensi resesi jika perang di Timur Tengah berlangsung lebih lama dan mengganggu suplai energi dunia.
Amerika Serikat merasakan tekanan harga grosir
Di Amerika Serikat, indeks harga produsen naik 0,5 persen pada Maret, menandakan adanya tekanan pada harga grosir. Meski biaya energi meningkat, indikator inti yang tidak memasukkan pangan dan energi hanya naik 0,1 persen, sehingga memberi gambaran bahwa tekanan harga belum merata di seluruh sektor.
Di sisi lain, pasar energi di AS juga menunjukkan penyesuaian yang cepat. Ekspor minyak Amerika Serikat mencetak rekor baru karena pasar mencari pasokan alternatif di luar Timur Tengah, dengan pengiriman minyak mentah melonjak di atas 5 juta barel per hari atau level tertinggi sejak September 2025.
Inggris, Eropa, dan Asia bergerak dengan pola berbeda
Di Inggris, ekonomi masih menunjukkan daya tahan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar 0,5 persen pada Februari. Sektor jasa menjadi penggerak utama dan menopang aktivitas ekonomi selama empat bulan berturut-turut, meski tantangan global tetap membayangi.
Bank Sentral Eropa atau ECB diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada Juni. Langkah itu diarahkan untuk meredam inflasi yang ikut terdorong oleh ketegangan geopolitik di Iran, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi kawasan.
Dari Asia, ekonomi China pada kuartal pertama tercatat pulih lebih baik dari perkiraan. Penguatan itu ditopang sektor manufaktur dan ekspor, walau belanja konsumen domestik masih terlihat lemah dan belum sepenuhnya ikut mengangkat pemulihan.
Peta ekonomi global ikut berubah
Perubahan sentimen pasar juga terlihat dari nilai pasar saham Taiwan yang berhasil melampaui Inggris. Minat terhadap perusahaan teknologi membuat kapitalisasi pasar Taiwan mencapai US$4,14 triliun, sekaligus menempatkannya sebagai pasar saham terbesar ketujuh di dunia.
Di Afrika sub-Sahara, Republik Demokratik Kongo diprediksi menyalip Ethiopia sebagai ekonomi terbesar kelima tahun ini. IMF menilai pertumbuhan itu didorong oleh kuatnya sektor pertambangan, sementara posisi teratas kawasan masih dipegang Afrika Selatan, disusul Nigeria, Angola, dan Kenya.
Revisi proyeksi IMF menegaskan bahwa arah ekonomi global kini sangat sensitif terhadap guncangan energi dan risiko geopolitik. Dengan inflasi yang kembali naik dan pasokan minyak yang menjadi perhatian utama, banyak negara harus bersiap menghadapi pertumbuhan yang lebih lambat dan kondisi pasar yang lebih tidak pasti.







