Pemerintah Amerika Serikat menerbitkan izin sementara yang memungkinkan pembelian minyak mentah Rusia untuk menahan risiko lonjakan harga bahan bakar global. Kebijakan ini muncul setelah berakhirnya pengecualian sanksi sebelumnya pada 11 April dan di tengah gejolak pasar energi yang masih sensitif terhadap gangguan pasokan.
Departemen Keuangan AS menetapkan lisensi itu hanya untuk minyak mentah Rusia yang telah dimuat ke kapal tanker pada atau sebelum 17 April 2026. Langkah tersebut memberi ruang transisi di pasar, meski sebelumnya Menteri Keuangan Scott Bessent sempat menyampaikan bahwa izin umum untuk penjualan minyak Rusia dan Iran tidak akan diperbarui.
Tekanan harga minyak masih membayangi pasar
Lonjakan harga minyak dunia sebelumnya dipicu oleh konflik di Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Jalur itu dikenal sebagai rute penting karena membawa seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut cepat memicu kekhawatiran pasokan.
Meski Selat Hormuz dilaporkan mulai dibuka kembali untuk pengiriman komersial, pasar masih bergerak hati-hati. Harga minyak mentah Brent sempat turun 9 persen ke level US$90 per barel setelah muncul harapan bahwa pasokan bisa kembali lebih stabil.
Kritik terhadap kebijakan Washington
Keputusan AS itu langsung menuai sorotan dari kalangan analis. Direktur Utama Obsidian Risk Advisors, Brett Erickson, menilai pengecualian impor minyak mentah Rusia sebelumnya tidak banyak membantu menenangkan pasar energi global.
" pengecualian impor minyak mentah Rusia sebelumnya gagal menenangkan pasar energi global secara signifikan, tetapi justru menghasilkan keuntungan besar bagi Rusia," kata Brett Erickson.
Menurut Erickson, kebijakan semacam itu justru melemahkan rezim sanksi yang selama ini diarahkan untuk menekan ekonomi Moskwa sebagai respons atas invasi ke Ukraina. Ia juga menyebut langkah terbaru Washington sebagai keputusan yang memberi keuntungan kepada lawan politiknya.
" Kini Trump memberikan hadiah kepada musuh-musuh kita. Washington terus membayar harga mahal untuk bantuan ekonomi yang minim," ujar Erickson.
Langkah sementara dari OFAC
Izin yang diterbitkan Kantor Pengawasan Aset Asing atau OFAC itu berlaku hingga 16 Mei 2026. Aturan tersebut hanya mencakup minyak mentah Rusia yang sudah berada di atas tanker pada atau sebelum 17 April 2026, sehingga ruang lingkupnya tetap dibatasi.
Ketentuan ini juga tidak melibatkan transaksi yang berkaitan dengan Korea Utara, Kuba, serta wilayah tertentu di Ukraina yang masih dalam sengketa. Pembatasan itu menunjukkan bahwa Washington tetap berusaha menjaga garis sanksi tertentu di tengah kebutuhan untuk meredam gejolak harga energi.
Pembicaraan diplomatik masih berjalan
Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengonfirmasi adanya perkembangan dalam komunikasi diplomatik terkait situasi energi global. Ia menyebut telah terjadi "beberapa diskusi yang sangat baik" dan menambahkan bahwa pembicaraan dengan Iran masih akan terus berlanjut dalam waktu dekat.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa AS tidak hanya bergerak melalui jalur sanksi, tetapi juga terus membuka ruang dialog. Dalam kondisi ketika pasokan minyak dunia sangat peka terhadap konflik dan keputusan politik, kebijakan sementara seperti ini berpotensi menjadi alat untuk menjaga stabilitas pasar tanpa sepenuhnya meninggalkan tekanan diplomatik kepada Rusia dan Iran.
