
Rupiah menutup perdagangan sore dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat di Jakarta pada Rabu, 21 April 2026. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah berada di level Rp17.143 per dolar AS, menguat 0,15 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.168.
Pergerakan ini terjadi di tengah melemahnya indeks dolar dan turunnya harga komoditas energi dunia. Di saat yang sama, pasar juga mencermati langkah pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi yang ikut memberi dukungan bagi mata uang Garuda.
Dukungan dari sentimen global dan domestik
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah memanfaatkan kombinasi sentimen eksternal dan domestik untuk bergerak naik. Namun, ia melihat penguatan itu belum cukup kuat karena tekanan dari isu global masih muncul bergantian.
“Rupiah ditutup menguat walau tidak sebesar di sesi awal,” ujarnya saat dihubungi Suara.com di Jakarta. Ia menambahkan, harapan perdamaian di Timur Tengah kembali memberi tekanan pada rupiah karena pasar cenderung berhati-hati.
Tekanan itu membuat penguatan rupiah terlihat rapuh meski masih berada di jalur positif. Kondisi ini juga membuat pelaku pasar menunggu sinyal yang lebih tegas dari bank sentral.
BI dinilai bisa menjaga momentum
Lukman menyebut rupiah berpeluang melanjutkan penguatan jika Bank Indonesia mengambil langkah yang lebih ketat. Menurut dia, kenaikan suku bunga acuan atau setidaknya sinyal hawkish dari Rapat Dewan Gubernur dapat menjaga momentum yang sudah terbentuk.
“Rupiah berpotensi kembali menguat apabila BI menaikkan suku bunga atau paling tidak memberikan sinyal akan kenaikan dalam waktu dekat,” katanya. Pernyataan itu menunjukkan pasar masih menempatkan kebijakan moneter BI sebagai faktor penentu arah rupiah berikutnya.
Faktor fiskal juga ikut diperhatikan
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tren positif rupiah bisa bertahan jika pemerintah menjaga ketahanan fiskal. Ia menekankan pentingnya peran APBN sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat.
Ibrahim juga menyoroti perlunya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, termasuk pemanfaatan peran Danantara dalam mobilisasi investasi di luar APBN. Dengan dukungan itu, rupiah dinilai memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan penguatannya.
Rupiah bergerak searah mata uang Asia
Penguatan rupiah tidak terjadi sendirian karena sejumlah mata uang Asia juga bergerak naik terhadap dolar AS. Dolar Taiwan mencatat penguatan terbesar di kawasan dengan kenaikan 0,29 persen setelah ditutup pada posisi yang lebih kuat.
Peso Filipina naik 0,07 persen, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,05 persen dan yuan China yang terapresiasi 0,02 persen. Dolar Hong Kong juga mencatat kenaikan tipis 0,001 persen terhadap the greenback.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru melemah dalam perdagangan sore itu. Rupee India turun paling dalam sebesar 0,67 persen, sementara baht Thailand dan dolar Singapura sama-sama terkoreksi 0,16 persen.
Yen Jepang melemah 0,13 persen, sedangkan ringgit Malaysia turun tipis 0,02 persen terhadap dolar AS. Pergerakan yang beragam ini menunjukkan pasar masih dipengaruhi kombinasi sentimen global, arah kebijakan bank sentral, dan kondisi domestik masing-masing negara.
Source: www.suara.com








