Bursa saham Amerika Serikat melemah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4) setelah investor merespons meningkatnya ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran di Timur Tengah. Tekanan pasar muncul bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah Brent yang naik 4,5 persen menjadi US$106,46 per barel.
Indeks S&P 500 turun 0,4 persen setelah sempat tertekan hingga 1,3 persen pada awal sesi. Nasdaq 100 juga terkoreksi 0,6 persen, menandakan sentimen risiko yang masih rapuh di tengah kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik di kawasan yang sensitif bagi jalur انرژی global tersebut.
Ketegangan di Selat Hormuz menekan pasar
Salah satu pemicu utama gejolak datang dari pernyataan Presiden Donald Trump melalui Truth Social. Ia memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menindak tegas setiap kapal Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur perairan vital yang kerap menjadi titik rawan dalam hubungan kedua negara.
Situasi itu makin memanas setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan negaranya siap menghadapi kemungkinan perang terbuka dengan Iran. Kombinasi sinyal politik dan militer tersebut membuat investor kembali berhati-hati terhadap risiko gangguan pasokan energi dan dampaknya ke aset berisiko.
Sameer Samana, kepala ekuitas global dan aset riil di Wells Fargo Investment Institute, menilai masalah utama tetap berpusat di Selat Hormuz. Ia menyebut sulit melihat jalan menuju kesepakatan jika Amerika Serikat dan Iran tetap mempertahankan posisi yang sama-sama keras.
“Masalah utamanya tetap berada di Selat Hormuz. Sulit untuk melihat bagaimana AS dan Iran bisa mencapai kesepakatan jika kedua belah pihak mempertahankan posisi maksimalis mereka,” ujar Samana.
Ia juga memperkirakan ketegangan belum akan mereda dalam waktu dekat. Menurut dia, eskalasi kemungkinan masih berlanjut sebelum pasar melihat ruang stabilisasi yang lebih jelas.
Harga minyak naik, saham energi dan maskapai tertekan
Kenaikan harga minyak memberi sinyal bahwa pasar mulai menghitung ulang risiko pasokan dari Timur Tengah. Lonjakan Brent ke US$106,46 per barel memperkuat kekhawatiran biaya energi akan meningkat dan menekan sejumlah sektor yang sensitif terhadap harga bahan bakar.
Dampaknya terlihat pada saham Southwest Airlines Co yang turun 4,1 persen karena biaya bahan bakar yang membengkak. Honeywell International Inc juga turun 2,6 persen setelah pasar mencermati gangguan pada unit otomatisasinya yang melayani industri energi di Timur Tengah.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan geopolitik tidak hanya memengaruhi indeks utama, tetapi juga mulai merembet ke emiten yang sangat bergantung pada kelancaran rantai pasok dan biaya operasional. Dalam situasi seperti ini, sektor transportasi dan industri cenderung lebih cepat merasakan efek dari volatilitas energi.
Teknologi memberi penyangga terbatas
Di tengah sentimen negatif, sektor teknologi sempat memberi sedikit penyangga bagi pasar. Saham Texas Instruments Inc melonjak 19 persen setelah laporan laba perusahaan itu memicu respons positif dari investor.
Steve Sosnick dari Interactive Brokers menilai kinerja semikonduktor yang kuat membantu meredam tekanan akibat kekhawatiran seputar Selat Hormuz. Namun, penguatan satu saham besar belum cukup untuk mengimbangi tekanan yang datang dari isu geopolitik dan kenaikan harga minyak.
Saham Tesla Inc turun 3,6 persen setelah mengumumkan rencana belanja modal lebih dari US$25 miliar untuk pengembangan kecerdasan buatan dan robotika pada 2026. IBM juga melemah tajam 8,3 persen karena pasar mencemaskan kinerja unit perangkat lunaknya di tengah disrupsi teknologi, sehingga memperlihatkan bahwa seleksi saham masih sangat ketat meski sentimen terhadap sektor tertentu sempat membaik.
Pergerakan Wall Street ini menegaskan bahwa eskalasi diplomatik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membayangi aset global, terutama ketika pasar energi kembali bergejolak dan investor menimbang ulang prospek pertumbuhan serta risiko inflasi.
