
PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) mencatat laba periode berjalan Rp 9,43 miliar pada kuartal I-2026. Angka ini naik dari Rp 5,87 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh kenaikan penjualan dan perluasan jaringan gerai yang terus berlangsung sejak tahun lalu.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa ekspansi bisnis Fore Kopi mulai memberi kontribusi lebih besar terhadap hasil keuangan perusahaan. Laporan keuangan konsolidasian perseroan yang dikutip dari Money serta keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Senin (20/4/2026) memperlihatkan peningkatan pada hampir seluruh indikator utama.
Penjualan naik tajam
Penopang utama laba adalah kenaikan penjualan neto yang mencapai Rp 444,46 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Jumlah itu melonjak dari Rp 291,69 miliar pada kuartal I-2025, sehingga memperkuat pendapatan perusahaan di tengah ekspansi gerai yang agresif.
Kenaikan penjualan ikut mengangkat laba bruto Fore Kopi menjadi Rp 273,67 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bruto perseroan masih berada di level Rp 181,04 miliar.
Meski demikian, beban operasional juga ikut meningkat menjadi Rp 257,41 miliar. Tekanan biaya itu belum menghapus perbaikan kinerja, karena perusahaan tetap mampu menjaga laba operasional di level positif.
Laba operasional dan pajak masih terjaga
Berdasarkan data keterbukaan informasi, laba operasional Fore Kopi tercatat Rp 16,26 miliar. Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan berada di angka Rp 15,18 miliar.
Setelah dikurangi beban pajak penghasilan neto sebesar Rp 5,75 miliar, laba bersih yang dibukukan perseroan mencapai Rp 9,43 miliar. Fore Kopi juga mencatat penghasilan komprehensif lain dari selisih kurs, sehingga laba komprehensifnya naik menjadi Rp 9,55 miliar.
Perbaikan ini menjadi sinyal bahwa pertumbuhan penjualan berhasil menutup kenaikan beban yang muncul seiring ekspansi bisnis. Kondisi tersebut juga memberi ruang bagi perseroan untuk memperbaiki struktur keuangannya secara bertahap.
Aset stabil, rugi akumulasi menyusut
Di sisi neraca, total aset perusahaan per 31 Maret 2026 tercatat stabil di Rp 1,16 triliun. Jumlah itu terdiri atas aset lancar senilai Rp 424,54 miliar dan aset tidak lancar Rp 739,71 miliar.
Posisi ekuitas perusahaan ikut membaik karena akumulasi rugi menyusut menjadi Rp 168,37 miliar. Sebelumnya, pada akhir tahun lalu, akumulasi rugi masih berada di Rp 177,80 miliar.
Meski begitu, kas dan bank turun menjadi Rp 253,80 miliar dari Rp 327,53 miliar pada Desember 2025. Penurunan ini terjadi karena dana dialokasikan untuk aktivitas investasi serta pembayaran kewajiban keuangan.
Ekspansi gerai terus berlanjut
Hingga penutupan kuartal pertama tahun ini, Fore Kopi telah mengoperasikan 335 kedai kopi di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut bertambah dari 316 gerai pada akhir tahun 2025 dan menunjukkan laju ekspansi yang masih aktif.
Di luar pasar domestik, perseroan juga menjalankan empat gerai di Singapura. Langkah ini memperlihatkan bahwa Fore Kopi tidak hanya fokus memperkuat jaringan di Indonesia, tetapi juga mulai membangun pijakan di luar negeri.
Diversifikasi usaha juga terus berjalan melalui lini bisnis donat. Hingga kini, unit bisnis tersebut telah memiliki tujuh gerai dan menjadi bagian dari strategi perusahaan setelah IPO pada April 2025.
Dengan kenaikan penjualan, laba yang membaik, serta jaringan gerai yang semakin luas, Fore Kopi memasuki kuartal berikutnya dengan basis operasional yang lebih besar. Perkembangan ini akan menjadi perhatian pasar seiring kemampuan perseroan menjaga pertumbuhan di tengah beban operasional yang ikut naik.









