PT Bank Central Asia Tbk menilai pelemahan rupiah belum memberi dampak signifikan terhadap kredit perseroan. Penilaian itu muncul setelah rupiah sempat tertekan hingga menembus Rp17.305 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026), namun BCA menyebut struktur portofolio kreditnya masih cukup aman.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menjelaskan bahwa porsi kredit valuta asing di bank tersebut masih kecil. Portofolio kredit valas disebut hanya sekitar 4,9 persen dari total kredit, sehingga gejolak kurs tidak langsung mengganggu fundamental kredit perusahaan.
Porsi valas masih rendah
Komposisi kredit yang didominasi mata uang domestik membuat BCA tidak terlalu rentan terhadap perubahan nilai tukar. Dengan struktur seperti itu, volatilitas rupiah dinilai tidak menimbulkan tekanan besar terhadap kualitas kredit maupun kinerja perseroan.
John menegaskan bahwa dampaknya saat ini masih sangat terbatas. Dalam konferensi pers kinerja kuartal I 2026, ia menyampaikan bahwa pelemahan rupiah tetap berada dalam batas yang dapat dikelola oleh bank.
“Jadi kecil sekali saat ini [dampaknya], dan kondisinya saat ini masih terjaga dengan baik,” ujar John Kosasih. Ia menambahkan bahwa jika rupiah melemah, efeknya terhadap BCA tetap tidak signifikan.
Rupiah melemah, pasar tetap bergerak
Di pasar, rupiah sempat terkoreksi 0,76 persen hingga menyentuh Rp17.305 per dolar AS pada pukul 09:40 WIB. Meski pergerakan itu cukup tajam, BCA menilai kondisi fundamental perbankan tetap terjaga.
Pada pembukaan perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah tercatat menguat terbatas 0,09 persen ke level Rp17.279 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi di tengah indeks dolar AS yang masih berada di kisaran 98 dan harga minyak mentah global yang terus naik.
Eksportir bisa mendapat keuntungan sesaat
Bagi pelaku usaha, pelemahan rupiah tidak selalu dipandang negatif. John menyebut kondisi kurs di level Rp17.300 justru bisa memberi ruang margin yang lebih baik bagi eksportir karena pendapatan valas mereka berubah menjadi rupiah dengan nilai yang lebih tinggi.
“Kalau seandainya mereka adalah eksportir, tentu saja dengan adanya perlemahan rupiah ini malah menguntungkan,” kata John. Namun ia juga mengingatkan bahwa keuntungan itu bersifat terbatas dan tidak menghapus kebutuhan akan kepastian nilai tukar.
Bagi dunia usaha, stabilitas kurs tetap menjadi faktor yang paling diharapkan. Kepastian nilai tukar menentukan biaya operasional, perencanaan keuangan, dan keputusan bisnis yang lebih panjang.
Stabilitas kurs masih jadi kebutuhan utama
Walau pelemahan rupiah bisa memberi keuntungan pada sebagian eksportir, pelaku usaha umumnya tetap memilih kondisi yang stabil. Fluktuasi yang terlalu lebar dapat mempersulit penyusunan anggaran dan meningkatkan ketidakpastian di lapangan.
Pandangan itu sejalan dengan penjelasan BCA bahwa sektor perbankan perlu menjaga portofolio kredit agar tetap seimbang. Selama porsi valas rendah dan risiko nilai tukar terkendali, tekanan terhadap kredit dinilai tetap minim.
BCA pun menegaskan bahwa kondisi saat ini masih aman untuk menjaga kualitas pembiayaan. Dalam situasi rupiah yang bergerak fluktuatif, fokus utama bank tetap pada pengelolaan risiko agar kredit tetap sehat dan kebutuhan nasabah bisa terpenuhi secara berkelanjutan.
