BUMI Pindah Haluan ke Emas, Tambah Modal Lewat Mach Energy untuk Perkuat Kendali Baru

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mulai menggeser arah bisnisnya dari batu bara termal ke mineral bernilai lebih tinggi, terutama emas dan tembaga. Pergeseran ini terlihat dari perubahan identitas visual perusahaan serta penguatan struktur kepemilikan melalui Mach Energy (Hongkong) Limited.

Berdasarkan laporan Bursa Efek Indonesia, Mach Energy kini memegang 45,78 persen saham BUMI dan berperan sebagai perusahaan patungan antara Grup Salim dan Grup Bakrie. Struktur ini menandai peralihan dari kendali tunggal ke kendali bersama, yang ditujukan untuk memperkuat kapasitas keuangan dan operasional perusahaan.

Langkah strategis di tengah perubahan bisnis

Perubahan fokus BUMI tidak hanya tercermin dari komposisi pemegang saham, tetapi juga dari arah investasi yang mulai lebih selektif. Perusahaan tampak ingin memperbesar porsi bisnis non-batu bara dengan basis aset yang dinilai punya potensi margin lebih menarik.

Keterlibatan Anthoni Salim juga terlihat lewat Treasure Global Investments Limited yang masih memegang 3,18 persen saham. Di sisi lain, sejumlah institusi keuangan global seperti UBS Switzerland AG, GLAS Trust (Singapore) Ltd, dan Bank of Singapore Limited juga tercatat memiliki kepemilikan di atas satu persen.

Bersih-bersih aset untuk dukung ekspansi

BUMI dan entitas anaknya juga melakukan penataan neraca lewat penghapusan buku aset pada pertengahan 2025. Salah satu langkah yang menonjol dilakukan oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), yang menghapus proyek tambang bauksit senilai USD6,47 juta karena dianggap tidak lagi memberi manfaat ekonomi optimal.

Langkah serupa juga terjadi pada PT Citra Palu Minerals (CPM), yang melepas peralatan pabrik lama yang dinilai tidak efisien. Akibat pelepasan tersebut, perusahaan mencatat rugi pelepasan aset sebesar USD7,37 juta, namun manajemen menilai langkah ini penting untuk menjaga kesehatan struktur keuangan jangka panjang.

Modal diarahkan ke emas

Setelah menata aset yang dinilai kurang produktif, BUMI kini memusatkan belanja modal pada pengembangan sektor emas. Pendanaan disalurkan melalui fasilitas pinjaman jangka panjang untuk CPM dan dipakai menopang operasi tambang bawah tanah.

Dana itu juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan bijih emas dari 200 Tpd menjadi 500 Tpd. Kenaikan kapasitas ini menjadi salah satu proyek paling penting dalam strategi baru BUMI karena langsung terkait dengan potensi produksi dan efisiensi operasional.

Fokus pada proyek dengan margin tinggi

Manajemen BUMI ingin membersihkan sisa beban liabilitas masa lalu agar arus kas dapat dialihkan ke proyek yang memberi imbal hasil lebih tinggi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar diversifikasi, tetapi juga mencoba memperbaiki kualitas portofolio bisnis yang dijalankan.

Di saat yang sama, pasar akan mencermati bagaimana fasilitas 500 Tpd tersebut mulai beroperasi penuh dan seberapa besar kontribusinya terhadap pendapatan induk usaha. Perkembangan di sektor emas akan menjadi tolok ukur penting bagi arah baru BUMI setelah lama identik dengan bisnis batu bara termal.

Exit mobile version