Gen Z Bawa Orang Tua Ke Meja Negosiasi Gaji Pertama, Momen Mandiri Yang Justru Tak Mandiri

Generasi Z semakin sering melibatkan orang tua saat memasuki dunia kerja, termasuk ketika harus menegosiasikan gaji pertama. Survei platform karier Zety yang dilansir Money menunjukkan sekitar 29 persen responden dari kalangan Gen Z meminta keterlibatan orang tua dalam negosiasi gaji awal mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa proses mencari kerja bagi sebagian anak muda tidak lagi berjalan sepenuhnya sendiri. Dukungan keluarga kini bahkan ikut masuk ke tahap yang biasanya dianggap sangat personal, yaitu pembahasan kompensasi dengan perusahaan.

Negosiasi gaji jadi momen krusial

Bagi banyak pekerja muda, tawar-menawar gaji masih terasa canggung dan rumit. Padahal, keputusan yang diambil pada tahap awal karier dapat memengaruhi pendapatan dalam jangka panjang secara signifikan.

Investopedia mengutip data yang menyebut bahwa kegagalan menegosiasikan upah pertama bisa memangkas potensi pendapatan seumur hidup hingga 1 juta dollar AS sampai 1,5 juta dollar AS. Besaran itu muncul karena gaji awal kerap menjadi dasar untuk kenaikan upah dan bonus di tahun-tahun berikutnya.

Meski demikian, lebih dari separuh pekerja tercatat tidak mencoba bernegosiasi saat menerima penawaran kerja. Data yang sama juga menunjukkan bahwa dari mereka yang berani menawar, 78 persen berhasil memperoleh penawaran yang lebih baik.

Bentuk bantuan orang tua berbeda-beda

Keterlibatan orang tua dalam proses rekrutmen tidak selalu berarti mereka berbicara langsung dengan perusahaan. Dalam survei tersebut, 18 persen responden hanya meminta nasihat, sementara 10 persen meminta orang tua turun langsung berbicara dengan pihak pemberi kerja.

Di tahap lain, bantuan keluarga juga terlihat dalam pekerjaan administratif. Sebanyak 44 persen Gen Z mengaku dibantu orang tua saat menyusun atau mengedit CV, dan 21 persen melibatkan keluarga untuk berkomunikasi langsung dengan calon atasan.

Pola itu menunjukkan bahwa peran keluarga meluas dari sekadar memberi dorongan moral menjadi dukungan praktis dalam proses mencari kerja. Bagi sebagian kandidat muda, kehadiran orang tua dipandang bisa membantu mereka menghindari kesalahan yang dianggap mahal di awal karier.

Kurangnya pembekalan membuat negosiasi terasa asing

Pakar karier Jasmine Escalera menjelaskan bahwa banyak anak muda masuk ke pasar kerja tanpa pelatihan formal tentang cara membela diri dalam urusan kompensasi. Menurut dia, kurangnya pendidikan soal gaji, tunjangan, dan advokasi diri membuat negosiasi terasa tidak nyaman bagi banyak kandidat muda.

“Sebagian besar memasuki dunia kerja tanpa pendidikan formal tentang kompensasi, tunjangan, atau cara membela diri, yang membuat negosiasi terasa tidak nyaman dan asing,” kata Jasmine.

Ia juga menilai wajar jika Gen Z mengandalkan orang yang lebih berpengalaman untuk menghadapi percakapan penting seperti itu. Ketika seseorang belum pernah diajari cara menavigasi proses tersebut, bantuan dari sosok yang lebih percaya diri sering terasa seperti pilihan paling aman.

Tekanan ekonomi ikut mendorong ketergantungan

Selain faktor pengalaman, tekanan ekonomi juga berperan besar dalam tingginya keterlibatan keluarga. Hampir separuh Gen Z dewasa masih mendapat dukungan finansial dari orang tua untuk kebutuhan dasar seperti konsumsi dan tempat tinggal.

Kondisi ini membuat batas antara kemandirian dan ketergantungan menjadi lebih kabur. Saat biaya hidup terasa berat dan gaji awal relatif rendah, negosiasi pekerjaan pertama ikut dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga stabilitas finansial sejak awal.

Meski memberi rasa aman, keterlibatan orang tua tetap menyimpan dilema profesional. Perusahaan dapat menilai kandidat belum sepenuhnya siap mengambil keputusan sendiri, terlebih jika keluarga ikut campur terlalu jauh dalam proses komunikasi dengan perekrut.

Survei juga menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen responden Gen Z merasa malu jika orang tua mereka menghubungi perekrut tanpa izin terlebih dahulu. Temuan ini memperlihatkan bahwa meski ada rasa nyaman dari dukungan keluarga, sebagian anak muda tetap menjaga batas agar terlihat mandiri di mata calon pemberi kerja.

Pada akhirnya, fenomena ini menggambarkan transisi menuju kemandirian finansial yang berlangsung lebih lambat bagi sebagian Gen Z. Di tengah ketidakpastian biaya hidup dan pentingnya gaji awal, keluarga masih menjadi penopang utama saat generasi muda menghadapi salah satu percakapan paling menentukan dalam karier mereka.

Terkait