Bank Mandiri Waspadai Gejolak Global, Strategi Mitigasi Diperketat di Tengah Tekanan Daya Beli

Author: Qoo Media

Bank Mandiri (BMRI) menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi risiko yang masih membayangi sisa tahun 2026, mulai dari ketidakpastian global hingga tekanan dari sisi daya beli domestik. Perseroan menilai kondisi tersebut bisa memengaruhi kinerja perbankan, terutama jika volatilitas pasar, harga komoditas, dan biaya energi bergerak tidak stabil.

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan dinamika global masih menjadi perhatian utama karena eskalasi geopolitik dapat mengganggu rantai pasok dan memicu gejolak di pasar keuangan. “Arah suku bunga ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi, stabilitas nilai tukar, serta dinamika global,” ujar Riduan dalam konferensi pers, Selasa (21/4/2026).

Risiko global dan tekanan domestik

Bank Mandiri juga mencermati tekanan harga energi dan pelemahan daya beli masyarakat sebagai faktor yang dapat memengaruhi profil risiko debitur. Dampaknya dinilai paling terasa pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan harga komoditas global dan pelemahan konsumsi.

Di tengah kondisi itu, perseroan memilih memperkuat langkah antisipasi melalui pengelolaan portofolio yang lebih ketat. Bank Mandiri menyatakan akan tetap selektif menyalurkan kredit ke sektor yang dipandang prospektif dan tahan terhadap tekanan eksternal.

Strategi mitigasi yang disiapkan

Bank pelat merah ini menempatkan perluasan ekosistem Mandiri Group sebagai salah satu fokus utama. Langkah itu diarahkan untuk mendorong transaksi nasabah, memperkuat aktivitas layanan, dan mempercepat digitalisasi perbankan.

Perseroan juga menjaga kualitas pertumbuhan dengan memperketat monitoring portofolio dan melakukan stress testing secara berkala. Di saat yang sama, Bank Mandiri menegaskan tidak ingin bertumpu pada spekulasi arah bunga, melainkan menjaga struktur pendanaan, likuiditas, dan komposisi portofolio agar tetap adaptif.

Untuk menopang stabilitas pendanaan, Bank Mandiri terus memperkuat dana murah berbasis transaksi atau CASA. Penguatan ekosistem digital juga diarahkan agar fee-based income tumbuh lebih berulang dan profitabilitas tetap terjaga secara berkelanjutan.

Kinerja masih solid di awal 2026

Di tengah tantangan tersebut, Bank Mandiri tetap membukukan kinerja yang solid pada kuartal I/2026. Laba bersih konsolidasian perusahaan mencapai Rp15,4 triliun atau tumbuh 16,6% secara tahunan, ditopang pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga yang stabil.

Riduan menyebut capaian itu tidak lepas dari kondisi makroekonomi domestik yang relatif kuat. Ia menilai ekonomi Indonesia masih mampu menjaga momentum ekspansi meski tekanan global tetap tinggi akibat tensi geopolitik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 disebut berada di kisaran 5,5%, sementara belanja pemerintah mencapai sekitar Rp815 triliun dan ikut mendorong aktivitas ekonomi. Kebijakan moneter yang akomodatif namun tetap prudent juga membantu menjaga inflasi di kisaran 3% dan stabilitas suku bunga.

Kualitas aset dan modal tetap kuat

Dari sisi ketahanan neraca, kualitas aset Bank Mandiri masih terjaga hingga Maret 2026. Rasio kredit bermasalah atau NPL berada di bawah 1%, sedangkan coverage ratio mencapai 245%.

Bantalan modal perseroan juga masih tebal dengan rasio kecukupan modal atau CAR di atas 19%. Posisi ini memberi ruang bagi Bank Mandiri untuk menghadapi berbagai skenario risiko, termasuk jika tekanan eksternal kembali meningkat.

Sejalan dengan itu, kredit Bank Mandiri tumbuh 17,4% secara tahunan hingga kuartal I/2026, hampir dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan industri. Di tengah kondisi likuiditas yang tetap terjaga dan permintaan pembiayaan sektor riil yang masih tumbuh, perseroan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung UMKM, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan menjalankan agenda strategis pemerintah.

Source: finansial.bisnis.com
Terbaru