KAI Tambah Female Seat Map, Respons Atas 20 Keluhan Pelecehan Selama Tiga Bulan

PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkenalkan fitur Female Seat Map pada aplikasi Access by KAI untuk memperkuat rasa aman dan nyaman bagi penumpang perempuan. Fitur ini menampilkan peta kursi yang membantu pengguna melihat tempat duduk yang sudah dipesan oleh penumpang perempuan dengan penanda warna pink.

Melalui tampilan tersebut, pelanggan perempuan dapat memilih kursi yang berdekatan dengan sesama penumpang wanita saat bepergian dengan kereta antarkota. Sistem ini juga menandai kursi yang ditempati penumpang laki-laki dengan warna abu-abu, sehingga pilihan tempat duduk menjadi lebih jelas sejak awal proses pemesanan.

Didesain untuk kebutuhan yang lebih spesifik

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut pengembangan layanan ini sebagai respons terhadap kebutuhan pelanggan yang semakin beragam. KAI, kata Anne, terus menghadirkan layanan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat, mulai dari fasilitas ramah perempuan, akses ramah anak, hingga sarana ramah disabilitas.

Pernyataan itu menegaskan bahwa inovasi digital tidak berdiri sendiri. KAI menempatkan fitur ini sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat pengalaman perjalanan, terutama bagi penumpang yang membutuhkan rasa aman lebih tinggi saat memilih tempat duduk.

Tidak hanya lewat aplikasi

Selain fitur digital pada Access by KAI, perusahaan juga telah menyiapkan dukungan fisik untuk kelompok penumpang tertentu. Beberapa di antaranya adalah kereta khusus wanita pada layanan Commuter Line dan LRT Jabodebek, serta pemisahan fasilitas toilet berdasarkan gender di kereta api jarak jauh.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa perlindungan dan kenyamanan penumpang perempuan dibangun melalui kombinasi layanan digital dan fasilitas di lapangan. KAI berupaya menghadirkan sistem yang membuat pelanggan dapat merasa lebih tenang sejak proses keberangkatan hingga tiba di tujuan.

Anne juga menekankan pentingnya pengawasan yang lebih kuat di ruang publik transportasi. “KAI terus memperkuat sistem dan pengawasan, sekaligus mengajak pelanggan untuk saling menjaga ruang bersama agar perjalanan tetap aman dan nyaman,” ujarnya.

Pengawasan diperkuat dengan teknologi

Upaya menjaga keamanan penumpang juga ditopang oleh integrasi Command Center dengan Contact Center. Di area stasiun dan di dalam gerbong kereta, KAI menggunakan CCTV Analytics untuk memantau kondisi secara real-time.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa keamanan tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan. KAI memanfaatkan teknologi untuk mempercepat deteksi situasi dan mendukung respons yang lebih tepat ketika ada kondisi yang perlu ditangani.

Anne menyampaikan bahwa perjalanan yang aman lahir dari sistem yang terjaga dan kepedulian bersama. Ia juga mengatakan bahwa KAI ingin setiap pelanggan merasa lebih tenang sejak berangkat hingga sampai tujuan.

Merespons keluhan dan pertumbuhan penumpang

Kebijakan baru ini juga berkaitan dengan data internal KAI yang mencatat 20 keluhan terkait tindakan pelecehan seksual di layanan Commuter Line sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Data itu menjadi salah satu dasar perusahaan untuk memperkuat langkah pencegahan dan perlindungan bagi pelanggan.

Di saat yang sama, KAI Group mencatat kenaikan volume penumpang yang signifikan. Total pelanggan pada kuartal pertama 2026 mencapai 128 juta orang, atau naik 9,97 persen dibandingkan tahun lalu.

Dari jumlah tersebut, Commuter Line melayani 101,3 juta pelanggan dengan pertumbuhan 8,11 persen. Layanan KA jarak jauh dan lokal mencatat 14,5 juta pelanggan dengan kenaikan 18,4 persen, sementara LRT Jabodebek melayani 7,7 juta pelanggan.

KAI Bandara mencatat 1,7 juta pelanggan, Whoosh sebanyak 1,4 juta pelanggan, LRT Sumsel 1 juta pelanggan, dan KA Makassar–Parepare mencapai 75.421 pelanggan. Dengan volume perjalanan yang terus meningkat, inovasi seperti Female Seat Map menjadi salah satu cara KAI menjaga agar layanan tetap relevan dengan kebutuhan penumpang perempuan.

Exit mobile version