BBRI, SIDO, dan LPPF Siapkan Dividen Akhir April 2026, Investor Dibuat Menunggu Tanggal Kunci

Author: Qoo Media

Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mulai mengatur jadwal pembagian dividen tunai dari laba tahun buku 2025. Fokus pasar kini tertuju pada emiten perbankan dan ritel yang menyiapkan pembayaran pada akhir April hingga Mei 2026, sehingga investor perlu mencermati tanggal penting yang memengaruhi hak atas dividen.

Di antara yang paling menyita perhatian, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI mengumumkan pembagian dividen tunai dengan nilai total Rp52,1 triliun. Nilai itu setara Rp346 per saham dan disampaikan melalui keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan.

BRI Bagi Dividen dalam Dua Tahap

Manajemen BBRI sebelumnya sudah menyalurkan dividen interim sebesar Rp20,6 triliun atau Rp137 per saham pada 15 Januari 2026. Dengan begitu, sisa dividen tunai yang masih akan dibayarkan mencapai Rp31,47 triliun.

Untuk porsi yang belum dibagikan itu, setiap pemegang saham akan menerima Rp209 per lembar saham. Skema ini menunjukkan bahwa pembagian dividen BBRI dilakukan bertahap dan tetap memberi arus pengembalian kepada investor dalam periode yang sudah ditentukan perusahaan.

Sido Muncul Tetapkan Pembagian dari RUPST

Dari sektor kesehatan, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk atau SIDO juga mengonfirmasi pembagian dividen tunai melalui hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Emiten ini mengalokasikan dividen total Rp441,5 miliar atau setara Rp15 per saham.

Selain nominal dividen, SIDO juga mencatat tingkat imbal hasil atau yield sebesar 2,9 persen. Sebelumnya, perusahaan telah membagikan dividen interim Rp22 per saham pada November 2025, sehingga kebijakan pembagian tahun ini menunjukkan pola distribusi yang relatif agresif kepada pemegang saham.

Data Bloombergtechnoz menyebutkan rasio pembayaran dividen SIDO sepanjang tahun 2025 mencapai 89 persen. Angka tersebut menegaskan besarnya porsi laba yang dialihkan menjadi dividen kepada investor dibanding ditahan sebagai saldo laba.

LPPF Siapkan Pembayaran dari Laba Bersih

Di sektor ritel, PT Matahari Department Store Tbk atau LPPF juga menyetujui pembagian dividen tunai senilai Rp556,81 miliar. Dana itu berasal dari 76,76 persen total laba bersih tahun lalu yang tercatat sebesar Rp725,4 miliar.

Bagi investor LPPF, jadwal dividen menjadi perhatian utama karena perusahaan sudah menetapkan tanggal cum date pada 23 April 2026. Satu hari setelahnya, saham LPPF akan memasuki ex date pada 24 April 2026, sebelum masuk ke recording date pada 27 April 2026.

Tanggal Penting yang Perlu Dicermati Investor

Cum date menjadi batas terakhir bagi investor untuk membeli saham agar masih berhak atas dividen. Setelah melewati ex date, saham biasanya sudah diperdagangkan tanpa hak dividen, sehingga pembelian pada periode itu tidak lagi memberi hak atas pembagian yang sama.

Recording date juga penting karena pada tanggal tersebut perusahaan mencatat nama-nama pemegang saham yang berhak menerima dividen. Dalam konteks ini, investor perlu memastikan kepemilikan saham sudah tercatat sesuai jadwal agar hak dividen tidak gugur.

Pembagian dividen akhir April 2026 menunjukkan bahwa sejumlah emiten masih menjaga komitmen pengembalian nilai kepada pemegang saham di tengah evaluasi kinerja tahun buku 2025. Dengan jadwal yang sudah diumumkan, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pelaksanaan pembayaran dan respons harga saham menjelang periode cum date dan ex date.

Terbaru